RM.id Rakyat Merdeka - Belum banyak yang tahu kalau Indonesia adalah penghasil nikel sulfat terbesar di dunia. Selama empat hari, lima pimpinan media nasional, termasuk Rakyat Merdeka berkunjung ke Pulau Obi. Melihat tempat penambangan dan pabrik nikel milik Harita Group. Dari tempat inilah, perusahaan otomotif listrik dunia, mendapat pasokan bahan baku baterei kendaraannya. Berikut laporannya.
Pulau Obi adalah surga nikel dunia. Terletak di bagian selatan Halmahera, masuk wilayah Provinsi Maluku Utara. Luasnya sekitar 2.500 kilometer persegi atau 4 kali wilayah Jakarta. Untuk mencapai Pulau Obi, aksesnya hanya bisa melalui laut menggunakan speedboat atau kapal-kapal feri ukuran menengah. Membutuhkan waktu sekitar 2,5 sampai 3 jam pelayaran dari Pulau Bacan, pulau yang cukup dekat dengan Obi dan memiliki fasilitas bandara. Ombak dan angin kencang sepanjang perjalanan, membuat laju kapal menuju Obi, akan terasa cukup bergoyang.
Selain Rakyat Merdeka, ada empat pimpinan media lainnya yang ikut dalam perjalanan ini. Kami terbang bersama Tim Harita dari Jakarta menuju Ternate. Lalu berlanjut menggunakan pesawat baling-baling ke Oesman Sadik Airport di kota Labuhan, terletak di sudut Pulau Bacan. Perjalanan berikutnya barulah menuju Pulau Obi, melalui jalur laut.
Baca juga : Dimas P Wardhana: Ekonomi Lagi Sulit Bisa Bebani Rakyat
Di pulau ini, Harita mengantongi izin usaha seluas 5 ribuan hektar. Menambang bijih nikel sejak 2010, dan mengekspornya mentah. Namun tahun 2014, Pemerintah mengeluarkan kebijakan hilirisasi, maka Harita pun mulai membangun pabrik peleburan (smelter). Tiga tahun kemudian, pabrik tersebut berhasil memurnikan bijih nikel kadar tinggi (saprolit) menjadi feronikel (bahan baku pembuatan baja tahan karat). Dan empat tahun berikutnya (atau sekitar 2017), Harita berhasil mengolah nikel kadar rendahnya (limonit) menjadi nikel sulfat dan kobalt sulfat. Bahan baku penting dalam pembuatan baterei kendaraan listrik.
Saat ini, Harita menjadi pioner dalam pengolahan nikel limonit. Raksasa automotif dunia, banyak yang mendapatkan bahan baku inti untuk baterei kendaraan listriknya dari sini. Teknologi yang digunakan Harita dalam pemurnian limonit juga tergolong paling modern dan ramah lingkungan, yaitu melalui sistem High Pressure Acid Leach (HPAL). Ini adalah teknologi yang pertama digunakan di Asia Tenggara.
Tim Harita mengajak kami berkeliling. Mulai dari areal tambang. Menyaksikan alat-alat berat mengeruk tanah-tanah yang mengandung nikel, dan ditumpahkan ke bak-bak truk pengangkut. Mata orang awam bakal kesulitan membedakan, tanah biasa dengan tanah yang mengandung nikel. Tapi, menurut Younsel Evand Roos (Direktur Operasional Harita Nickel), tanah yang mengandung nikel, warnanya terlihat sekilas kehijau-hijauan. Kerukan untuk mendapatkan limonit sekitar 10-20 meter, sedangkan untuk menambang saprolit sekitar 30-an meter ke dalam tanah. Jadi, penambangan nikel, areanya cukup dangkal. Tak seperti penambangan besi, yang galian kedalaman tanahnya bisa mencapai ratusan meter.
Baca juga : Irma Suryani Chaniago: Dinaikkan Untuk Kategori Mampu
Siang hari itu (Minggu, 24/08/2025), hujan turun cukup deras. Jalanan agak licin, dan jalur basah berkelok. Di beberapa tempat, penambangan dihentikan sementara karena memperhitungkan risiko keselamatan pekerja. Selanjutnya, rombongan mengikuti alur truk pengangkutan menuju smelter. Aktivitas pabrik milik Harita 24 jam nonstop. Pekerjanya terbagi dalam beberapa shift.
Tanah saprolit masuk ke pabrik RKEF (Rotary Klin Electric Furnance). Untuk dikeringkan, dikalsinasi dan dilebur dalam tungku dengan panas mencapai 1.600 derajat Celcius, sampai menghasilkan ferronikel cair. Bahan cair ini lalu dicetak menjadi bentuk-bentuk seperti bantal, dan didinginkan. “Dalam proses pendinginan ferronickel, pasti muncul uap putih. Sebagai reaksi saat air disiramkan ke material yang sangat panas. Kadang disalahartikan sebagai asap pencemaran atau polusi. Padahal ini adalah uap,” kata Tonny Gultom (Direktur Health, Safety and Environment) Harita Nickel. Tiap bantal nikel, beratnya sekitar 24 kilogram.
Harita saat ini memiliki 12 tungku produksi, dengan kapasitas mencapai 120 ribu ton nikel pertahun. Feronikel penting dalam pembuatan alat-alat baja tahan karat, semisal material stainless steel, sendok garpu dan alat lainnya. Semua hasil produksi ini diekspor, karena industri dalam negeri belum ada yang menyerapnya.
Baca juga : Sekolah Rakyat, Kopdes, Dan MBG Menuai Pujian
Truk lainnya, yang mengangkut Tanah Limolit masuk ke pabrik HPAL. Untuk dicuci, dimurnikan, dikentalkan dan diekstrak dalam bejana yang disebut autoclave. Nikelnya dilarutkan dalam asam sulfat, dan bahan lainnya akan mengendap. Cairan nikel lalu diproses MHP (Mixed Hydroxide Precipitate) menghasilkan nikel dan kobalt. Dua bahan inilah yang dipakai sebagai bahan baku penting baterei kendaraan listrik. Di pabrik ini, rombongan diperlihatkan hasil peleburan nikel sulfat yang warnanya biru tosca dan kobalt sulfat yang warnanya kemerahan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.