BREAKING NEWS
 

Ekonom Global: Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh Di Atas 6 Persen

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Selasa, 28 April 2026 15:20 WIB
Ekonom global Global Chief Economist Juwai IQI Shan Saeed menyampaikan pandangan soal ketahanan ekonomi Indonesia dalam diskusi media di Kantor Badan Komunikasi (Bakom), Jakarta, Selasa (28/4/2026). Foto: Bambang Trismawan/Rakyat Merdeka

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda, ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki ruang untuk tumbuh lebih tinggi. Bahkan, angka di atas 6 persen disebut bukan target yang sulit dicapai.

Ekonom global Shan Saeed menilai, peluang tersebut terbuka jika situasi eksternal, terutama konflik geopolitik, tidak semakin memburuk.

“Kalau tensi global mereda, saya tidak akan kaget kalau pertumbuhan Indonesia bisa menembus 6 persen,” ujarnya dalam diskusi media yang digelar Badan Komunikasi (Bakom) di Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Penilaian itu didasarkan pada kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai cukup solid. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) berada di kisaran 28 persen. Defisit anggaran dijaga di bawah 3 persen. Inflasi juga relatif terkendali, sekitar 3,5 persen. Menurut Shan, kondisi tersebut memberi ruang gerak bagi pemerintah untuk tetap menjalankan kebijakan fiskal secara optimal. Hal ini menjadi keunggulan tersendiri, di saat banyak negara lain justru menghadapi keterbatasan. 

“Banyak negara sekarang ruang fiskalnya sempit. Mereka sulit melakukan ekspansi,” katanya.

Baca juga : Indonesia Ranking 2, Di Atas China & Amerika

Ia menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di kisaran 5 persen. Dalam kondisi normal, angka itu bisa bergerak ke rentang 5 hingga 7 persen.

Selain melihat indikator makro, Shan juga menilai aktivitas ekonomi di lapangan masih menunjukkan tren positif. Ia mencontohkan tingginya aktivitas konsumsi masyarakat, yang terlihat dari ramainya restoran, meningkatnya jumlah kendaraan, serta tingginya konsumsi energi.

“Indikator sederhana seperti itu bisa menunjukkan bahwa ekonomi tetap berjalan,” ujarnya.

Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah lembaga internasional, termasuk The Economist, yang menilai Indonesia tetap menarik karena ditopang pasar domestik yang besar.

Adsense

Dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa, konsumsi domestik menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi.

Baca juga : 5.997 Calon Haji Asal Indonesia Tiba di Madinah

Di sisi lain, Shan menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia, khususnya perempuan, untuk menjaga pertumbuhan jangka panjang. Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan dan partisipasi perempuan dalam ekonomi akan memperkuat fondasi pertumbuhan sekaligus meningkatkan kepercayaan investor.

Dalam konteks tersebut, ia juga menyinggung pergerakan nilai tukar rupiah. Menurutnya, pelemahan rupiah saat ini lebih dipengaruhi faktor global, terutama penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketidakpastian.

“Ketika risiko global naik, investor cenderung mencari aset aman seperti dolar atau emas. Itu yang menekan mata uang negara berkembang,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut bukan mencerminkan lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan bagian dari dinamika pasar global.

Shan Saeed merupakan Global Chief Economist di Juwai IQI, perusahaan proptech dan penasihat real estat yang beroperasi di lebih dari 35 negara.

Baca juga : Ekonomi RI Masih Bisa Tumbuh 5 Persen Lebih Di Tengah Gejolak Global

Dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di pasar keuangan global, ia memiliki keahlian di bidang strategi makroekonomi, perbankan privat, komoditas, manajemen risiko, hingga penasihat strategis. Berbasis di Kuala Lumpur, Shan secara rutin memberikan analisis mengenai tren makro global, termasuk Belt and Road Initiative, dinamika perdagangan internasional, serta arus modal global.

Ia juga kerap diundang oleh sovereign wealth funds, regulator, dan lembaga kebijakan untuk memberikan perspektif strategis terkait arah makroekonomi, reformasi struktural, hingga risiko geopolitik.

Pada 2017, 2020, dan 2022, Shan diundang oleh Securities Industry Development Corporation (SIDC) untuk memberikan pengarahan kepada para pemangku kepentingan senior mengenai pasar keuangan regional dan prospek ekonomi global.

Secara akademik, ia meraih gelar MBA dari University of Chicago Booth School of Business, serta MBA dari Institute of Business Administration Karachi yang dikembangkan bersama Wharton School. Ia juga menyelesaikan program eksekutif di Harvard Business School, Boston, Amerika Serikat.

Dengan fondasi yang terjaga dan konsumsi domestik yang kuat, peluang pertumbuhan di atas 6 persen tetap terbuka. Tantangannya kini, menjaga momentum di tengah ketidakpastian global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense