RM.id Rakyat Merdeka - Komitmen Pertamina dalam menjaga ketahanan pasokan energi dari lapangan luar negeri tidak diragukan lagi. Lewat semangat bring barrel home, Pertamina melalui PT Pertamina Internasional EP - anak usaha PT Pertamina Hulu Energi - kembali membawa pulang minyak mentah (crude oil) dari Aljazair ke Indonesia untuk kedua kali di sepanjang tahun 2026.
31 Januari 2026, Pertamina sukses melakukan pengapalan perdana 1 juta barel minyak mentah. 24 Juni 2026, Pertamina kembali mendatangkan 450 ribu barel minyak mentah dengan menggunakan kapal tanker MT Gamkonora, milik PT Pertamina Patra Niaga. Minyak mentah yang berasal dari Blok Migas Menzel Lejmat, Aljazair itu akan diolah di Kilang Cilacap untuk mendukung produksi BBM nasional.
Pertamina Internasional EP bahkan telah menjadwalkan pengiriman ketiga pada Agustus mendatang, yang diperkirakan tiba di Indonesia pada September 2026.
“Bring barrel home merupakan wujud nyata Pertamina sebagai perusahaan energi terintegrasi dalam menjaga ketahanan energi nasional,” kata VP Corporate Communications Pertamina Muhammad Baron, Jumat (26/6/2026).
Baron menambahkan, integrasi itu tercermin dari aktivitas Pertamina Internasional EP di subholding hulu yang memiliki lapangan di Aljazair, Subholding Downstream mengerahkan Kapal Gamkonora untuk mengangkut minyak mentah, selanjutnya diolah di kilang Cilacap dan didistribuskan setelah menjadi produk.
Baca juga : DKI Gelar Konser Hingga Peluncuran Logo 5 Abad
Langkah ini diapresiasi Pengamat Ketahanan Energi, Feiral Rizky Batubara. Feiral mengatakan, program bring barrel home Pertamina merupakan strategi penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
“Ini bukan sekadar impor minyak. Ini upaya memperluas kendali Indonesia atas rantai pasok energi,” kata Feiral kepada Rakyat Merdeka, Jumat (26/6/2026).
Feiral berpendapat, ketahanan energi tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan minyak di dalam negeri, tetapi juga kemampuan negara mengamankan pasokan dari berbagai sumber yang dikelola BUMN energi nasional, dalam hal ini Pertamina.
“Minyak mentah dari aset Pertamina di Aljazair memiliki nilai strategis, karena Indonesia tidak hanya membeli minyak di pasar internasional, tetapi juga memanfaatkan produksi dari lapangan yang dikelola sendiri oleh Pertamina,” jelas Feiral kepada Rakyat Merdeka, Jumat (25/6/2026).
“Strategi ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga minyak, dan risiko gangguan rantai pasok energi,” imbuhnya.
Baca juga : Tundukkan AS, Turki Telat Bersinar
Dengan membawa pulang minyak dari aset luar negeri, Pertamina memperkuat keamanan pasokan, meningkatkan fleksibilitas sumber minyak mentah bagi kilang domestik, serta mengurangi ketergantungan pada mekanisme pasar terbuka. “Ini merupakan bagian dari strategi memperluas kontrol Indonesia atas rantai pasok energi nasional,” cetus Feiral.
Bukti Kuat Integrasi Bisnis
Feiral melihat pengiriman minyak mentah dari Aljazair untuk kedua kali sebagai bukti semakin kuatnya integrasi bisnis Pertamina, dari hulu ke hilir. Menurutnya, ketahanan energi tak bisa hanya diukur dari produksi minyak semata, tetapi harus mencakup seluruh rantai nilai. Mulai dari sumber produksi, pengangkutan, pengolahan di kilang, hingga distribusi BBM kepada masyarakat.
“Adanya keterhubungan antara aset hulu Pertamina di luar negeri, armada pengapalan melalui MT Gamkonora, dan pengolahan di Kilang Cilacap menunjukkan Pertamina tidak hanya bertindak sebagai pembeli crude oil, tetapi juga sebagai perusahaan energi terintegrasi yang mengelola pasokan dari hulu ke hilir,” beber Feiral.
Kilang Cilacap memiliki posisi strategis dalam sistem pengolahan nasional. Karena itu, pemanfaatan minyak mentah dari Aljazair untuk memenuhi kebutuhan kilang domestik akan meningkatkan efisiensi logistik, menjamin ketersediaan bahan baku, sekaligus memperkuat kendali atas rantai pasok energi.
Feiral menyebut model itu sebagai bentuk supply chain sovereignty atau kedaulatan rantai pasok. Artinya, kedaulatan energi tidak hanya berbicara mengenai kepemilikan sumber daya, tetapi juga kemampuan mengendalikan aliran energi dari sumber hingga sampai ke konsumen.
Baca juga : RD Kongo Vs Uzbekistan, Menang Lolos, Kalah Pulang
Dia meyakini, pemanfaatan produksi migas dari aset luar negeri secara konsisten akan memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Indonesia akan memiliki sumber pasokan minyak mentah yang lebih beragam, sehingga tidak terlalu bergantung pada pembelian di pasar global.
Strategi itu juga dapat memperkuat posisi Pertamina sebagai perusahaan energi nasional, yang mampu mengamankan sumber energi dari pasar internasional. Aset migas di luar negeri dapat menjadi cadangan strategis korporasi yang menopang ketahanan energi nasional, ketika terjadi gangguan pasokan global.
Terkait hal tersebut, Feiral mengingatkan Pertamina, agar senantiasa memperhatikan kesesuaian jenis minyak mentah dengan konfigurasi kilang, efisiensi biaya logistik, stabilitas kontrak jangka panjang, serta risiko geopolitik di negara tempat aset berada.
“Bring barrel home merupakan langkah yang tepat. Indonesia perlu membangun ketahanan energi yang bersifat antisipatif, bukan reaktif. Kita tidak boleh baru mencari pasokan ketika krisis terjadi. Sejak awal, kita harus menyiapkan akses terhadap sumber energi, armada, kilang, dan cadangan,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.