RM.id Rakyat Merdeka - Memanasnya konflik di Timur Tengah membuat pengiriman BBM melalui Selat Hormuz terganggu. Guna mengamankan pasokan energi nasional, proses negosiasi tidak cukup hanya di level diplomat. Presiden Prabowo Subianto disarankan turun tangan langsung.
Selat Hormuz ditutup oleh Iran setelah serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel kepada negara para Mullah tersebut, 28 Februari lalu. Akibatnya, banyak kapal pengangkut BBM tidak bisa lewat. Termasuk kapal dua kapal tanker Pertamina.
Pengamat hubungan internasional Universitas Indonesia Prof. Suzie Sri Suparin menyatakan, situasi ini menuntut langkah diplomasi lebih kuat dari Pemerintah Indonesia. Menurutnya, Presiden Prabowo perlu membangun kembali komunikasi yang lebih intens dengan Iran, agar hubungan diplomasi kembali erat.
Prof. Suzie mengatakan, dalam situasi geopolitik yang semakin kompleks, diplomasi tidak cukup hanya dilakukan di tingkat kementerian. “Diperlukan pendekatan yang lebih tinggi secara politik untuk membangun kembali kepercayaan,” ujarnya, kepada Rakyat Merdeka, Senin (9/3/2026).
Dalam beberapa waktu terakhir, lanjutnya, ada kesan sikap Indonesia sejalan dengan narasi negara Barat dalam melihat konflik di kawasan Timur Tengah. Menurut Suzie, persepsi tersebut berpotensi memengaruhi tingkat kepercayaan Iran, terlebih Indonesia saat ini tergabung dalam Board of Peace (BoP) alias Dewan Perdamaian bentukan Presiden AS Donald Trump.
Suzie melanjutkan, kurangnya kepercayaan Iran itu terlihat dari penolakan mereka saat Presiden Prabowo untuk menawarkan diri menjadi mediator. Meskipun demikian, ia menyebut bahwa upaya diplomasi antarpemimpin negara tetap perlu dilakukan Prabowo.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran (Unpad) Teuku Rezasyah menilai, Indonesia memiliki peluang diplomasi yang cukup besar dengan Iran, terutama dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru. Menurut dia, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk memperkuat hubungan bilateral sekaligus menunjukkan solidaritas politik Indonesia.
Baca juga : Jakarta Banjir Lagi
Ia menyebut, langkah paling efektif adalah komunikasi langsung di tingkat kepala negara. “Presiden Prabowo perlu menelepon langsung Presiden Iran. Syukur-syukur bisa juga dihubungkan dengan Ayatollah yang baru. Paling tidak perlu menyampaikan ucapan selamat,” kata Rezasyah, kepada Rakyat Merdeka, Senin (9/3/2026).
Ia menerangkan, Indonesia dan Iran sama-sama tergabung dalam Developing Eight Organization for Economic Cooperation atau D-8. Forum kerja sama negara berkembang ini bertujuan membangun dunia yang lebih aman, stabil, dan progresif. “Semangatnya adalah membangun dunia yang lebih baik, aman, stabil, dan progresif. Itu sejalan dengan prinsip politik luar negeri kita yang bebas aktif,” katanya.
Menurut Rezasyah, selama ini Indonesia dinilai terlalu berhati-hati dalam bersikap terhadap AS. Pendekatan yang terlalu lunak terhadap AS justru berpotensi mempersempit ruang diplomasi Indonesia dengan negara lain, termasuk Iran. Karena itu, ia mendorong Pemerintah memanfaatkan momentum geopolitik yang ada untuk memperkuat komunikasi langsung dengan Teheran.
Rezasyah meyakini, langkah diplomasi simbolik seperti ucapan selamat kepada pemimpin baru Iran bisa membawa dampak konkret terhadap hubungan kedua negara. “Saya yakin, begitu kita memberikan kabar atau ucapan tersebut, hubungan bisa langsung mencair. Bahkan kapal tanker kita bisa segera keluar,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Santo Darmosumarto menyampaikan, bahwa Kedutaan Besar RI (KBRI) di Teheran terus melakukan komunikasi diplomatik dengan pemerintah Iran. Upaya ini dilakukan untuk memastikan kapal tanker Pertamina dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.
“Hal tersebut sedang di-follow up oleh rekan-rekan kami di KBRI Teheran. Karena memang pembicaraan harus dilakukan dengan pihak Iran. Saat ini sedang dilakukan upaya diplomasi,” kata Santo, dalam konferensi pers, di Kantor Kemenlu, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Menurut dia, langkah diplomasi tersebut bertujuan memastikan kepentingan Indonesia tetap terlindungi, khususnya terkait kelancaran operasional kapal tanker Pertamina. Kendati demikian, Santo belum menyampaikan lebih jauh hasil diplomasi yang dibangun tersebut.
Baca juga : Status TNI Siaga 1, Politisi-Pengusaha Sambut Positif
Sementara itu, PT Pertamina International Shipping (PIS) memastikan operasional armadanya di kawasan Timur Tengah masih dalam kondisi aman. Dari empat kapal yang beroperasi di wilayah tersebut, satu kapal telah keluar dari area konflik.
Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan, kapal PIS Rinjani tercatat sudah meninggalkan area konflik. Sementara, tiga kapal lainnya masih berada di kawasan sekitar Teluk Arab dan Oman.
“Saat ini terdapat tiga kapal yang masih beroperasi di kawasan Timur Tengah, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro yang berada di Teluk Arab, serta PIS Paragon yang berada di Oman,” kata Vega, kepada Rakyat Merdeka, Senin (9/3/2026).
Ia menjelaskan, dua kapal yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro saat ini masih menunggu situasi aman untuk keluar melalui Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute pelayaran energi paling vital di dunia. Sementara itu, kapal PIS Paragon dijadwalkan segera berlayar menuju India.
Vega memastikan, seluruh kapal tersebut dalam kondisi aman dan terus dipantau secara ketat oleh perusahaan. Dari sisi operasional, PIS Rinjani, Gamsunoro, dan PIS Paragon melayani konsumen pihak ketiga. Sedangkan VLCC Pertamina Pride sedang menjalankan misi strategis untuk mengangkut pasokan minyak mentah jenis light crude oil guna memenuhi kebutuhan energi dalam negeri.
PIS, kata Vega, melakukan pemantauan intensif selama 24 jam terhadap seluruh armada, kru kapal, serta aktivitas operasional di kawasan tersebut. “Kami juga menjalin koordinasi erat dengan otoritas maritim dan pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan serta keselamatan seluruh kru kapal dan muatan yang dibawa," ujarnya.
Di tengah dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah, Pertamina memastikan rantai pasok energi nasional tetap dalam kondisi kuat. Hal itu didukung oleh ratusan kapal yang dikelola berbagai entitas di bawah Pertamina.
Baca juga : Pemerintah dan Pertamina Jaga Pasokan Stok BBM
Vega menyebutkan, terdapat sekitar 345 armada kapal yang menopang distribusi energi, baik di perairan internasional maupun di wilayah perairan Indonesia. Pertamina juga berkoordinasi dengan Pemerintah dalam menentukan strategi rantai pasok energi yang paling aman dan efektif.
PIS menerapkan skema Regular, Alternative, and Emergency untuk memastikan distribusi energi tetap berjalan lancar di tengah situasi global yang dinamis. Metode tersebut, kata Vega, digunakan untuk menentukan jalur rantai pasok yang paling efektif dan aman untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat dan memastikan distribusi berjalan lancar.
Vega menambahkan, dalam situasi yang sangat sensitif ini, perusahaan berharap dukungan dari masyarakat Indonesia. Doa dan dukungan publik sangat berarti bagi keselamatan para kru kapal serta pekerja Pertamina yang saat ini tetap menjalankan tugasnya di kawasan Timur Tengah.
"Kami memohon doa serta dukungan dari seluruh masyarakat Indonesia, termasuk rekan-rekan jurnalis, bagi keselamatan para kru kapal dan pekerja kami yang tetap menjalankan tugasnya di kawasan Timur Tengah," tutupnya. BYU/MEN
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.