Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
KB Pascapersalinan Jadi Strategi Tekan Angka Kematian Ibu dan Stunting
Rabu, 24 Desember 2025 10:12 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Program Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP) terus didorong sebagai langkah strategis menekan Angka Kematian Ibu (AKI) yang masih berada di angka 189 per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan Sensus Penduduk Long Form 2020.
Melalui KBPP, pengaturan jarak dan jumlah kehamilan dilakukan secara aman demi menjaga kesehatan ibu serta keselamatan kehamilan dan persalinan berikutnya.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji menegaskan KBPP menjadi instrumen penting dalam upaya perlindungan ibu dan anak secara berkelanjutan.
“KBPP diharapkan menjadi bagian dari cara untuk menekan angka kematian ibu dan anak, juga mencegah terjadinya stunting karena ini merupakan bagian dari kebijakan yang harus terus-menerus dikerjakan di seluruh wilayah Indonesia,” ujar Wihaji.
Baca juga : Tinjau Terminal Pulo Gebang, Kapolri Tekankan Utamakan Keselamatan Penumpang!
Hal senada disampaikan dr. Muhammad Dwi Priangga, salah satu narasumber dalam talkshow Berbagi Praktik Baik Program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi dalam rangka Peringatan Hari Ibu 2025.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN secara luring dan daring, Selasa (23/12/2025).
Menurut Priangga, KBPP berperan besar dalam menurunkan risiko kehamilan yang terlalu sering karena jarak kehamilan dapat diatur secara lebih aman.
“KBPP bisa menurunkan risiko kehamilan yang terlalu sering karena jarak kehamilan dijaga sehingga dapat meningkatkan kesehatan ibu dan anak,” tuturnya.
Baca juga : Srikandi Jakarta Tegaskan Pentingnya Peran Ibu Dan Perlindungan Anak
Ia menjelaskan, KBPP dapat diberikan pada rentang waktu 0–42 hari pasca persalinan dengan menggunakan metode kontrasepsi modern yang tidak mengganggu proses laktasi bagi ibu menyusui.
Dalam talkshow tersebut, BKKBN juga memberikan apresiasi kepada sejumlah inovator pelayanan KB. Salah satunya inovasi TRISULA (Triple Intervensi Saat Ibu Hamil dan Persalinan) yang diinisiasi Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Tengah dan diimplementasikan di Kabupaten Sigi.
TRISULA mengusung tiga target utama, yakni 100 persen ibu hamil mendapatkan konseling KBPP, 70 persen ibu pascapersalinan menggunakan KBPP, serta 50 persen pengguna KBPP memilih Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).
“Dengan inovasi Trisula, capaian KBPP meningkat. Semula sekitar 37,58 persen di Juli 2025, kini di Desember 2025 telah mencapai 105,29 persen,” ungkap Liana Dewi Taufiq dari Tim Kerja Bina Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN Sulawesi Tengah.
Baca juga : Kilang Pertamina Kembangkan Teknologi WSA untuk Tekan Emisi dan Efisiensi Energi
Inovasi lainnya adalah BINTANG (Bersama MKJP, Ibu Tenang, Anak Tumbuh Gemilang) yang dipelopori bidan Rahmi Dwiyati dari Tempat Praktik Mandiri Bidan (TPMB) Dhiaulhaq, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
“Inovasi ini dikembangkan karena adanya tantangan utama, yaitu stunting dan rendahnya cakupan KB MKJP,” ujar Rahmi.
Program BINTANG diperkuat dengan berbagai kegiatan pendukung seperti PANDU, SAPA, POJOK, REKAT, SAHABAT, WARISAN, KOPI PASAL, hingga TERANG yang mengintegrasikan pelayanan KB dengan administrasi kependudukan.
Acara ini juga menghadirkan Febryana Nurahmah, akseptor KBPP asal Kota Tangerang, Banten, yang membagikan pengalaman langsung menggunakan KB Pascapersalinan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya