BREAKING NEWS
 

Pemerintah Berusaha Jinakkan Harga Plastik

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : ADITYA NUGROHO
Minggu, 19 April 2026 07:50 WIB
Pedagang produk plastik melayani pembeli di Pasar Pondok Labu, Jakarta. (Foto: Khairizal Anwar/rm.id)

 Sebelumnya 
“Kalau itu bisa, plastik diganti organik, bagus sekali,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, harga plastik sangat bergantung pada impor minyak. Karena itu, kenaikan harga minyak berdampak langsung pada lonjakan harga plastik dan ikut mendorong kenaikan harga komoditas lain. 

Oleh sebab itu, pemerintah saat ini fokus menjaga ketersediaan barang di pasar agar tidak terjadi kelangkaan. “Nah ini kita akan bicarakan, yang penting ada dulu,” pungkasnya. 

Dampak lonjakan harga ini juga dirasakan pelaku industri besar. PT Lotte Chemical Indonesia mengaku mengalami kekurangan pasokan nafta dan LPG yang selama ini dipasok dari Timteng. 

Baca juga : Eropa Krisis Avtur, AS Krisis Amunisi

“Itulah sebabnya kami operasikan pabrik dengan minimum,” kata Corporate Planning General Manager LCI, Lee Dae Lo, di Jakarta, Selasa (14/4/2026). 

Sebelum konflik memanas, hampir seluruh bahan baku LCI berasal dari Timteng. Kini, perusahaan mulai mencari alternatif pasokan dari negara lain seperti Malaysia, Singapura, hingga Nigeria. 

Meski demikian, upaya diversifikasi belum sepenuhnya mengatasi masalah karena pasokan pengganti belum mampu memenuhi kebutuhan produksi. Meski begitu, Lee menegaskan, mesin produksi akan terus berputar walau kapasitas yang dihasilkan tidak besar. 

“Kami masih berusaha untuk terus beroperasi demi industri Indonesia, terutama industri hilir,” katanya. 

Baca juga : Justin Adrian Untayana: Premanisme Tak Akan Hilang Tanpa Sikap Tegas

Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono mengatakan, kondisi pasar saat ini membuat keseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan plastik perlu dijaga. 

Menurutnya, penggunaan plastik yang berlebihan perlu dikurangi agar tidak semakin menekan rantai pasok industri. 

“Gunakan plastik secukupnya saja, jangan berlebihan. Kita harus diet plastik,” ujarnya. 

Fajar menjelaskan, gangguan pasokan dari kawasan Timteng diperkirakan masih akan berlangsung cukup panjang, bahkan dapat mencapai 6–12 bulan ke depan. 

Baca juga : Abdul Aziz: Premanisme Ganggu Investasi Dan Iklim Usaha

Kondisi ini membuat industri harus mencari sumber alternatif dari Asia dan AS untuk menjaga ketersediaan bahan baku. 

“Pilihan pasokan sekarang hanya ada di Asia dan Amerika. Kita harus menyesuaikan agar kebutuhan tetap terpenuhi,” katanya. 

Lebih lanjut, tekanan pasokan tersebut berpotensi memengaruhi harga di berbagai lini, termasuk produk berbasis plastik yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat. Di sisi lain, Inaplas juga mendorong pemerintah memberikan dukungan terhadap industri daur ulang plastik melalui insentif, guna memperkuat ketersediaan bahan baku dalam negeri di tengah gejolak global. [BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense