RM.id Rakyat Merdeka - Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Industri, Saleh Husin menegaskan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen hanya bisa dicapai jika sektor industri nasional tumbuh signifikan.
“Presiden beberapa kali menyampaikan target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan meminta dukungan Kadin,” kata Saleh saat membuka forum group discussion Keberlanjutan Gas Bumi Untuk Industri Nasional di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (7/10/2025).
Menurut mantan Menteri Perindustrian itu, sektor industri pengolahan memegang peranan besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional karena memberikan kontribusi signifikan terhadap penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah. Namun, saat ini Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia masih di kisaran 50-an, yang menandakan perlunya dorongan lebih besar agar industri bisa berkembang lebih kuat.
“Kalau PMI kita bisa naik, maka industri akan mampu menciptakan lapangan kerja dan nilai tambah yang lebih besar,” ujarnya.
Baca juga : Liga Italia: Inter Milan Bantai Cremonese 4-1
Saleh menjelaskan, ada beberapa faktor utama yang harus diperhatikan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan industri nasional. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku. Ia menyoroti bahwa sekitar 60–70 persen bahan baku industri Indonesia masih bergantung pada impor.
“Untuk menekan impor bahan baku, kita harus membangun industri hulu. Tapi membangun industri hulu itu tidak mudah, karena membutuhkan modal besar dan waktu pengembalian investasi yang lama,” jelasnya.
Selain bahan baku, faktor energi juga menjadi kunci penting bagi keberlangsungan industri. Saleh mengapresiasi kebijakan harga gas bumi tertentu (HGBT), namun mencatat masih ada kendala dalam pasokan yang belum sepenuhnya terpenuhi.
“Beberapa industri hanya mendapat pasokan gas sekitar 60 persen. Akibatnya daya saing industri kita melemah, barang jadi dari luar masuk ke pasar dalam negeri,” katanya.
Baca juga : Kemenko PM: Dialog Jadi Kunci Rumuskan Kebijakan Ekonomi Kerakyatan
“Kalau harga energi terlalu tinggi, industri bisa pindah ke negara dengan harga energi lebih kompetitif,” tambahnya.
Ia menekankan, kondisi ini merugikan Indonesia karena industri dalam negeri kehilangan kesempatan menciptakan nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja.
Faktor lain yang harus menjadi perhatian pemerintah, lanjut Saleh, adalah suku bunga dan biaya logistik yang masih tergolong tinggi. “Industri butuh suku bunga yang kompetitif. Biaya logistik kita juga masih mahal, ini harus jadi perhatian para pengambil kebijakan agar target pertumbuhan 8 persen bisa tercapai,” katanya.
Saleh juga menyoroti pentingnya kebijakan gas yang berpihak pada industri pengguna. Menurutnya, pengusaha tidak seharusnya langsung dikenakan harga pasar sebelum kuota penggunaan gas mereka mencapai 100 persen.
Baca juga : Waketum KADIN: Pidato Prabowo di PBB Berpotensi Tingkatkan Ekonomi Domestik
“Kalau produk industri mati karena beban gas terlalu tinggi, untuk membangkitkannya lagi sangat sulit. Investasi gas harus didorong, dan bila pasokan dalam negeri terbatas, industri sebaiknya diberi ruang untuk impor gas,” tegasnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak akan mungkin tercapai tanpa penguatan sektor industri. “Tanpa industri tumbuh, jangan berharap ekonomi bisa tumbuh 8 persen,” pungkas Saleh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.