RM.id Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan hampir seluruh subsektor industri pengolahan nasional masih berada dalam fase ekspansi pada Juni 2026 meski sektor manufaktur menghadapi berbagai tantangan dari sisi produksi maupun permintaan.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dipantau, sebanyak 22 subsektor mencatatkan ekspansi, sementara hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi.
"Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 22 subsektor mengalami ekspansi dan hanya satu subsektor yang mengalami kontraksi," kata Febri dalam konferensi pers penyampaian Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 di Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Ia mengatakan subsektor yang berada pada fase ekspansi memiliki kontribusi sekitar 98,6 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas pada triwulan I 2026. Hal tersebut menunjukkan bahwa industri-industri dengan kontribusi terbesar terhadap manufaktur nasional masih mencatatkan pertumbuhan aktivitas usaha.
Baca juga : Kemnaker: Industri Hasil Tembakau Serap 5,3 Juta Pekerja
Menurut Febri, dua subsektor dengan kinerja terbaik pada Juni adalah industri minuman (KBLI 11) dan industri pakaian jadi (KBLI 14) yang mencatat nilai IKI tertinggi.
Sementara itu, subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki (KBLI 15).
Secara keseluruhan, nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juni 2026 tercatat sebesar 52,90 atau masih berada di atas ambang batas ekspansi sebesar 50. Meski demikian, angka tersebut melambat 0,66 poin dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 53,56.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, IKI justru meningkat 1,06 poin dari 51,84 pada Juni 2025.
Baca juga : Kemenperin Pastikan 2 Industri Komponen Otomotif Di Jatim Masih Beroperasi Normal
Febri menjelaskan perlambatan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya tantangan yang dihadapi industri pada Juni. Selain kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi global, industri juga terdampak pemadaman listrik di sejumlah kawasan industri serta kenaikan harga gas hasil regasifikasi LNG.
Di sisi permintaan, industri juga mulai menghadapi pelemahan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga sejumlah barang konsumsi dan harga BBM nonsubsidi.
Meski demikian, Kemenperin menilai sektor manufaktur masih memiliki daya tahan yang kuat karena ditopang permintaan domestik serta membaiknya permintaan ekspor.
Hal itu terlihat dari IKI industri berorientasi ekspor yang meningkat menjadi 54,06, sedangkan IKI industri yang berorientasi pasar domestik turun menjadi 51,16 meski masih berada pada zona ekspansi.
Baca juga : Jepang di Jalur yang Benar Menuju Target Piala Dunia 2026
Pemerintah juga optimistis berbagai program strategis, seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, implementasi biodiesel B50, dan program Kampung Nelayan akan mendorong permintaan terhadap produk-produk manufaktur pada semester II 2026.
Selain itu, sebanyak 76,8 persen pelaku industri menyatakan kondisi usahanya pada Juni membaik atau stabil. Sementara tingkat optimisme terhadap prospek usaha enam bulan ke depan masih mencapai 68,6 persen, meski sedikit melambat dibandingkan bulan sebelumnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.