BREAKING NEWS
 

IHSG Makin Rontok, Rupiah Masih Loyo

Pengusaha Mulai Ketar-ketir

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Sabtu, 6 Juni 2026 07:50 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot tajam pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026). (Foto: AI/Gemini)

 Sebelumnya 
Namun, ia juga tetap menyemangati dunia usaha agar tidak kehilangan optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan ekonomi, termasuk fluktuasi nilai tukar. "Siapapun pengusaha pada saat ini tahu kan kondisinya, kita siap-siap menghadapi suatu kondisi yang tentunya saya sebagai pengusaha terus memberikan semangat gitu ya," pesan Solihin. 

Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan perekonomian Indonesia tetap solid di tengah ketidakpastian global. "Kemudian dari inflasi yang masih terjaga, insyaallah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat," tegasnya di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/6/2026). 

Terkait kondisi IHSG dan rupiah, Prasetyo memastikan pemerintah terus berkoordinasi secara intensif. Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau perkembangan pasar serta menyiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas. 

Baca juga : Diisukan Mau Mundur, Purbaya Tertawa: Nggak Bener Lah

Pernyataan tersebut diperkuat pemaparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Juni 2026. Menurutnya, kondisi fiskal pemerintah saat ini berada dalam posisi yang sangat baik. 

Ia menegaskan, perdebatan mengenai metode perhitungan tidak mengubah fakta bahwa penerimaan negara membaik, defisit APBN tetap terkendali, dan keseimbangan primer kembali mencatat surplus. 

Purbaya menjelaskan, defisit APBN hingga Mei 2026 tercatat sebesar 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut masih berada dalam batas aman. 

Baca juga : Kasus Izin Tinggal WNA, KPK Geledah Rumah Mantan Wamen Imipas

"APBN kita amat aman. Yang jelas bisa kita kendalikan, utamanya karena pajak dan bea cukai ada perbaikan yang signifikan," tuturnya. 

Data Kementerian Keuangan menunjukkan, pendapatan negara hingga Mei 2026 mencapai Rp 1.185 triliun atau tumbuh 19,1 persen secara tahunan (year on year/yoy). Di sisi lain, belanja negara mencapai Rp 1.365,4 triliun atau meningkat 34,4 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. 

Dari total pendapatan tersebut, Rp 958,2 triliun berasal dari penerimaan perpajakan, yang terdiri dari pajak sebesar Rp 834,4 triliun serta bea dan cukai Rp 123,8 triliun. Sementara itu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat Rp 226,4 triliun dan penerimaan hibah Rp 0,4 triliun. 

Baca juga : Benahi Persoalan Antrean Di SPBU, Gubernur Sumbar Bentuk Satgas Pengawasan BBM

Adapun belanja negara sebesar Rp 1.365,4 triliun terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp 1.059,3 triliun dan transfer ke daerah Rp 306,1 triliun. Belanja pemerintah pusat mencakup belanja kementerian/lembaga sebesar Rp 517,7 triliun serta belanja nonkementerian/lembaga Rp 541,6 triliun. 

Dengan realisasi tersebut, APBN mencatat defisit Rp 180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap PDB. Angka ini meningkat dibanding posisi April 2026 yang sebesar Rp 164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap PDB. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense