RM.id Rakyat Merdeka - PT Bukit Asam (Persero) Tbk mencatatkan produksi batu bara sebesar 47,2 juta ton sepanjang tahun 2025 atau meningkat 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah tekanan penurunan harga global.
Volume penjualan ikut naik 6 persen menjadi 45,4 juta ton, mempertegas ketahanan operasional perseroan dalam menjaga kesinambungan pasokan energi nasional dan ekspor.
Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk, Arsal Ismail mengatakan, kinerja tersebut dicapai saat harga batu bara dunia mengalami koreksi signifikan, tercermin dari penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen.
“Namun, perusahaan tetap mampu mendorong pertumbuhan di sisi hulu dan hilir melalui strategi adaptif yang fokus pada efisiensi serta ekspansi pasar,” ujar Arsal di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Baca juga : Stok Beras Nasional 4,5 Juta Ton, Mentan: Cukup Untuk 11 Bulan Ke Depan
Ia menjelaskan, peningkatan aktivitas produksi berbanding lurus dengan peningkatan volume angkutan batu bara yang tumbuh 6 persen dari 38,2 juta ton menjadi 40,4 juta ton pada tahun 2025.
Struktur penjualan juga menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan domestik dan pasar global, dengan alokasi 54 persen untuk pasar dalam negeri dan 46 persen untuk ekspor.
Selain memperkuat posisi di pasar tradisional Asia seperti Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina, perusahaan juga berhasil menembus pasar Eropa melalui ekspor ke Spanyol dan Rumania.
“Langkah ini memperluas diversifikasi geografis sekaligus memperkuat daya tahan bisnis terhadap melemahnya permintaan global,” ujarnya.
Baca juga : PM Anwar: Malaysia-RI Perkuat Solidaritas Regional di Tengah Krisis Timteng
Asral menyatakan bahwa pencapaian tersebut menjadi bukti ketahanan operasional perusahaan di tengah dinamika harga komoditas.
“Tahun 2025 adalah pembuktian atas ketahanan operasional kami. Meski harga jual rata-rata terkoreksi akibat penurunan indeks Newcastle sebesar 22 persen, Bukit Asam mampu menjawab tantangan tersebut dengan peningkatan efisiensi operasional dan perluasan jangkauan pasar global,” ujarnya.
Dari sisi keuangan, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun dengan EBITDA mencapai Rp 6,08 triliun. Arus kas operasi meningkat 24 persen menjadi Rp 6,26 triliun, mencerminkan pengelolaan likuiditas yang solid di tengah tekanan harga.
Total aset tumbuh menjadi Rp 43,92 triliun, didorong oleh penambahan aset tetap strategis. Realisasi belanja modal sebesar Rp 4,55 triliun difokuskan pada pengembangan infrastruktur jangka panjang, termasuk proyek angkutan batu bara hubungan Tanjung Enim–Kramasan guna memperkuat integrasi logistik dan efisiensi distribusi.
Baca juga : Bahlil-Purbaya Jaga Harga BBM Subsidi Tak Naik Di Tengah Krisis Energi
Memasuki tahun 2026, perusahaan menyambut persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya tanpa pengurangan volume produksi. Target produksi dan penjualan yang dipatok sebesar 49,5 juta ton pada tahun ini.
Arsal menegaskan strategi cost Leadership melalui skema penambangan selektif dan optimalisasi rantai pasok akan terus diperkuat.
“Dengan fokus pada efisiensi dan pengembangan bisnis yang berkelanjutan dengan tetap mengedepankan komitmen terhadap tata kelola perusahaan, Bukit Asam optimis dapat menjaga kinerja positif yang berkelanjutan untuk berkontribusi pada perekonomian umat serta menjaga ketahanan energi nasional,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.