RM.id Rakyat Merdeka - Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia masih belum reda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) makin rontok, sedangkan rupiah masih loyo dihajar dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun pemerintah memastikan fundamental ekonomi masih kuat, tapi dunia usaha mulai ketar-ketir menghadapi situasi ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup turun 245,01 poin atau 4,2 persen ke level 5.594,77. Padahal pada pembukaan pagi, IHSG sempat berdenyut positif, sebelum akhirnya turun semakin dalam meninggalkan level 5.600.
Kondisi serupa juga dialami nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Meskipun sempat menguat tipis 0,07 persen, rupiah masih berada di angka Rp 18.036 per dolar AS.
Baca juga : Diisukan Mau Mundur, Purbaya Tertawa: Nggak Bener Lah
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W Kamdani mengatakan, dunia usaha telah mengalami tekanan imbas pelemahan rupiah dalam beberapa bulan terakhir. "Dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa," kata Shinta dalam keterangannya, kemarin.
Ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku impor yang masih mencapai sekitar 70 persen, kata dia, menjadi salah satu sumber tekanan terbesar. Kondisi tersebut membuat biaya produksi atau cost of goods sold melonjak, margin usaha menyusut, dan ruang ekspansi perusahaan semakin terbatas.
Sektor yang paling merasakan dampaknya antara lain industri tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, hingga otomotif yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.
Baca juga : Kasus Izin Tinggal WNA, KPK Geledah Rumah Mantan Wamen Imipas
Tekanan tersebut semakin berat karena pelaku usaha juga masih dibebani tingginya biaya logistik, energi, dan pembiayaan. "Sehingga dunia usaha kini menghadapi tekanan biaya berlapis yang berasal dari faktor eksternal," jelasnya.
Untuk bertahan, banyak perusahaan mulai menerapkan langkah efisiensi seperti pembekuan rekrutmen (hiring freeze), pengendalian biaya non-esensial, penundaan investasi baru, hingga memperkuat penggunaan bahan baku lokal dan strategi lindung nilai (hedging).
Dunia usaha berharap, pemerintah tetap menjaga kredibilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar. Instrumennya, dengan meningkatkan koordinasi fiskal, moneter, dan sektor riil. Shinta memandang, upaya pemerintah dan BI dalam menjaga stabilitas rupiah sangat penting. Namun, yang tak kalah pentingnya juga berupaya menjaga komponen, seperti biaya logistik, energi, dan cost of compliance.
Baca juga : Benahi Persoalan Antrean Di SPBU, Gubernur Sumbar Bentuk Satgas Pengawasan BBM
"Perlu diimbangi dengan langkah-langkah konkret untuk menurunkan berbagai komponen high cost economy yang selama ini membebani dunia usaha," ujar Shinta.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Solihin berharap rupiah lebih stabil. Dengan begitu, kepastian dunia usaha, khususnya sektor ritel lebih terjaga.
"Nggak bikin spot jantung gitu. Naik, naik, naik terus. Maunya, stabil," ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.