Pasar tradisional sejak dahulu merupakan jantung kehidupan ekonomi lokal di Indonesia. Ia bukan sekadar lokasi jual-beli; pasar adalah arena sosial, budaya, dan ekonomi yang menenun interaksi masyarakat, menyediakan penghidupan bagi jutaan orang, serta menjaga keragaman budaya konsumsi dan produksi lokal. Namun saat ini, seperti banyak dikabarkan berbagai media, pasar tradisional mulai meredup.
Dorongan modernitas, pertumbuhan pasar dan pusat perbelanjaan modern, perubahan preferensi konsumen, dan tekanan globalisasi telah mengikis keunggulan-keunggulan historis pasar tradisional. Maka wajar jika publik bertanya apa sesungguhnya yang tengah terjadi?
Untuk menjawabnya, perlu kita ulas terlebih dahulu apa itu pasar tradisional dalam kerangka akademik-sosiologis, mulai dari kelebihan dan fungsi sosial-ekonominya, serta data empiris yang menunjukkan tren dalam beberapa tahun terakhir.
Pasar Tradisional sebagai Lembaga Sosial
Dalam literatur sosiologi dan ekonomi, pasar adalah ruang pertukaran barang dan jasa—tidak hanya sebagai transaksi ekonomi, tetapi juga sebagai institusi sosial yang memediasi distribusi, budaya, dan interaksi antar warga. Pasar tradisional mencakup elemen-elemen berikut:
• Pelaku: produsen kecil (petani, nelayan, UMKM) dan pedagang kecil serta konsumen lokal.
• Ruang dan cara berinteraksi: transaksi langsung, tawar-menawar, informalitas, kedekatan sosial, tradisi, dan budaya dagang lokal.
Baca juga : Pasar Jaya Klaim Telah Revitalisasi 67 Pasar Tradisional Di Jakarta
• Nilai budaya: produk budaya lokal, seperti kuliner tradisional, kerajinan, serta kebiasaan berbelanja yang bersifat komunitas.
• Fungsi ekonomi: penyediaan lapangan kerja; membantu distribusi barang kebutuhan pokok; menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah; sumbangan terhadap pendapatan lokal (retribusi/pajak); dan ketahanan pangan lokal melalui rantai pasokan lokal.
Lalu, apa yang membuktikan pasar hari ini tidak “Sama lagi”?
Beberapa fakta dan indikator berikut menunjukkan bahwa pasar tradisional mengalami tekanan dan dalam beberapa kasus, meredup. Pertama, Turunnya pertumbuhan pendapatan retribusi pasar / kontribusi terhadap PAD
Sebagai contoh studi di Kabupaten Tojo Una-Una (Sulawesi Tengah) menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan penerimaan retribusi pasar tahun 2019-2023 adalah −11,79 %, dengan efektivitas pemungutan retribusi pasar sebesar rata-rata sekitar 59,58 %. Kontribusi retribusi pasar terhadap total retribusi daerah dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menurun, dari sekitar 6,9 % pada 2019 menjadi 1,9 % pada 2023. Fluktuasi dan penurunan jumlah pembeli serta aktivitas pasar saat pandemi COVID-19.
Bahkan diinformasika bahwa banyak pedagang yang mengalami penurunan pendapatan sekitar 70-90 % dibanding kondisi sebelum pandemi, dan beberapa terpaksa tutup.
Kedua, efektivitas retribusi yang rendah & los / kios kosong. Di beberapa daerah, banyak los atau kios pasar tradisional yang tidak terisi, sehingga potensi pendapatan retribusi tidak maksimal. Biaya operasional tinggi memperkecil margin retribusi yang bisa disetor ke pemerintah daerah.
Baca juga : Nama Besar Xabi Alonso Jadi Taruhan
Sementara pesaing yang semakin kuat, yakni pasar modern dan e-commerce. Transformasi perilaku konsumen: mencari kenyamanan, kebersihan, fasilitas, dan kemudahan pembayaran digital. Pasar modern dan toko ritel swalayan menawarkan hal-hal tersebut, sehingga konsumen menurun ke pasar tradisional.
Mencari Jawaban Meredupnya Pasar Tradisional
Secara sosiologis jika kita perdalam berikut akar permasalahan utama meredupnya institusi pasar tradisional ini: Pertama, Modernisasi dan Urbanisasi. Harus diakui bahwa urbanisasi memicu pertumbuhan pusat perbelanjaan modern yang menyuguhkan pengalaman konsumen yang lebih “bersih”, nyaman, dan dengan fasilitas modern. Nilai-nilai budaya sosial seperti keramaian, interaksi langsung, dan tawar-menawar tidak lagi menjadi pilihan utama bagi kelas menengah ke atas.
Kedua, Perubahan Preferensi Konsumen. Konsumen masa kini, terutama generasi muda dan kelas menengah, semakin menyukai kenyamanan, transparansi harga, serta metode pembayaran digital. Fasilitas seperti parkir, AC, keamanan modern, produk “bungkus rapi” menjadi nilai tambah yang pasar tradisional kurang mampu tawarkan.
Ketiga, Ketidaksiapan Infrastruktur dan Manajemen. Banyak pasar tradisional yang infrastruktur fisiknya buruk (jalan sempit, ventilasi buruk, sanitasi, kebersihan, pengelolaan sampah), manajemennya informal, sistem administrasinya kurang mendukung, minim digitalisasi. Hal ini mengurangi daya tarik bagi pedagang dan pembeli. Studi revitalisasi menyebut lemahnya regulasi, pengelolaan, dan fasilitas sebagai kendala besar.
Keempat, Regulasi yang Lemah / Tidak Konsisten. Meski ada regulasi seperti Perpres No. 112/2007 tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, dan toko modern, implementasi di lapangan sering tidak optimal. Kebijakan pemindahan/pengembangan pasar modern kadang tidak memperhatikan dampak terhadap pasar tradisional; pembiayaan dan dukungan (revitalisasi, infrastruktur, pembiayaan pedagang) sering tidak merata.
Baca juga : DEN Klaim Produksi Migas Nasional Sudah On Track
Penutup
Pasar tradisional di Indonesia bukan sekadar bagian dari masa lalu—mereka adalah manifestasi dari hubungan sosial, budaya, dan ekonomi yang kompleks. Data-kuantitatif maupun kualitatif menunjukkan bahwa pasar tradisional masih besar skalanya (unit pasar, jumlah pedagang, populasi yang mengandalkan), tetapi tren kontribusi terhadap PAD dan pendapatan retribusi menunjukkan bahwa pasar tradisional dalam kondisi tertekan dan “pudar” dalam peran formalnya.
Tanpa intervensi yang strategis—revitalisasi infrastruktur dan manajemen; kebijakan publik yang mendukung; pelestarian nilai sosiologis dan budaya; serta adaptasi terhadap perubahan zaman—pasar tradisional bisa kehilangan peran vitalnya. Untuk menjaga kelangsungan ekonomi kelas bawah dan menjaga keadilan ekonomi dan sosial, pasar tradisional harus menjadi bagian dari masa depan, bukan hanya kenangan. [*]
Powered by Froala Editor
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.