BREAKING NEWS
 

Kemenperin Targetkan Industri Pengolahan Tumbuh 5,51 Persen Di 2026

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Rabu, 31 Desember 2025 20:19 WIB
Foto: Kemenperin

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan pemerintah menetapkan arah pembangunan industri nasional pada 2026 yang berorientasi pada penguatan struktur ekonomi, peningkatan daya saing, serta keberlanjutan pembangunan. Hal ini seiring dengan penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2026.

Hal tersebut disampaikan Faisol dalam jumpa pers akhir tahun Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Jakarta, Rabu (31/12/2025).

“Dalam RKP 2026, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai 5,51 persen dengan kontribusi terhadap PDB nasional sebesar 18,56 persen,” kata Faisol.

Ia menjelaskan, berdasarkan Rencana Strategis Kemenperin 2025–2029, kontribusi ekspor industri pengolahan nonmigas pada 2026 ditargetkan mencapai 74,85 persen, mencerminkan peran industri sebagai motor utama perdagangan dan penciptaan nilai tambah nasional.

Baca juga : Kejagung Ungkap 4 Kasus Korupsi Penyebab Kerugian Negara Terbesar di 2025

Selain itu, sektor industri pengolahan nonmigas juga diproyeksikan menyerap 14,68 persen tenaga kerja nasional dengan produktivitas sebesar Rp 126,20 juta per orang per tahun. Untuk mendukung target tersebut, investasi di sektor industri pengolahan nonmigas ditargetkan mencapai Rp 852,90 triliun.

Dari sisi pemerataan pembangunan, pemerintah menargetkan kontribusi nilai tambah industri di luar Pulau Jawa mencapai 33,25 persen guna memperkuat struktur industri yang lebih inklusif dan berimbang antarwilayah. Sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, sektor industri juga ditargetkan berkontribusi terhadap penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 6,79 juta ton CO₂ ekuivalen pada industri prioritas.

Faisol memaparkan, dari sisi pertumbuhan subsektor pada 2026, industri logam dasar diproyeksikan menjadi kontributor tertinggi dengan pertumbuhan 14,00 persen, disusul industri pengolahan lainnya dan jasa reparasi sebesar 6,45 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 6,26 persen, serta industri makanan dan minuman sebesar 6,06 persen.

Adsense

Sementara dari sisi kontribusi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, industri makanan dan minuman tetap menjadi tulang punggung dengan kontribusi terbesar sebesar 7,64 persen. Selanjutnya diikuti industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,95 persen, industri barang logam dan elektronik 1,73 persen, industri alat angkutan 1,41 persen, serta industri logam dasar 1,30 persen.

Baca juga : Tingkat Pemulihan Jaringan BSI Capai 98,15 Persen Di Aceh

“Kombinasi antara industri berkontribusi besar dan industri berpertumbuhan tinggi ini menunjukkan struktur industri nasional yang semakin seimbang dan berdaya saing,” ujar Faisol.

Lebih lanjut, kinerja industri nasional pada 2026 diproyeksikan tetap ekspansif dengan subsektor Industri Agro (IA) sebagai penopang utama. Sub-sektor ini diperkirakan tumbuh 5,23 persen dan berkontribusi 9,60 persen terhadap PDB nasional, serta menyerap sekitar 10,98 juta tenaga kerja.

Nilai investasi sektor IA diproyeksikan mencapai Rp 251,6 triliun dengan nilai ekspor sebesar 68,62 miliar dolar AS dan tingkat utilisasi 74,62 persen.

Sementara itu, subsektor Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) diproyeksikan tumbuh 4,77 persen dengan kontribusi 4,10 persen terhadap PDB nasional dan penyerapan tenaga kerja sekitar 7,39 juta orang. Adapun Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) diperkirakan menjadi motor utama pertumbuhan industri dengan laju 6,62 persen dan nilai investasi Rp 396,3 triliun.

Baca juga : Indofarma Gelar RUPSLB 2025, Targetkan Pendapatan Naik 112% Pada 2026

Di sisi lain, Industri Kecil dan Menengah Aneka (IKMA) diproyeksikan tumbuh 4,88 persen dan berperan penting dalam pemerataan ekonomi daerah, dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 1,03 juta orang.

Faisol menegaskan seluruh sasaran dan proyeksi industri 2026 diselaraskan dengan delapan agenda prioritas APBN 2026 sesuai arahan Presiden, termasuk penguatan ketahanan pangan dan energi, pembangunan sumber daya manusia, penguatan ekonomi rakyat, serta percepatan investasi dan integrasi perdagangan global.

“Ke depan, penguatan industri nasional menghadapi tantangan struktural, mulai dari ketergantungan impor bahan baku, kesenjangan SDM, hingga tuntutan penerapan industri hijau. Namun di saat yang sama, terbuka peluang besar melalui pendalaman struktur industri, substitusi impor, transformasi teknologi, dan penguatan pasar ekspor,” kata Faisol.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense