BREAKING NEWS
 

DEN Nilai Pengelolaan Blok Ganal Butuh Teknologi Dan Investasi Tinggi

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Senin, 18 Mei 2026 16:04 WIB
Ilustrasi. Dok. Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menilai Blok Ganal memiliki tingkat kesulitan tinggi. Sebab, blok migas di lepas pantai Kalimantan Timur itu masuk dalam proyek Indonesia Deepwater Development (IDD) yang membutuhkan teknologi canggih dan modal besar.

Karena itu, menurut Kholid, jika Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) diberi hak participating interest (PI) 10 persen, justru berpotensi menjadi beban bagi daerah.

“Dalam praktiknya, BUMD akan kesulitan untuk menyediakan dana dengan nilai investasi yang sangat besar. Karena ini memang investasinya jumbo,” ujar Kholid kepada media, Senin (18/5).

Kholid menjelaskan, dalam skema participating interest, BUMD juga tidak bertindak sebagai operator. Posisi BUMD hanya menerima manfaat dari kegiatan hulu migas dengan kewajiban menyetor equity atau modal.

Namun, kata dia, mekanisme itu pun kerap menemui kendala di lapangan.

Baca juga : MHE Kenalkan Teknologi Crane Pintar untuk Industri Jatim

“Tetapi, itu pun dalam praktiknya juga susah,” katanya.

Menurut Kholid, proyek IDD seperti Blok Ganal memiliki karakter capital intensive, berteknologi tinggi, dan berisiko besar. Karena itu, kebutuhan investasinya juga sangat besar.

“Ini proyek IDD yang capital intensive, high tech, begitu juga berisiko tinggi. Tentu saja investasinya juga besar, sehingga jadi masalah biasanya,” ujarnya.

Adsense

Dia mengakui, terdapat skema agar daerah yang mendapat PI 10 persen bisa “digendong” kontraktor terlebih dahulu. Nantinya, bagian BUMD akan diberikan setelah proyek mencapai titik balik modal atau pay off.

“Jadi nyicil, ditalangi dulu kemudian bagian BUMD dipotong. Sehingga biasanya tahun pertama sampai ke-6, sampai pay off baru dapat bagian. Jadi baru menikmati hasil setelah pay off,” jelasnya.

Baca juga : Pengamat Minta Penanganan Insiden KA Bekasi Tunggu Hasil Investigasi KNKT

Karena kompleksitas proyek tersebut, Kholid membuka peluang opsi lain. Salah satunya memberikan kesempatan kepada BUMN yang memiliki kemampuan finansial lebih kuat.

“Ini menimbang tingkat risiko teknis dan modal kegiatan hulu migas lepas pantai,” katanya.

Menurut dia, peluang itu tetap bergantung pada operator Blok Ganal, yakni ENI dan Sinopec. Keduanya bisa saja melepas sebagian hak partisipasi atau farm out kepada pihak lain.

“Jadi kalau misalnya ada share yang ingin dilepas, itu mungkin saja. Dan itu saya kira strategi terbaik. Jadi Pertamina sebagai BUMN tidak menanggung risiko eksplorasi,” ujar Kholid.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur meminta bagian hak pengelolaan melalui skema participating interest atas temuan cadangan migas raksasa di lepas pantai Blok Ganal.

Baca juga : Asuransi Perjalanan Makin Mudah, MSIG Gandeng Teknologi Regional

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Timur Bambang Arwanto mengatakan, pemerintah daerah akan mengajukan permohonan keterlibatan dalam pengelolaan cadangan migas tersebut, meski lokasi sumur berada di luar batas kewenangan daerah.

Cadangan migas itu ditemukan di Sumur Geliga dan Sumur Gula yang berada di wilayah kerja Blok Ganal. Berdasarkan hasil eksplorasi, potensi cadangan diperkirakan mencapai lebih dari tujuh triliun kaki kubik gas serta sekitar 375 juta barel minyak.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense