BREAKING NEWS
 

1 Dolar Masih Rp 17.800, Obat Kuat Rupiah Belum Mujarab

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : UJANG SUNDA
Jumat, 29 Mei 2026 08:11 WIB
Penukaran dolar AS dengan rupiah. (Foto: Rizki Syahputra/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Rupiah masih loyo. Dalam perdagangan di pasar spot, Kamis (28/5/2026), nilai tukar rupiah masih di level Rp 17.800 per dolar AS. Obat yang diberikan Bank Indonesia (BI) dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar rupiah menguat, ternyata belum mujarab.

Berdasarkan data Bloomberg, perdagangan rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.846 per dolar AS. Angka ini melemah 0,25 persen dibanding penutupan perdagangan sehari sebelumnya, yang berada di level Rp 17.801 per dolar AS.

BI dan Kemenkeu sebenarnya sudah memberikan sejumlah obat kuat. Bank Sentral bahkan menempuh langkah-langkah agresif untuk membuat rupiah bangkit. Seperti menaikkan BI Rate menjadi 5,25 persen, melakukan intervensi pasar valuta asing (valas), menerbitkan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), memperluas transaksi mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT), memperkuat aturan valas, dan pengelolaan likuiditas rupiah.

Kemenkeu juga sangat aktif dalam menyuntikkan “vitamin” ke rupiah. Kementerian melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN), mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF), dan mengguyur dana ke pasar obligasi dengan target Rp 2 triliun per hari untuk menjaga kepercayaan pasar. 

Baca juga : Hoaks, 1 Juni Ada Pembatasan Kendaraan Minum Pertalite

Kenapa rupiah masih loyo? Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menerangkan, nilai tukar rupiah sangat sensitif terhadap arus dolar AS. Saat banyak dolar keluar dari Indonesia, nilai tukar rupiah akan goyang.

“Nah, di bagian ini kita sedang menghadapi tekanan," terang Yusuf, kepada Rakyat Merdeka.

Berdasarkan data BI, neraca pembayaran Indonesia kuartal I-2026 defisit hingga 9,15 miliar dolar AS. Defisit ini naik signifikan dibanding kuartal IV-2025 yang sekitar 6 miliar dolar AS.

Adsense

Yusuf melanjutkan, data penting lainnya adalah transaksi berjalan yang berubah drastis. Dari sebelumnya surplus 2,5 miliar dolar AS menjadi defisit 4 miliar dolar AS, atau turun sekitar 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Baca juga : MUI, Menag, TGB & Istana Jelaskan Kurban Presiden

"Jadi, dalam satu kuartal saja ada perubahan sekitar 6,5 miliar dolar AS. Itu bukan angka kecil," terang Yusuf.

Menurutnya, rupiah tengah merespons kondisi fundamental yang sedang melemah dari sisi eksternal. Ekonomi domestik bisa saja tetap tumbuh, tapi kalau kebutuhan dolar AS lebih besar daripada pasokannya, tekanan terhadap rupiah pasti muncul.

Dari sisi sumber devisa, kata dia, juga sedang tidak sekuat sebelumnya. Surplus perdagangan turun dari sekitar 10,2 miliar dolar AS menjadi 8 miliar dolar AS, karena permintaan ekspor dari negara mitra dagang melambat.

Di saat yang sama, pembayaran keuntungan dan bunga kepada investor asing justru meningkat, sehingga defisit pendapatan primer semakin lebar. "Kalau disederhanakan, dolar AS yang keluar lebih banyak daripada yang masuk. Itu inti masalahnya," terang Yusuf.

Baca juga : AS-Iran Saling Serang Di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Meroket Lagi

Menurutnya, obat kuat yang diberikan BI dan Kemenkeu sebenarnya sudah benar. Namun, resep yang dianjurkan bersifat meredam gejolak sementara. Saat ini, yang terpenting adalah memastikan devisa hasil ekspor benar-benar masuk ke dalam negeri dan disimpan di sistem keuangan domestik.

Dia menambahkan, secepat apapun intervensi BI, jika pasokan dolar AS menipis, tekanan terhadap rupiah akan terus muncul. Kemenkeu juga harus menjaga kredibilitas fiskal.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menjelaskan, stabilisasi rupiah tidak hanya dibebankan kepada BI. Perlu ada balanced policy mix antara moneter dan fiskal. Ketika BI sudah mengetatkan kebijakan, tapi arah maupun komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar.

Agar rupiah menguat, kata Fakhrul pasar harus diyakinkan bahwa Kemenkeu dan BI bergerak dalam arah yang sama. Di sinilah, koordinasi kebijakan menjadi sangat penting. "Pasar ingin melihat burden sharing yang lebih seimbang. Jangan semua tekanan ditanggung rupiah dan BI," ulasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense