RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menegaskan bahwa kegiatan business matching antara produsen dan pengguna pati ubi kayu menjadi instrumen strategis untuk memperkuat industri lokal sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, business matching menjadi sarana konkret untuk mempertemukan kebutuhan industri pengguna dengan kapasitas dan spesifikasi yang dimiliki produsen pati ubi kayu dalam negeri.
“Melalui business matching, pemerintah mendorong terbangunnya sinergi yang berkelanjutan antara industri penghasil dan industri pengguna pati ubi kayu, sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari dalam negeri,” kata Agus dalam sambutannya pada kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu di Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Baca juga : Perluas Pasar, Kemenperin Fasilitasi Business Matching Pati Ubi Kayu
Ia menuturkan, pati ubi kayu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai tambah tinggi dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor, baik pangan seperti pemanis, bumbu, makanan ringan, dan mi instan, maupun nonpangan seperti kertas, bahan kimia, dan etanol.
Kemenperin mencatat, saat ini terdapat sekitar 125 perusahaan pati ubi kayu di Indonesia dengan tingkat utilisasi yang masih berada di kisaran 43 persen. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang peningkatan produksi untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri.
Dalam kegiatan business matching tersebut, industri produsen pati ubi kayu dipertemukan secara langsung dengan industri pengguna melalui skema pertemuan bisnis satu lawan satu. Mekanisme ini diharapkan mampu mempercepat tercapainya kesepakatan kerja sama sekaligus mendorong diversifikasi spesifikasi produk sesuai kebutuhan pasar.
Baca juga : ASN Perpusnas Turun ke Masyarakat Perkuat Literasi Lewat Program Bakti
Agus juga menekankan bahwa pemerintah terus mendorong substitusi impor pati ubi kayu melalui penguatan rantai pasok domestik dan peningkatan kualitas produk. Salah satu instrumen yang digunakan adalah kebijakan Neraca Komoditas untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan industri.
“Business matching ini bukan hanya forum pertemuan bisnis, tetapi juga bagian dari strategi memperkuat kemandirian industri nasional dan meningkatkan daya saing produk dalam negeri,” ujarnya.
Melalui sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, Kemenperin berharap industri pati ubi kayu nasional mampu tumbuh berkelanjutan, meningkatkan utilisasi, serta menjadi penopang penting bagi industri pengolahan nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.