BREAKING NEWS
 

Sport Tourism Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

BUMN dan Negara Dorong Event Olahraga Sebagai Kebijakan Strategis

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : ESTI FITRIA WULANDARI
Selasa, 9 Desember 2025 06:35 WIB
COO Danantara Dony Oskaria (kiri) foto bersama Menpora Erick Thohir usai diskusi Sports as Destination: Unlocking Indonesia’s Tourism Potential di Indonesia Sports Summit 2025, Jakarta, Minggu (7/12/2025). (Foto: Dok. Kemenpora)

RM.id  Rakyat Merdeka - Event olahraga kini kian dipandang sebagai penggerak ekonomi baru dalam ekosistem pariwisata global. Indonesia dinilai memiliki modal besar untuk memanfaatkan momentum sport tourism sebagai instrumen pertumbuhan ekonomi jangka panjang, dengan dukungan kebijakan negara dan keterlibatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menilai berbagai event olahraga internasional terbukti mampu memicu aktivitas ekonomi lintas sektor, mulai dari transportasi, perhotelan, hingga perputaran usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). 

“Sport tourism bukan lagi sekadar event swasta atau hiburan, tapi sudah menjadi kebijakan strategis negara untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang,” ungkap Dony dalam diskusi Sports as Destination: Unlocking Indonesia’s Tourism Potential di Indonesia Sports Summit 2025, Jakarta, Minggu (7/12/2025). 

Menurut Dony, pengalaman sejumlah negara menunjukkan event olahraga besar didesain sebagai bagian dari strategi nasional. Oleh karena itu, keterlibatan negara menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan. 

Baca juga : SDM Industri Mampu Jadi Penggerak Inovasi Digital

“Sport tourism bukan lagi event private. Di banyak negara, ini sudah menjadi country policy yang didukung penuh demi impact jangka panjang,” ujarnya. 

Ia menegaskan bahwa pembiayaan event olahraga berskala besar lazimnya bersifat hybrid. Negara berperan memastikan arah kebijakan dan keberlanjutan, sementara sponsor dan media turut mendukung dari sisi komersial. 

“Event besar tak bisa dipandang sebagai urusan swasta. Harus ada perspektif negara agar Indonesia tak tertinggal dari negara tetangga, seperti Singapura,” kata Dony. 

Sejumlah contoh internasional menunjukkan dampak nyata sport tourism terhadap perekonomian. Singapore Grand Prix 2025, misalnya, mampu mendorong peningkatan penerbangan hingga 63 persen selama periode penyelenggaraan. Sementara Berlin Marathon secara rutin menarik sekitar 85 ribu peserta setiap tahun dan membuat okupansi hotel menembus 90 persen. 

Baca juga : Perbanyak Kantong Parkir Dan Rekayasa Lalu Lintas

“Sport tourism menjadi daya tarik ekonomi baru. Indonesia tak boleh ketinggalan,” ucapnya. 

Di dalam negeri, MotoGP Mandalika disebut memberikan kontribusi ekonomi signifikan. Selama penyelenggaraan, dampak ekonomi tercatat mencapai Rp 388 miliar, dengan potensi efek jangka panjang hingga Rp 4,8 triliun. Meski demikian, Dony mengingatkan pentingnya penguatan model bisnis agar event-event besar dapat berkelanjutan. 

“Namun, meski berdampak besar secara ekonomi dan branding, model bisnis korporasi saat ini diragukan keberlanjutannya tanpa dukungan kebijakan negara,” jelasnya. 

Tantangan lain yang perlu dibenahi adalah regulasi pendukung, termasuk pengelolaan harga kamar hotel di lokasi event. Menurut Dony, kebijakan perlu dirancang agar tetap memberikan manfaat bagi masyarakat luas. 

Adsense

Baca juga : Nadiem Bakal Didakwa Rugikan Negara Rp 2,1 T

“Masyarakat harus tetap mendapat manfaatnya. Itu yang harus diselesaikan,” katanya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense