Sebelumnya
“Secara global, kekurangan pesawat itu sekitar 18 persen. Itu berdasarkan data dari International Air Transport Association atau IATA tahun 2024. Sementara di Indonesia kekurangannya mencapai sekitar 23 persen,” bebernya.
Kondisi tersebut, kata dia, sebagai dampak pasca masa pandemi Covid-19, di mana banyak armada pesawat yang harus dihentikan operasionalnya alias grounded.
Hingga kini, sebagian armada tersebut masih dalam proses untuk kembali dioperasikan.
“Kekurangan pesawat ini tentu berdampak pada optimalisasi penerbangan di bandara-bandara kita, khususnya di 37 bandara yang kami kelola,” terang Syahir.
Baca juga : DKI Tak Bisa Terus Buang Sampah Ke Bantargebang
Dia menjelaskan, jika dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi pada 2019, sektor penerbangan Indonesia masih belum sepenuhnya kembali ke tingkat normal, baik dari sisi jumlah penumpang maupun frekuensi penerbangan.
Tapi dalam dua tahun terakhir mulai terlihat tren perbaikan, meskipun pertumbuhannya masih terbatas. Dari sisi penumpang misalnya, ada kenaikan sekitar 0,57 persen, meskipun dari sisi penerbangan masih mengalami penurunan.
Dia membeberkan, di antara 37 bandara kelolaan InJourney Airport, ada 5 bandara yang memiliki penerbangan terbanyak atau menjadi top bandara. Yaitu, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta/CGK), Cengkareng, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bandara Djuanda di Surabaya, Bandara Internasional Kualanamu, Medan dan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin.
“Dari lima bandara besar itu, dibandingkan tahun lalu yang menunjukkan tren positif hanya Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Sementara Medan, Makassar dan Surabaya masih mencatat pertumbuhan negatif,” ungkapnya.
Baca juga : Kapten Valverde Benamkan City
Meski demikian, pihaknya selalu siap mendukung kelancaran angkutan Lebaran dengan mulai mengoperasikan posko pemantauan di bandara mulai 13 hingga 30 Maret 2026.
Pada awal periode posko, pihaknya memproyeksikan jumlah penumpang dapat mencapai lebih dari 498.000 orang dengan sekitar 3.357 pergerakan pesawat.
“Peak-nya itu mungkin di sekitar tanggal 15 Maret 2026 dan arus baliknya pada 28 Maret 2026,” jelas Syahir.
Menurutnya, adanya kebijakan Pemerintah terkait Work From Anywhere (WFA) menjadi potensi peningkatan mobilitas yang memungkinkan masyarakat bepergian lebih awal, karena masa libur yang lebih panjang.
Baca juga : BNP Paribas Open, Djokovic Ngos-ngosan Hadapi Petenis Muda
Ia menambahkan, lonjakan penumpang diperkirakan akan terjadi di dua bandara utama, yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara I Gusti Ngurah Rai di Denpasar.
“Di Soetta pada Sabtu (14/3/2026) sekitar 179.000 penumpang. Kemudian arus baliknya pada 28 Maret 2026 sekitar 198.000 penumpang.
“Sementara kalau untuk di Bali, pada 14 Maret 2026 sekitar 67.000 penumpang dan nanti 28 Maret 2026 sekitar 73.000 penumpang,” tukasnya. [IMA]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.