BREAKING NEWS
 

Ketum GAPKI Sebut Perang Timur Tengah Bikin Biaya Ekspor Sawit Melonjak

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Kamis, 12 Maret 2026 21:30 WIB
Ketum GAPKI Eddy Martono memberikan sambutan dalam acara buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (12/3/2026). Foto: NOVALLIANDY/RM.ID

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono menyoroti dampak konflik di Timur Tengah terhadap industri sawit nasional. Menurut Eddy, eskalasi perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu lonjakan biaya logistik serta asuransi pengiriman ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Ketegangan geopolitik membuat jalur pelayaran internasional tidak stabil. Beberapa kapal pengangkut sawit terpaksa memutar rute untuk menghindari kawasan konflik. “Akibatnya terjadi kenaikan luar biasa untuk biaya logistik dan insurance. Itu naik sampai 50 persen rata-rata,” ujar Eddy dalam konferensi pers dan buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

Baca juga : KKSS Akan Pertemukan Pengusaha, Eksportir, dan Wirausahawan Milenial Di Makassar

Gangguan paling terasa terjadi pada jalur ekspor menuju Timur Tengah yang selama ini bergantung pada pelayaran melalui Selat Hormuz. Berdasarkan data GAPKI, ekspor sawit Indonesia ke kawasan tersebut pada 2025 mencapai sekitar 1,83 juta ton dengan nilai sekitar 1,9 miliar dolar Amerika.

Adsense

“Gangguan kita memang yang betul-betul terganggu adalah di Middle East. Ekspor kita ke sana ada sekitar 1,83 juta ton. Ini yang sudah pasti terganggu,” ujar Eddy.

Baca juga : Krisis BBM Imbas Perang Timur-Tengah, Bangladesh Dan Pakistan Liburkan Sekolah

Selain Timur Tengah, jalur pengiriman ke Eropa juga terdampak. Ekspor sawit Indonesia ke Uni Eropa mencapai sekitar 3,2 juta ton, sementara ke negara Eropa non-Uni Eropa sekitar 900 ribu ton, sehingga totalnya sekitar 4,4 juta ton. Beberapa kapal memilih memutar melalui Cape Town, Afrika, sebelum menuju Eropa, sementara sebagian tetap melalui Terusan Suez meski berisiko, sehingga biaya logistik semakin tinggi.

Meski menghadapi tekanan biaya, Eddy menegaskan ekspor sawit Indonesia tetap berjalan dan bahkan nilainya meningkat dibanding tahun sebelumnya. Namun, konflik berkepanjangan berpotensi menekan permintaan dari negara-negara pengimpor. Kenaikan biaya logistik juga berisiko membuat harga sawit terlalu mahal bagi negara importir, sehingga potensi pembelian bisa menurun.

Baca juga : Konflik Timur Tengah: AS Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Rusia

GAPKI berharap konflik di Timur Tengah tidak berlangsung lama agar jalur perdagangan global kembali normal. Eddy juga mengingatkan agar kebijakan dalam negeri tidak menambah tekanan bagi industri sawit, termasuk wacana pengenaan Pajak Air Permukaan (PAP) terhadap pohon kelapa sawit. Menurutnya, industri sawit justru membutuhkan penyederhanaan pungutan agar daya saing global tetap terjaga.

“Menjaga sawit berarti menjaga pangan dan energi, menjaga jutaan lapangan kerja, menjaga devisa negara, dan menjaga stabilitas ekonomi nasional,” pungkas Eddy.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense