Dark/Light Mode

Konflik Timur Tengah: AS Pertimbangkan Cabut Sanksi Minyak Rusia

Sabtu, 7 Maret 2026 14:01 WIB
Menteri Keuangan AS Scott Bessent (Foto: X)
Menteri Keuangan AS Scott Bessent (Foto: X)

RM.id  Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mempertimbangkan untuk mencabut sanksi minyak Rusia, demi mengurangi kesenjangan pasokan minyak global di seluruh dunia. Hal ini diungkap Bessent dalam wawancara dengan Fox News pada Jumat (6/3/2026), usai memuji India yang dinilai kooperatif.

"India telah menjadi aktor yang sangat baik. Kami telah meminta mereka untuk berhenti membeli minyak Rusia di musim gugur ini, dan mereka mematuhi. Selanjutnya, mereka akan membeli minyak Amerika," ujar Bessent.

Bessent kemudian menyampaikan pertimbangan AS untuk mencabut sanksi minyak Rusia. Menurutnya, langkah tersebut dapat mengurangi kesenjangan pasokan minyak global dan memberikan izin kepada India untuk membeli minyak dari Negeri Beruang Merah.

Baca juga : Konflik Timur Tengah: Putin dan Presiden Iran Sepakat Jaga Kontak

"Saat ini, ada ratusan juta barel minyak mentah Rusia yang tertahan di perairan. Jika sanksi terhadap minyak Rusia dicabut, Departemen Keuangan AS dapat menciptakan pasokan untuk meredakan tekanan pasar selama konflik," jelas Bessent.

Pernyataan Bessent muncul di tengah kekhawatiran global tentang pasokan minyak dunia, yang mencuat setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel pada Sabtu 28 Februari 2026.

Penutupan Selat Hormuz memicu kenaikan harga minyak mentah dunia secara ekstrem dan guncangan pada pasar energi global. Jika blokade berlanjut, analis memperkirakan harga minyak mentah dunia bisa mencapai 100 hingga 150 dolar AS per barel. 

Tanggapan Penasihat Ekonomi Kremlin

Baca juga : Konflik Timur Tengah Ancam MotoGP Qatar 2026

Terkait hal ini, Penasihat Ekonomi Kremlin Kirill Dmitriev mengatakan, pihaknya sedang membahas masalah ini dengan AS. "Sanksi Barat telah terbukti merugikan ekonomi dunia," tulis Dmitriev via X, Sabtu (7/3/2026).

Mengutip The Guardian, pada Kamis (4/3/2026), Pemerintah AS sementara telah melonggarkan sanksi ekonomi untuk memungkinkan India membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut. Transaksi yang mencakup kapal-kapal yang diblokir oleh berbagai rezim sanksi itu diizinkan hingga 3 April 2026.

 

Baca juga : China Minta Konflik Timteng Segera Berakhir, Ingatkan Ancaman Energi Global

 

 

 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.