RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, realisasi APBN hingga Mei 2026 terus menunjukkan tren positif. Pendapatan negara tumbuh kuat (19,1 persen secara year on year/yoy), belanja negara lebih cepat (tumbuh 34,4 persen yoy), dan defisit terjaga dalam batas aman.
"Yang menarik, penerimaan pajak naik 22,1 persen. Bea cukai naik 0,7 persen. Sudah positif dua bulan berturut-turut. Nanti akan naik lagi lebih bagus. Sementara Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) naik 19,9 persen," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Jakarta, Jumat (5/6/2026).
Purbaya menambahkan, tahun lalu di bulan yang sama, penerimaan pajak tercatat minus 11,3 persen dan PNBP negatif 33,2 persen.
Baca juga : Purbaya: Simpan Devisa Di Himbara, Eksportir Bisa Nikmati Pajak Hingga 0 Persen
"Jadi, sekarang ini ada perbaikan yang signifikan dibanding tahun lalu, utamanya di penerimaan pajak. Tahun lalu, full year pertumbuhan pajaknya negatif. Sekarang positif, mungkin nanti akan mencapai 20 persen atau lebih. Kita coba dorong ke atas terus, seiring perbaikan di perpajakan," jelas Purbaya.
Purbaya kemudian bertanya kepada Dirjen Pajak Bimo Wijayanto, mengenai prediksi pertumbuhan pajak hingga akhir tahun 2026. "Dia bilang 25 (persen)," ujar Purbaya sambil tertawa. Purbaya kemudian mengoreksi angka tersebut menjadi 20,5 persen. "Kita coba dorong ke arah yang lebih positif lagi," ucapnya.
Dalam realisasi APBN hingga 31 Mei 2026, pendapatan negara yang mencapai 37,6 persen dari APBN dibukukan dengan angka Rp 1.185 triliun atau naik 19,1 persen dari target APBN.
Baca juga : Dongkrak Industri Kreatif, Pemerintah Pangkas Pajak Penulis Jadi 1,5 Persen
Pendapatan negara didominasi oleh penerimaan perpajakan Rp 958,2 triliun (naik 18,9 persen), yang terdiri dari penerimaan pajak Rp 834,4 triliun (naik 22,1 persen) dan kepabeanan & cukai Rp 123,8 (naik 0,7 persen). Selain itu, juga ada pendapatan negara yang berasal dari PNBP Rp 226,4 triliun (naik 19,9 persen) dan penerimaan hibah Rp 0,4 triliun (turun 1,6 persen).
Defisit Aman Terkendali
Belanja negara yang dibukukan dengan angka Rp 1.365,4 triliun atau naik 34,4 persen dari target APBN, tercatat melebihi pendapatan negara. Sehingga, memunculkan defisit Rp 180,4 triliun atau 0,7 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB).
Defisit ini masih aman terkendali, karena berada jauh di bawah ambang batas maksimal 3 persen, sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2013 tentang Keuangan Negara.
Baca juga : 10 Perusahaan Nakal Dilaporkan ke Istana
Belanja negara terdiri dari dua komponen. Yakni belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.059,3 triliun atau naik 34,4 persen dari target APBN. Terdiri dari belanja K/L Rp 517,7 (naik 58,9 persen) dan belanja non K/L Rp 541,6 (naik 47 persen), dan transfer ke daerah Rp 306,1 triliun (turun 4,9 persen).
Keseimbangan primer mencapai Rp 58,6 triliun atau 65,5 persen dari target APBN. Sementara pembiayaan anggaran tercatat Rp 379,4 triliun atau 55,1 persen dari target.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.