BREAKING NEWS
 

Negosiasi Tarif RI-AS Memasuki Babak Akhir, Airlangga: Tak Ada Protes

Reporter : DIDI RUSTANDI
Editor : FAZRY
Selasa, 18 November 2025 06:30 WIB
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Dok. Kemenko Perekonomian)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah memastikan negosiasi tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memasuki babak akhir. Sambil menunggu rampungnya perundingan dengan Washington, Indonesia menegaskan tidak menggantungkan hubungan dagang pada satu negara saja.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pembahasan teknis hampir tuntas. 

“Hampir semua teks sudah kami bahas. Kami juga sudah kirim ke Amerika, tinggal finalisasi legal drafting-nya di kedua sisi,” kata Airlangga di Jakarta, Senin (17/11/2025). 

Baca juga : Masakan Matang, Tak Bau Dan Lebih Hemat Dari LPG

Dia memastikan tidak ada keberatan dari negara lain terkait skema tarif khusus tersebut, termasuk Inggris. 

“Tidak ada protes, saya sudah bicara dengan Inggris. Tapi kalau kita memberikan fasilitas ke satu negara, negara lain juga kepingin, itu normal saja,” ungkapnya. 

Adsense

Airlangga menegaskan, Indonesia tetap punya banyak payung kerja sama lewat berbagai Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dengan Uni Eropa, Kanada hingga China. Skema itu membuat dinamika dagang internasional bisa diatur tanpa menimbulkan ketegangan. 

Baca juga : Kasus Kredit Fiktif LPEI, Jaksa Tuntut Komisaris PT PE 11 Tahun Penjara

Dalam perundingan dengan AS, sejumlah komoditas andalan Indonesia yang tidak diproduksi Negeri Paman Sam diproyeksikan mendapat tarif 0 persen. Komoditas itu, antara lain minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO), karet, teh, kopi, serta produk karet. Sementara tarif untuk tekstil dan alas kaki masih dibahas. 

Presiden Prabowo Subianto menilai, kebijakan tarif yang dilakukan Presiden AS Donald Trump menjadi wake-up call bagi Indonesia, agar tidak bergantung pada satu pasar. 

“Harus lebih efisien, kita harus lebih berani. Kita harus lebih tidak selalu bergantung pada pasar yang mudah, oh Amerika Serikat, Amerika Serikat,” kata Prabowo di Jakarta, 15 Oktober lalu. 

Baca juga : Kembali Digebuk Norwegia, Italia Kini Gurem

Prabowo menegaskan, Indonesia kini membuka kemitraan lebih luas. Contohnya penandatanganan Indonesia–Uni Eropa CEPA di Brussels, Belgia, pada Juli lalu, serta CEPA dengan Kanada yang diteken beberapa pekan kemudian. 

“Kami akan bergabung dengan Organization for Economic Cooperation and Development (OECD). Selain itu, kami juga telah bergabung dengan Brazil Rusia, India, China, Afrika Selatan (BRICS). Jadi, kami yakin bahwa harus berada di semua pasar yang kami bisa,” ucap Prabowo. 

Terkait kebijakan tarif Trump, Prabowo mengatakan memahami sudut pandang Presiden AS tersebut karena tiap Pemerintah berkewajiban melindungi rakyatnya. [DIR]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense