RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi konsep Hospital Without Walls yang dikembangkan Direktur Utama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS, M.Kes. Menkes berharap model layanan kesehatan tanpa sekat tersebut dapat direplikasi di 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Apresiasi itu disampaikan Menkes saat menjadi penyanggah/penanya dalam Ujian Doktor Terbuka dr. Supriyanto di Universitas Airlangga, Surabaya, Jumat (23/1/2026).
Dalam forum akademik tersebut, dr. Supriyanto mempertahankan disertasi berjudul “Pengembangan Model Manajemen Rumah Sakit Berbasis Konsep Hospital Without Walls dalam Platform Public Safety Centre.”
Baca juga : Profil Dirut RSCM, Penggagas Hospital Without Walls Yang Diangkat Jadi Disertasi
Menkes menilai konsep Hospital Without Walls merupakan sistem layanan kesehatan ideal karena memastikan pelayanan yang cepat, mudah, dan terjangkau bagi pasien. Menurutnya, model ini telah terbukti berjalan di RSUD dr Iskak Tulungagung. Konsep ini juga sudah diuji di RSCM di wilayah dengan kompleksitas tinggi seperti Jakarta.
“Tantangan berikutnya adalah bagaimana sistem ini bisa direplikasi secara nasional,” ujar Menkes.
Ia pun menargetkan replikasi Hospital Without Walls dapat diwujudkan sebelum 2030 sebagai bagian dari peningkatan layanan kesehatan nasional.
Baca juga : Dirut RSCM Ulas Hospital Without Walls Dalam Disertasi Doktor, Begini Isinya
“Jika berhasil diterapkan secara luas, ini bisa menjadi sebagai hadiah dari Presiden Prabowo untuk 280 juta rakyat Indonesia,” kata Menkes.
Menjawab pertanyaan tersebut, dr. Supriyanto menyatakan replikasi model Hospital Without Walls sangat mungkin dilakukan, sepanjang didukung kebijakan yang kuat dan konsisten dari pemerintah pusat hingga daerah. Ia menekankan pentingnya backup regulasi agar sistem berjalan berkelanjutan.
Menurutnya, ada beberapa prasyarat utama agar model ini dapat diterapkan secara luas. Pertama, pelatihan kepemimpinan transformasional bagi pimpinan rumah sakit dan unit layanan. Kedua, peningkatan kapasitas sumber daya manusia pelaksana di lapangan. "Ketiga, penataan tahapan implementasi dan kebutuhan peralatan. Dan keempat, penguatan sistem teknologi informasi," papar dr. Supriyanto.
Baca juga : Dirut RSCM Jalani Ujian Terbuka Promosi Doktor Di Unair
Dalam disertasinya, dr. Supriyanto menjelaskan Hospital Without Walls menempatkan Public Safety Center 119 sebagai pusat koordinasi klinis terintegrasi. Melalui PSC 119, layanan kesehatan dimulai sejak pra-rumah sakit dengan triase dini, sehingga pasien gawat darurat dapat ditangani lebih cepat, sementara kasus stabil ditangani secara efektif tanpa harus dirawat inap.
“Model ini hanya bisa berjalan jika klinisi bekerja sebagai good clinician dan sistem tata kelolanya mendukung,” ujar dr. Supriyanto. Ia menambahkan, ketika pelayanan kesehatan bebas konflik kepentingan dan fokus pada kebutuhan pasien, maka biaya menjadi lebih efisien tanpa mengorbankan mutu. Istilahnya, low cost, high quality.
Konsep Hospital Without Walls telah dipraktikkan lebih dari satu dekade dan mendapat pengakuan internasional dan meraih penghargaan tertinggi dunia. Pada 2019, rumah sakit daerah itu meraih Gold Winner Category Corporate Social Responsibility dari International Hospital Federation, yang merupakan peringkat nomor satu dunia dalam kategori tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.