RM.id Rakyat Merdeka - PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) menjajaki kerja sama dengan PT Garam untuk membangun pabrik pemrosesan garam industri di Balikpapan, Kalimantan Timur, sebagai bagian dari upaya memperkuat hilirisasi dan mengurangi ketergantungan impor garam.
Penjajakan kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman dan Direktur Utama PT Garam Abraham Mose di Jakarta, Rabu (28/1).
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono mengatakan kolaborasi KPI dan PT Garam merupakan langkah strategis dalam mendukung agenda hilirisasi pemerintah sekaligus mendorong kemandirian energi dan pangan nasional.
Baca juga : PGN Salurkan Gas Bumi Ke Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Di Karawang
“Kerja sama ini tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi juga mendukung kemandirian pangan melalui pengembangan industri garam nasional,” kata Agung dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (31/1/2026).
Ia menyebutkan pembangunan pabrik garam di Balikpapan dengan kapasitas sekitar 1.000 kilo ton per annum (KTA) berpotensi menekan impor garam hingga sekitar 150 juta dolar AS atau setara Rp 2,5 triliun. Proyek tersebut juga diharapkan memberikan dampak berganda berupa pengembangan kawasan industri dan penciptaan lapangan kerja.
Sementara itu, Direktur Utama PT Garam Abraham Mose menyampaikan hilirisasi garam nasional ini akan memanfaatkan air buangan desalinasi (brine water) dari kilang RDMP Balikpapan. Berdasarkan hasil survei dan analisis awal, proyek tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1 juta ton garam per tahun.
Baca juga : Menteri Ekraf: Kerja Sama Ekonomi Kreatif Indonesia–Australia Terus Berkembang
Menurut Abraham, kebutuhan garam nasional saat ini mencapai sekitar 5,7 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 7,3 juta ton seiring pembangunan fasilitas chlor alkali plant. Namun, kapasitas produksi PT Garam saat ini baru sekitar 500 ribu ton per tahun.
“Masih terdapat kesenjangan yang cukup besar antara kebutuhan dan produksi nasional. Karena itu, sinergi ini diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan garam dalam negeri,” ujarnya.
Dukungan terhadap program hilirisasi BUMN juga disampaikan oleh Danantara. Managing Director 2 Danantara Setyo Hantoro mengatakan pihaknya telah menyiapkan 41 program strategis, dengan 20 di antaranya berfokus pada hilirisasi energi dan pangan, termasuk sektor garam.
Baca juga : KPI dan PT Garam Bangun Pabrik di Balikpapan, Tekan Impor Rp 2,5 Triliun
Ia menambahkan, kerja sama KPI dan PT Garam sejalan dengan strategi pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen melalui penguatan ketahanan pangan dan energi.
Kerja sama tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 17 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional, yang menargetkan pemenuhan kebutuhan garam konsumsi dan industri secara bertahap dari produksi dalam negeri.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.