RM.id Rakyat Merdeka - Lapangan Minas di Wilayah Kerja Rokan telah lama menjadi tulang punggung produksi minyak nasional. Sejak pertama kali ditemukan pada 1952, lapangan raksasa di Provinsi Riau ini menyimpan cadangan awal sekitar 8,7 miliar barel minyak.
Selama lebih dari tujuh dekade, Minas berkontribusi besar terhadap pasokan energi Indonesia. Namun, usia panjang juga membawa konsekuensi: cadangan yang kian sulit diproduksikan. Berbagai teknologi telah diterapkan untuk mempertahankan produksi.
Injeksi air peripheral dilakukan sejak awal pengembangan, disusul metode waterflood pada 1995. Seiring waktu, pendekatan tersebut tidak lagi cukup.
Tantangan lapangan tua menuntut penerapan teknologi lanjutan yang mampu meningkatkan perolehan minyak dari sisa cadangan yang masih terperangkap di dalam reservoir.
Di titik inilah teknologi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) menjadi tumpuan. Metode ini bekerja dengan menginjeksikan bahan kimia berupa surfaktan ke dalam reservoir untuk menurunkan tegangan antarmuka minyak dan air, sehingga minyak lebih mudah mengalir menuju sumur produksi.
Setelah pengelolaan Wilayah Kerja Rokan diambil alih PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), pengembangan CEOR dipercepat. Berbagai unit di lingkungan Pertamina bersinergi, mulai dari tim lapangan, laboratorium riset, hingga anak usaha.
Fokus utamanya adalah menemukan formula surfaktan yang sesuai dengan karakter reservoir Rokan dan dapat diproduksi di dalam negeri. Upaya tersebut akhirnya mencapai tonggak penting pada Selasa, 23 Desember 2025.
Baca juga : Teja Siap Tampil Maksimal di Laga Persib Vs Persija
Pada hari itu, penerapan CEOR Tahap I resmi diluncurkan di Lapangan Minas Area A, Zona Rokan. Peresmian yang berlangsung di Rumbai menandai babak baru pengelolaan lapangan tua melalui inovasi teknologi.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menekankan pentingnya inovasi dalam menjaga keberlanjutan produksi.
“Namun kita juga menyadari bahwa Minas adalah lapangan yang sudah mature. Keberlanjutan produksinya hanya dapat dijaga melalui inovasi dan penerapan teknologi yang tepat. Oleh karena itu, kita bersyukur hari ini dapat meresmikan penerapan Chemical EOR Tahap I di Area A Lapangan Minas,” ujar Djoko.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Oki Muraza menyebut keberhasilan ini sebagai buah inovasi internal. Menurutnya, teknologi CEOR bukan sekadar solusi teknis, melainkan juga wujud kemandirian industri energi nasional.
"Yang patut kita banggakan bersama, surfaktan sebagai komponen utama dalam teknologi CEOR ini merupakan hasil inovasi perwira Pertamina. Efektivitasnya telah melalui serangkaian pengujian baik di laboratorium maupun di lapangan, sehingga memastikan keandalan dan kesiapan teknologi ini untuk diterapkan secara komersial," ungkap Oki.
Surfaktan yang digunakan dirancang khusus untuk lapangan Pertamina. Proses pengembangannya melibatkan PT Pertamina Lubricants dan Elnusa Petrofin, mulai dari pengadaan bahan baku, blending, quality assurance/quality control, hingga distribusi ke lokasi proyek.
Seluruh tahapan telah melalui uji laboratorium dan uji lapangan. Bagi tim teknis di lapangan, tantangan terbesar justru muncul pada tahap awal pencarian bahan utama.
Baca juga : Memprihatinkan, Tawuran Kembali Marak Di Jakarta
Manager EOR Petroleum Engineering PHR Regional 1 Sumatra, Agus Masduki, mengungkapkan proses tersebut tidak mudah.
“Yang paling berat justru menemukan bahan main surfaktannya,” ujarnya.
Pencarian itu memakan waktu hampir dua tahun dengan lebih dari 80 kali percobaan laboratorium.
Proses ini dijalankan oleh tim laboratorium PHR yang dipimpin Senior Analyst Laboratory PHR, Ester Tio Minar E. Silalahi. Bersama sembilan anggota timnya, Ester meneliti ratusan sampel surfaktan.
“Kami menerima ratusan sampel surfaktan, tantangan terbesarnya adalah menemukan kombinasi yang cocok dan optimal,” ujar Ester.
Menurut dia, pendekatan ilmiah menjadi kunci dalam proses panjang tersebut.
“Meeting bisa dilakukan hampir setiap hari. Ratusan tes dilakukan dan hasilnya kami tinjau terus-menerus. Kalau ada kendala, langsung kami diskusikan secara intens,” tambahnya.
Baca juga : Ranty Maria, Terharu Dan Bahagia Jelang Pernikahan
Upaya pencarian tidak hanya mengandalkan riset internal. Tim PHR juga menjajaki kerja sama dengan berbagai manufaktur bahan kimia, baik di dalam maupun luar negeri, termasuk produsen yang sebelumnya belum pernah bekerja sama.
Dukungan akademisi, penyedia teknologi, dan para pakar turut memperkaya proses tersebut. “Berbagai upaya dilakukan selain riset internal, secara paralel, kita mendapatkan dukungan dari banyak pihak, termasuk pihak ketiga penyedia teknologi, akademisi, dan para expert baik dari dalam maupun luar negeri,” ujar Agus.
Di balik ratusan sampel, puluhan percobaan, dan diskusi yang nyaris tanpa jeda, tersimpan satu pelajaran penting: menjaga produksi minyak di lapangan tua tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang ketekunan, kolaborasi, dan daya juang manusia.
Dari laboratorium hingga sumur-sumur tua di Rokan, surfaktan racikan anak bangsa kini menjadi harapan baru, agar denyut produksi energi nasional tetap terjaga.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.