RM.id Rakyat Merdeka - Danantara Indonesia memastikan proses pemulihan fundamental PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk terus berjalan setelah hampir tumbang saat pandemi Covid-19.
Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengungkapkan, pandemi menjadi periode paling krusial dalam sejarah Garuda Indonesia.
Pada masa itu, sekitar 90 persen operasional praktis terhenti akibat anjloknya jumlah penumpang. Sementara kewajiban pembayaran sewa pesawat (leasing) tetap berjalan.
Tekanan tersebut membuat sebagian armada disita oleh lessor dan tidak dapat dioperasikan. Bahkan, pada titik terburuk, Garuda Indonesia hanya memiliki tiga hingga empat pesawat yang benar-benar siap terbang.
Baca juga : Semoga Segera Terwujud, Pasar Kramat Jati Mau Kelola Sampah Mandiri
“Saat itu Garuda sudah berada di ambang penutupan. Operasional hampir lumpuh,” ungkap Rohan dalam diskusi bersama media di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Di tengah kondisi tersebut, sempat muncul wacana penyiapan maskapai pengganti flag carrier nasional melalui kehadiran Pelita Air. Namun negara memilih tetap melakukan langkah penyelamatan terhadap Garuda Indonesia.
Pada masa krisis itu, anak usaha Garuda Indonesia, yakni Citilink Indonesia, papar Rohan, relatif mampu bertahan dari sisi operasional. Kinerja Citilink menjadi salah satu penopang keberlangsungan Garuda Indonesia Group.
“Dukungan negara, pembenahan manajemen, dan restrukturisasi menyeluruh menjadi faktor penyelamat, sehingga Garuda dapat kembali mengudara,” tutur mantan Direktur Bank Mandiri tersebut.
Baca juga : Leeds United Vs Manchester City, Sengit Di Elland Road
Sebagai pemegang saham mayoritas, Danantara menilai tahun 2025 menjadi fase penting dalam memastikan keberlanjutan transformasi Garuda Indonesia.
Fokus utama diarahkan pada kesiapan operasional dan pembenahan struktur keuangan sebagai prasyarat pertumbuhan jangka panjang.
“Tahun 2025 merupakan periode penguatan fundamental. Di semester kedua tahun lalu, kinerja operasional mulai membaik. Tingkat keterisian kursi atau Seat Load Factor (SLF) meningkat dari kisaran 77 persen menjadi sekitar 87 persen,” jelas Rohan.
Meski menunjukkan tren positif, manajemen menegaskan 2025 tidak diposisikan sebagai tahun untuk mengejar laba. Tahun tersebut menjadi momentum pemulihan yang membutuhkan waktu dan konsistensi.
Baca juga : Jetlag, Alwi Farhan Susah Tidur
“Ibarat luka besar, tidak bisa sembuh instan. Garuda memang perlu waktu, sekaligus empati dari publik,” ujarnya.
Sejumlah langkah transformasi yang dijalankan emiten berkode saham GIAA itu merupakan bagian dari proses konsolidasi jangka menengah. Sementara pada 2026, Garuda Indonesia ditargetkan memasuki fase optimalisasi.
Prioritas diarahkan pada peningkatan kesiapan armada secara bertahap, penguatan struktur permodalan, serta penataan jaringan dan kapasitas berbasis prinsip kehati-hatian.
“Seluruh langkah dilakukan secara disiplin, terukur, dan sesuai tata kelola perusahaan yang baik serta prinsip komersial yang sehat,” kata Rohan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.