BREAKING NEWS
 

Promosi Tanggal Kembar E-commerce

Belanja Cerdas, Konsumen Diingatkan Tak Kebablasan

Reporter : IRMA YULIA
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Sabtu, 11 Oktober 2025 06:30 WIB
President Director ShopeePay Indonesia Eka Nilam Dari. (Foto: Instagram/lalanilam_)

RM.id  Rakyat Merdeka - Promosi E-commerce kerap sukses menarik minat belanja masyarakat. Salah satunya, promo tanggal kembar. Strategi ini memberi kontribusi besar dalam menggerakkan ekonomi digital. Namun demikian, fenomena ini harus diikuti peningkatan literasi belanja masyarakat untuk mencegah sikap konsumtif.

Promo tanggal kembar, seperti 10.10 hari ini, kerap menciptakan euforia bagi masyarakat untuk berbelanja online. Namun perlu diingat, belanja itu harus cerdas, bukan impulsif. 

Peneliti dan Analis Kebijakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Muhammad Nidhal mengatakan, sektor e-commerce memang menjadi salah satu pendorong utama. Serta penyumbang terbesar pada ekonomi digital Indonesia, yang diproyeksi akan melampaui 130 miliar dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp 2.119 triliun pada 2025. 

Baca juga : Wacana Kerek Tarif Bus Transjakarta Nongol Lagi

Begitu juga bila mengacu pada laporan Global Data, pasar e-commerce Indonesia diproyeksikan mencapai 46,6 miliar dolar AS (Rp 785,5 triliun) pada 2025, atau 35,8 persen dari total nilai transaksi bruto ekonomi digital Indonesia. 

“Lalu, ada fintech (financial technology) dan layanan keuangan berbasis platform, yang turut mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia,” ujar Nidhal kepada Rakyat Merdeka, Kamis (9/10/2025). 

Karenanya tak heran, bila masyarakat kerap memanfaatkan e-commerce untuk berbelanja online. 

Baca juga : Sejumlah Vendor Kembalikan Uang Bernilai Miliaran Rupiah

Namun dia mengimbau, masyarakat juga perlu meningkatkan literasinya dalam berbelanja, agar tidak bersikap konsumtif. 

Terlebih, ada risiko munculnya praktik dark patterns, seperti sikap konsumtif yang diakibatkan oleh maraknya diskon dan mudahnya akses pada fitur paylater

Kombinasi dari rendahnya literasi dan risiko dark patterns, imbuh Nidhal, membuat konsumen membeli produk atas dasar keinginan, bukan kebutuhan. 

Baca juga : Lanjutkan Perjuangan, Azzurri!

“Sehingga bisa berakibat pada belanja impulsif alias doom spending,” warning-nya. 

Lebih lanjut Nidhal menjelaskan, dark patterns merupakan bentuk manipulasi yang secara tidak sadar membatasi pilihan pengguna. Terutama kelompok rentan, misalnya perempuan, dalam berinteraksi dan bertransaksi di ruang digital. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense