Dark/Light Mode

IHSG Dan Rupiah Masih Naik Turun

Jumat, 26 Juni 2026 08:05 WIB
Ilustrasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: AI/Gemini)
Ilustrasi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). (Foto: AI/Gemini)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah menunjukkan tanda pemulihan setelah mengalami tekanan. Meski begitu, pergerakan keduanya masih naik turun seiring gejolak pasar yang belum mereda.

IHSG yang sehari sebelumnya ditutup merosot 217,45 poin atau 3,5 persen ke level 5.883,88 kembali melanjutkan tren negatif saat pembukaan perdagangan Kamis (25/6/2026). Indeks dibuka melemah 10,81 poin atau 0,18 persen ke posisi 5.873,07. 

Namun, tekanan tersebut tidak berlangsung lama. Pada sesi pertama perdagangan, IHSG berbalik menguat hingga 158,05 poin atau 2,68 persen ke level 6.041. 

Meski tidak mampu mempertahankan penguatan maksimal hingga akhir sesi, indeks tetap ditutup naik 115 poin atau 1,96 persen ke level 5.999,04. Total volume perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 22,24 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 13,49 triliun.

Kondisi serupa terjadi pada rupiah. Mata uang Garuda sempat melemah pada awal perdagangan Kamis (25/6/2026) menjadi Rp 17.967 per dolar AS atau turun 15 poin dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya di level Rp 17.952 per dolar AS. 

Baca juga : Pertamax Turun, Kapan?

Meski demikian, rupiah berhasil memangkas pelemahan dan ditutup menguat di pasar spot ke level Rp 17.943 per dolar AS. 

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelaku pasar global masih cenderung bersikap hati-hati atau wait and see. Selain itu, penurunan harga minyak dunia turut membantu meredakan kekhawatiran inflasi sehingga ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mulai berkurang. 

"Penurunan harga energi mendorong investor memangkas proyeksi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed, yang tercermin dari turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS," kata Liza dalam keterangannya, Kamis (25/6/2026). 

Dari sisi geopolitik, pasar juga mendapat sentimen positif setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran melanjutkan implementasi kesepakatan damai sementara yang telah ditandatangani pekan lalu. Menurut Liza, aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang kembali meningkat turut membantu menurunkan premi risiko geopolitik di pasar energi. 

"Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kembali meningkat seiring dibukanya jalur strategis tersebut sehingga membantu menurunkan premi risiko geopolitik di pasar energi," ujarnya. 

Baca juga : Haaland Vs Mbappe, Siapa Paling Gacor?

Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, hasil pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi salah satu penyebab pelemahan IHSG dan nilai tukar rupiah. Ibrahim memandang, kondisi tersebut membuat aliran dolar dari investor asing ke dalam negeri menjadi terhambat. 

"Sebab, investor masih menunggu keputusan MSCI terkait klasifikasi pasar modal Indonesia pada November 2026," ujarnya. 

Sementara, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai, tekanan terhadap rupiah saat ini tidak semata-mata dipengaruhi faktor moneter, tetapi juga faktor eksternal. Faktor tersebut antara lain kuatnya dolar AS, tingginya imbal hasil obligasi global, pergerakan arus modal ke negara berkembang, besarnya kebutuhan valuta asing domestik, hingga masih tingginya premi risiko terhadap aset Indonesia. 

Menurut dia, kenaikan BI Rate sebesar 100 basis poin menjadi 5,75 persen sejak 20 Mei 2026 sudah tepat. "Tanpa respons dari BI, pelemahan rupiah berpotensi lebih dalam dan dapat mendorong kenaikan inflasi impor," ujarnya saat dihubungi Kamis (25/6/2026). 

Namun, kenaikan suku bunga juga memiliki konsekuensi berupa meningkatnya biaya kredit serta tekanan terhadap valuasi saham. Karena itu, Pemerintah dinilai perlu mengambil peran lebih besar dalam menurunkan premi risiko melalui disiplin fiskal, penguatan cadangan devisa, serta perluasan transaksi mata uang lokal secara lebih nyata. 

Baca juga : Korban Bergelimpangan, Bangunan Hancur Lebur

"Tanpa perbaikan di sisi fiskal, tata kelola, dan pasokan devisa, kenaikan BI Rate hanya akan membeli waktu dengan biaya ekonomi yang semakin mahal," ujarnya. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, keputusan MSCI mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market menunjukkan aksesibilitas pasar modal yang tetap terjaga. "Keputusan tersebut menegaskan bahwa pasar modal Indonesia masih memenuhi karakteristik utama sebagai pasar negara berkembang dan tetap menjadi bagian dari kelompok negara tujuan investasi global," kata Airlangga di Jakarta, Kamis (25/6/2026). 

Airlangga menambahkan, Pemerintah mencermati sejumlah masukan MSCI untuk memperkuat kualitas tata kelola pasar modal. MSCI menyoroti perlunya peningkatan transparansi struktur kepemilikan saham dan integritas pembentukan harga di pasar. 

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi nilai tukar. Menurut Dian, pelemahan rupiah hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas sistem jasa keuangan nasional. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.