RM.id Rakyat Merdeka - Maraknya pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Sumatera Utara tidak lagi sekadar menjadi persoalan kehilangan hasil panen.
Aksi yang dalam sejumlah kasus dilakukan secara terorganisir dan disertai ancaman kekerasan itu kini diduga memiliki kaitan erat dengan tingginya peredaran narkoba di wilayah tersebut.
Kondisi ini tidak hanya merugikan perusahaan perkebunan, tetapi juga mengancam penghidupan ribuan petani sawit rakyat yang menggantungkan ekonomi keluarga dari hasil panen.
Keluhan tentang maraknya pencurian TBS masih sering terdengar di berbagai sentra perkebunan di Sumatera Utara. Tidak hanya kebun perusahaan, petani kecil pun kerap menjadi sasaran.
Di sejumlah desa, aksi pencurian buah sawit menjelang panen menjadi persoalan serius karena berdampak langsung terhadap keberlangsungan ekonomi keluarga.
Salah satu petani yang merasakan dampaknya adalah Arman (54), warga Kabupaten Langkat. Kebun sawit miliknya yang tidak terlalu luas kerap menjadi sasaran pencurian, terutama menjelang jadwal panen rutin.
Bagi keluarga Arman, setiap tandan buah yang hilang memiliki arti besar. Buah yang seharusnya menjadi sumber biaya sekolah anak, kebutuhan rumah tangga, hingga modal perawatan kebun justru berpindah tangan secara ilegal kepada para pelaku pencurian.
"Saya ini petani kecil. Produksi kebun tidak banyak. Jadi ketika buah yang sudah siap panen itu dicuri, dampaknya langsung terasa ke ekonomi keluarga. Pernah saya kesulitan membeli pupuk karena hasil panen berkurang, sementara kebutuhan rumah tangga tetap harus dipenuhi," ujar Arman saat ditemui di kediamannya, Jumat (19/6/2026).
Menurut Arman, para pelaku pencurian kini semakin berani. "Kalau lihat polanya, pencurinya terorganisir. Terkadang kalau kepergok mereka berani mengancam kami dengan senjata. Jadi sangat menakutkan," tuturnya.
Kerugian yang ditimbulkan tidak hanya bersifat jangka pendek. Kebun masyarakat juga berpotensi mengalami kerusakan karena pelaku sering memanen buah secara serampangan dan tidak sesuai standar.
Baca juga : AS Larang Fans Iran Nonton di Stadion
"Dampaknya panjang. Tidak cuma rugi sekarang, sampai beberapa bulan ke depan hasil kebun kami juga terganggu karena pencuri tidak memanen sesuai standar," sambungnya.
Ganggu Produktivitas Perusahaan
Selain petani rakyat, pencurian sawit juga menjadi tantangan bagi perkebunan negara yang dikelola PTPN IV PalmCo di berbagai wilayah Sumatera Utara.
Luasnya areal perkebunan dan banyaknya akses masuk ke kawasan kebun kerap dimanfaatkan pelaku untuk mencuri TBS.
Dampaknya tidak hanya berupa hilangnya hasil panen, tetapi juga mengganggu operasional, produktivitas, dan pencapaian target perusahaan.
Dalam banyak kasus, buah yang dicuri merupakan tandan matang dengan nilai ekonomi tinggi.
Bagi para pekerja lapangan, pencurian sawit turut menimbulkan tekanan karena berkurangnya ketersediaan buah matang yang siap dipanen.
"Sering kali kami datang ke blok yang seharusnya siap dipanen, tetapi sebagian buah sudah tidak ada. Akibatnya target panen sulit tercapai," kata Zulfikar (38), seorang pemanen sawit di unit usaha PTPN IV Regional 2.
Region Head PTPN IV Regional 2, Budi Susanto.mengatakan, pencurian sawit menjadi salah satu tantangan yang mendapat perhatian serius dari manajemen.
"Setiap tandan buah yang dicuri bukan hanya mengurangi produksi perusahaan, tetapi juga berdampak terhadap efisiensi operasional dan keberlanjutan usaha," ujarnya.
Sesuai arahan direksi, PTPN IV Regional 2 terus melakukan evaluasi dan memperkuat sistem keamanan, mulai dari pembentukan tim pemetaan wilayah rawan hingga pemanfaatan teknologi guna mempersempit ruang gerak pelaku.
Baca juga : Kakek Usia 90 Tahun Ikut Marathon Perdana
Menurut Budi, penanganan kasus ini membutuhkan pendekatan komprehensif karena dalam sejumlah kasus para pelaku beroperasi secara terorganisir dan membekali diri dengan senjata.
"Karena itu kami terus memperkuat sistem pengamanan, meningkatkan patroli, memperbaiki pengawasan di titik-titik rawan, serta memperkuat kolaborasi dengan aparat penegak hukum dan masyarakat," tuturnya.
Pencurian TBS telah menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi PTPN IV PalmCo. Di Distrik Rayon Utara yang meliputi Kebun Kwala Sawit, Kebun Sawit Seberang, Kebun Sawit Hulu, Kebun Batang Serangan, dan Kebun Air Tenang di Kabupaten Langkat, angka kehilangan TBS meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir.
Pada 2024, Distrik Rayon Utara kehilangan 27.405 kilogram TBS dengan nilai kerugian Rp 84,29 juta. Angka tersebut melonjak menjadi 215.509 kilogram pada 2025 dengan nilai kerugian mencapai Rp 620,88 juta.
Sementara itu, sepanjang Januari hingga Mei 2026, kehilangan TBS telah mencapai 219.700 kilogram dengan nilai kerugian sekitar Rp 620,88 juta.
Diduga Berkaitan dengan Narkoba
Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, mengatakan hasil pengamatan di lapangan menunjukkan adanya korelasi antara tingginya peredaran narkoba dengan meningkatnya gangguan keamanan, termasuk pencurian sawit di sekitar kawasan perkebunan.
"Kami melihat ada pola yang berulang di sejumlah lokasi. Ketika peredaran narkoba meningkat, gangguan keamanan termasuk pencurian hasil kebun juga cenderung meningkat," ujarnya.
Menurut Arya, temuan tersebut sejalan dengan sejumlah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba, khususnya metamfetamin atau sabu-sabu, dapat menurunkan kontrol diri, memicu perubahan perilaku, serta meningkatkan kebutuhan ekonomi akibat ketergantungan terhadap narkotika.
Dalam kondisi kecanduan, sebagian pengguna berisiko melakukan tindak kriminal untuk memperoleh uang secara cepat demi memenuhi kebutuhan tersebut.
Saat ini, Sumatera Utara tercatat sebagai provinsi dengan tingkat penyalahgunaan narkoba tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Narkotika Nasional (BNN), jumlah pengguna narkoba di provinsi tersebut mencapai sekitar 1,5 juta orang pada 2026 atau sekitar 10 persen dari total penduduk.
Baca juga : Jemaah Dilarang Lempar Jumrah Saat Terik
Kabupaten Langkat termasuk daerah yang dinilai rawan, sementara peredaran narkoba kini juga telah menjangkau desa-desa.
Mayoritas pengguna narkoba berada pada usia produktif, kelompok yang seharusnya menjadi penggerak utama perekonomian daerah.
Karena itu, dampak penyalahgunaan narkotika tidak hanya dirasakan individu pengguna, tetapi juga keluarga, dunia usaha, dan masyarakat secara luas.
Arya menilai, pemberantasan pencurian sawit dan perang melawan narkoba merupakan dua agenda yang saling berkaitan.
Ketika peredaran narkotika berhasil ditekan, ruang bagi berbagai tindak kriminal yang menyertainya juga dapat dipersempit.
Sebaliknya, jika narkoba terus merambah masyarakat, ancaman terhadap penghidupan warga dan produktivitas sektor perkebunan akan terus membayangi Sumatera Utara.
"Menjaga kawasan perkebunan dari kejahatan tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan lingkungan sosial yang sehat dan bebas narkotika. Karena itu, PTPN IV PalmCo mendukung penuh upaya pemberantasan narkoba yang dilakukan aparat penegak hukum. Kami juga akan menjalankan berbagai inisiatif bersama seluruh pihak untuk menekan dan mencegah peredaran serta penggunaan narkoba di sekitar kebun," ujar Arya.
Dari hasil peninjauan lapangan, jajaran direksi PTPN IV PalmCo juga menemukan sejumlah titik rawan yang selama ini menghambat upaya penghentian pencurian TBS, termasuk keberadaan jaringan penadah yang diduga menjadi bagian dari mata rantai aktivitas kriminal tersebut.
Untuk menutup celah itu, PTPN IV PalmCo akan terus memperkuat sistem pengamanan serta meningkatkan koordinasi dengan aparat penegak hukum.
"Ada juga basis-basis penadah yang sebenarnya sudah menjadi rahasia umum. Semoga seluruh barang bukti yang ada dapat mempercepat penindakan oleh aparat penegak hukum. Kami berharap aparat merespons baik upaya ini," tutup Arya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.