RM.id Rakyat Merdeka - Duta Besar Indonesia untuk Kazakhstan dan Tajikistan M Fadjroel Rachman merayakan penandatanganan Free Trade Agreement Indonesia–Eurasian Economic Union (RI-EAEU) di Wisma Indonesia, Astana, awal Februari 2026.
Perjanjian perdagangan bebas itu diteken 21 Desember 2025 di Saint Petersburg, Rusia. Indonesia diwakili Menteri Perdagangan Budi Santoso, bersama para wakil perdana menteri lima negara anggota Uni Ekonomi Eurasia.
Penandatanganan tersebut disaksikan para kepala negara, antara lain Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam pertemuan di Astana, Fadjroel bersama para duta besar negara anggota EAEU membahas peta jalan dan target perdagangan tiga sampai lima tahun ke depan. Pertemuan berlangsung hangat sambil menikmati kuliner Indonesia.
Baca juga : Investasi Hong Kong Tembus 10 Miliar Dolar AS, RI Kian Dilirik
“Perjanjian ini menjadi jembatan emas yang menghubungkan dua populasi besar, 280 juta penduduk Indonesia dan 180 juta penduduk Eurasia,” ujar Fadjroel dalam keterangan tertulis, Minggu (15/2/2026).
Ia menyebut nilai perdagangan Indonesia–EAEU pada 2025 tercatat 5,2 miliar dolar AS. Dengan FTA ini, kedua pihak menargetkan nilainya melampaui 10 miliar dolar AS dalam tiga hingga lima tahun mendatang.
Untuk Kazakhstan, Fadjroel mematok target baru perdagangan bilateral mencapai 2 miliar dolar AS. Pada 2022, nilai perdagangan kedua negara menyentuh 691,3 juta dolar AS.
Menurut Fadjroel, terbukanya perdagangan akan mendorong investasi dan pariwisata. Ia juga menyinggung peluang penerbangan langsung, bebas visa, hingga perlindungan investasi.
Baca juga : Menlu Sugiono Tegaskan Iuran Dewan Perdamaian 1 Miliar Dolar AS Tidak Wajib
Perjanjian ini terdiri dari 15 bab, mencakup akses pasar, fasilitasi perdagangan, dan kerja sama ekonomi. Sebanyak 90,5 persen tarif preferensial diberikan untuk produk Indonesia, yang mewakili 95,1 persen total impor EAEU dari Indonesia.
Mendag Budi Santoso menegaskan produk Indonesia akan mendapat akses pasar lebih luas dan kompetitif. Komoditas unggulan antara lain minyak sawit dan turunannya, kakao, kopi, tekstil, alas kaki, produk perikanan, karet, furnitur, hingga elektronik.
Sebaliknya, Indonesia juga membuka peluang bagi produk EAEU seperti pupuk, besi, minyak mentah, serta produk industri lainnya.
Berdasarkan catatan KBRI Astana, ekspor Indonesia ke Kazakhstan pada 2025 meliputi televisi dan monitor, mesin listrik, lemak dan minyak nabati, tembakau, alas kaki, serta mesin mekanik. Dari Kazakhstan ke Indonesia antara lain besi dan baja, ferroalloy, seng, aluminium, serta bahan kimia anorganik.
Baca juga : Dubes Fadjroel: Dagang RI–Kazakhstan Dibidik 2 Miliar Dolar AS
Ketua Komisi Ekonomi Eurasia Bakytzhan Sagintayev menyatakan implementasi FTA ini akan melipatgandakan perdagangan Indonesia dengan negara anggota EAEU.
Selain sektor perdagangan barang, kedua pihak menjajaki kerja sama energi karbon, energi baru termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir, energi terbarukan, serta industri pertahanan.
Kazakhstan tahun ini menjabat Chairmanship EAEU. Momentum tersebut dinilai strategis untuk memperkuat kemitraan ekonomi Indonesia dan kawasan Eurasia.
“Ini peluang meraih nilai perdagangan baru sekitar 10 miliar dolar AS dalam tiga sampai lima tahun mendatang,” ujar Fadjroel.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.