BREAKING NEWS
 

Menembus Sensor Hijau Global: Jalan Indonesia Membangun Ekosistem EV

Reporter & Editor :
FAZRY
Kamis, 9 Juli 2026 17:35 WIB
Ilustrasi. Salah satu pengisian daya mobil listrik di SPKLU Jakarta. (Foto: Rizki Syahputra/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di jalan-jalan kota, deru mesin pembakaran perlahan berganti dengan senyap kendaraan listrik. Peralihan ini bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan penanda transformasi industri otomotif menuju ekonomi rendah karbon.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Penjualan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) roda empat meningkat dari 272 unit pada 2021 menjadi 103.930 unit pada 2025.

Dalam empat tahun, penjualannya melonjak lebih dari 420 kali lipat. Di balik lonjakan tersebut, masih tersimpan tantangan mendasar bagi kemandirian industri nasional.

Dari ratusan ribu mobil listrik yang terjual sepanjang 2025, baru sekitar 30 persen yang dirakit di dalam negeri dengan skema Completely Knocked Down (CKD).

Selebihnya masih didatangkan dalam kondisi utuh atau Completely Built Up (CBU). Paradoks itu semakin terlihat ketika menilik komponen utama kendaraan listrik, yakni baterai. Indonesia merupakan pemilik sekaligus produsen nikel terbesar di dunia dengan lebih dari 40 persen cadangan global.

Namun, kendaraan listrik di pasar domestik yang menggunakan baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) baru menguasai sekitar 4 persen pangsa pasar.

Sebaliknya, baterai Lithium Iron Phosphate (LFP), yang bahan bakunya masih bergantung pada impor, justru mendominasi hingga 96 persen.

"Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan," tegas Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah kesempatan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persaingan global tidak lagi sekadar memproduksi kendaraan listrik, melainkan menguasai rantai pasok mineral strategis yang menopangnya.

Tanpa membangun rantai nilai dari hulu hingga hilir, Indonesia berisiko tetap menjadi pemasok bahan mentah dengan nilai tambah yang rendah.

Anatomi Katoda, Modal Geopolitik, dan Relevansi Ekonomi

Nikel menjadi mineral kunci dalam industri baterai karena menentukan performa sekaligus biaya produksi. Pada baterai modern, komponen katoda menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya pembuatan baterai.

Penguasaan rantai produksi katoda menjadi faktor penting dalam menentukan daya saing industri. Posisi Indonesia di sektor ini sangat strategis. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 132 Tahun 2024, cadangan bijih nikel Indonesia mencapai sekitar 5,3 miliar ton dengan cadangan logam sekitar 56 juta ton.

Sementara itu, United States Geological Survey (USGS) mencatat Indonesia menguasai sekitar 42–52 persen cadangan nikel dunia dan menyumbang 40–50 persen produksi global dalam beberapa tahun terakhir.

Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR), Dr. Farid Wijaya, menilai besarnya cadangan tersebut merupakan modal geopolitik sekaligus ekonomi yang sangat strategis.

"Raksasanya cadangan ini otomatis menempatkan Indonesia sebagai episentrum dan titik rujukan utama ketika masyarakat global menguji ketahanan pasokan bahan baku baterai dunia," ungkap Dr. Farid Wijaya kepada Rakyat Merdeka, Kamis (9/7/2026).

Menurut Farid, keunggulan sumber daya alam itu baru akan menjadi keunggulan kompetitif apabila Indonesia mampu bertransformasi dari eksportir bahan mentah menjadi pusat manufaktur berbasis teknologi tinggi di sepanjang rantai pasok baterai.

Momentum tersebut kini terbuka lebar. Permintaan nikel dunia untuk industri baterai diproyeksikan meningkat hampir tiga kali lipat, dari sekitar 530 ribu ton pada 2024 menjadi 1,33 juta ton pada 2030.

Baca juga : Hilirisasi Nikel, Jalan Indonesia Menjadi Kekuatan Baru Industri EV

Pada periode yang sama, porsi konsumsi nikel oleh industri baterai diperkirakan meningkat dari 15 persen menjadi 26 persen dari total permintaan global.

"Peluang emas ini nyata dan bergulir sangat cepat. Tetapi, untuk mengunci posisi sebagai pemain utama baterai EV dunia, Indonesia wajib menyajikan rantai pasok nikel yang 'bersih' dan rendah emisi. Produk kita harus mampu menembus standardisasi ketat global, seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) di Eropa, hingga mengamankan sustainable metal premiums di London Metal Exchange (LME). Ini hanya bisa dicapai melalui framework ESG yang kokoh dan konsisten," urai Farid.

Bagi Indonesia, pengembangan ekosistem NMC bukan sekadar pilihan bisnis, melainkan strategi industri. Berbeda dengan NMC yang memanfaatkan keunggulan cadangan nikel nasional, baterai LFP menggunakan bahan baku besi dan fosfat yang sebagian besar masih bergantung pada impor sehingga tidak memberikan daya ungkit (leverage) bagi industri mineral domestik.

Karena itu, dominasi LFP di pasar nasional berpotensi mengurangi manfaat hilirisasi nikel yang menjadi salah satu keunggulan kompetitif Indonesia.

Di sisi lain, proyeksi industri global menunjukkan teknologi NMC masih akan mendominasi kendaraan listrik berperforma tinggi sepanjang 2025–2035. Jendela peluang (window of opportunity) inilah yang ingin dimanfaatkan Indonesia sebelum negara lain di kawasan mengambil posisi lebih dulu.

Farid menilai, apabila ekosistem hilirisasi berhasil dibangun secara utuh, Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam membentuk arah perkembangan industri baterai global.

Orkestrasi Hulu-Hilir Bersama Jaringan BUMN

Pemerintah mempercepat pembangunan ekosistem industri baterai nasional melalui PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC).

Perusahaan ini menjadi simpul kolaborasi Grup MIND ID melalui ANTAM dan INALUM, Pertamina, serta PLN di bawah koordinasi Danantara Indonesia.

Dalam ekosistem tersebut, PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID berperan sebagai penggerak sektor hulu.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat hilirisasi nasional.

"MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia."

Komitmen tersebut diwujudkan melalui pembagian peran di sepanjang rantai pasok.

Di sektor hulu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) memastikan ketersediaan pasokan nikel jangka panjang.

Upaya tersebut didukung anggota Grup MIND ID lainnya, seperti Bukit Asam, Freeport Indonesia, INALUM, Timah, dan Vale Indonesia.

Pada sektor midstream, IBC bersama mitranya membangun fasilitas produksi Cathode Active Material (CAM) berkapasitas 30.000 ton per tahun di Tanjung Buli, Halmahera Timur, melalui joint venture CBMI dengan nilai investasi sekitar 600 juta dolar Amerika Serikat.

Adsense

Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi secara komersial (commercial operation date/COD) pada 2028.

Di sektor hilir, pabrik sel baterai CATIB di Karawang, Jawa Barat, telah memasuki tahap akhir konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2026.

Baca juga : Kenan Hijab Raih Brand Indonesia Excellence Award 2026 Berkat Strategi Digital

Pada tahap pertama, kapasitas produksinya mencapai 6,9 gigawatt hour (GWh) dan akan ditingkatkan menjadi 15 GWh pada tahap berikutnya.

Integrasi tersebut tidak hanya bertumpu pada nikel. PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga mengembangkan hilirisasi batu bara menjadi artificial graphite, material utama anoda baterai NMC.

Setiap kendaraan listrik membutuhkan sekitar 40–80 kilogram graphite, atau sekitar 20–30 persen dari total berat baterai. Apabila proyek ini berhasil, Indonesia berpeluang memperkuat rantai pasok baterai dari dua sisi sekaligus, yakni katoda berbasis nikel dan anoda berbasis graphite.

Kondisi tersebut akan memperkuat posisi Indonesia dalam industri baterai kendaraan listrik global.

Menjinakkan Tantangan Struktural: Menakar Umur Cadangan dan Jejak Karbon Smelter

Di balik peta jalan integrasi industri baterai yang terus dibangun, Indonesia masih menghadapi tantangan struktural yang tidak ringan.

Menurut Farid, tantangan terbesar bukan lagi memperbesar produksi, melainkan mengubah orientasi industri dari mengejar volume komoditas bernilai rendah menjadi membangun rantai nilai yang menghasilkan nilai tambah tinggi.

"Kita harus jujur melihat anatomi industri hari ini. Mayoritas kapasitas smelter yang menjamur di Indonesia masih dirancang untuk melayani pasar stainless steel (baja tahan karat), bukan untuk memproses nikel kelas baterai," cetus Dr. Farid.

Dominasi smelter untuk kebutuhan stainless steel memunculkan kekhawatiran baru terhadap keberlanjutan cadangan mineral nasional.

Berdasarkan kajian IESR, apabila seluruh proyek smelter berbasis nikel kadar tinggi (saprolit) direalisasikan sesuai rencana, umur cadangan saprolit Indonesia diperkirakan hanya bertahan sekitar lima hingga 13 tahun.

Farid menilai, risiko eksploitasi berlebihan dan penurunan kualitas bijih harus diantisipasi sejak dini, terutama di tengah dinamika ekonomi dan geopolitik global yang semakin tidak menentu.

Sebaliknya, peluang jangka panjang justru berada pada nikel kadar rendah (limonit), bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Dengan estimasi cadangan mencapai 1,8 hingga 2,64 miliar ton, limonit diperkirakan mampu menopang industri selama 33–34 tahun. Namun, potensi tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

"Belajar dari rapor pengelolaan saprolit, tata kelola yang jauh lebih ketat dan good governance mutlak diterapkan pada pemanfaatan limonit. Ini jangkar kita untuk memaksimalkan nilai tambah jangka panjang yang selaras dengan misi transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE)," ujar Farid.

Manusia, Alih Teknologi, dan Nyala Hijau Pabrik Karawang

Keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh investasi dan teknologi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia. Karena itu, pembangunan industri baterai nasional dibarengi dengan penguatan kompetensi tenaga kerja.

Sebanyak 600 tenaga ahli Indonesia dikirim ke Tiongkok untuk mengikuti pelatihan selama enam bulan di pusat manufaktur sel baterai. Program ini menjadi bagian dari proses alih teknologi agar kemampuan produksi tidak berhenti pada pembangunan pabrik, tetapi juga melekat pada tenaga kerja nasional.

Saat pabrik sel baterai CATIB di Karawang mulai beroperasi dengan dukungan sekitar 3.200 tenaga kerja, para tenaga ahli tersebut diharapkan menjadi tulang punggung pengoperasian teknologi manufaktur baterai di dalam negeri.

Langkah ini menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya membangun fasilitas produksi, tetapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi.

Komitmen tersebut juga dirancang sejalan dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Kompleks manufaktur CATIB di Karawang telah mengintegrasikan pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dengan kapasitas sekitar 18 MWh sehingga proses produksinya mulai diarahkan menggunakan energi yang lebih bersih.

Baca juga : GSI Ajak UMKM Dan Perempuan Indonesia Berkontribusi Bangun Ekonomi

Namun, upaya tersebut belum cukup. Dekarbonisasi juga harus menjangkau sektor hulu, terutama industri peleburan nikel yang masih menjadi penyumbang emisi besar.

Dalam peta jalan dekarbonisasi nasional, industri nikel ditargetkan memangkas emisi hingga 81 persen pada 2045, sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045.

Tantangan utamanya adalah sebagian besar smelter masih bergantung pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batubara captive.

Menurut Farid, transisi menuju pasokan listrik rendah karbon, serta peningkatan efisiensi proses produksi menjadi syarat utama agar industri nikel Indonesia tetap kompetitif.

"Jika pekerjaan rumah dekarbonisasi smelter ini gagal diselesaikan, produk nikel kebanggaan Indonesia akan menghadapi 'hukuman' tiga lapis di pasar internasional: dihantam pajak karbon ekspor, ditolak mentah-mentah oleh pasar premium pengguna mekanisme CBAM, serta kehilangan kesempatan mendapatkan harga premium (premium price) di lantai London Metal Exchange (LME). Peningkatan nilai tambah di dalam negeri akan menjadi sia-sia jika produk kita tidak lolos sensor hijau global. Kita butuh kombinasi regulasi tegas, insentif yang presisi, serta penegakan standar lingkungan yang jauh lebih berani," tegas Farid.

Karena itu, pembangunan ekosistem baterai tidak cukup berhenti pada hilirisasi mineral. Integrasi industri juga harus mencakup praktik pertambangan yang berkelanjutan, proses pengolahan rendah emisi, hingga pengembangan ekosistem daur ulang baterai (recycling) untuk mendukung ekonomi sirkular.

Stimulus Fiskal demi Ketahanan Ekosistem

Selain membangun industri, pemerintah juga berupaya memperkuat sisi permintaan melalui berbagai insentif fiskal. Langkah ini diambil untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik sekaligus memperkuat ekosistem hilirisasi nasional.

Melalui skema Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), pemerintah memberikan insentif hingga 100 persen bagi kendaraan listrik berbasis baterai NMC.

Sementara itu, kendaraan yang menggunakan baterai LFP memperoleh insentif sebesar 40 persen. Pemerintah juga memberikan subsidi Rp 5 juta per unit untuk pembelian motor listrik dengan kuota hingga 200.000 unit.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu mendorong penggunaan kendaraan listrik sekaligus meningkatkan pemanfaatan rantai pasok berbasis nikel di dalam negeri.

Pada akhirnya, ketahanan ekosistem kendaraan listrik tidak hanya ditentukan oleh besarnya cadangan mineral yang dimiliki Indonesia, melainkan oleh kemampuan membangun rantai industri yang terintegrasi.

Rantai tersebut mencakup pertambangan yang berkelanjutan, pengolahan nikel melalui teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL), produksi prekursor dan sel baterai, perakitan kendaraan di dalam negeri, hingga pengembangan industri daur ulang baterai.

Sinergi MIND ID sebagai penyedia sumber daya mineral, Indonesia Battery Corporation (IBC) sebagai pengembang ekosistem, serta dukungan kebijakan pemerintah menjadi pondasi penting bagi penguatan industri kendaraan listrik nasional.

Jika seluruh mata rantai tersebut mampu dibangun secara konsisten dan memenuhi standar lingkungan global, hilirisasi nikel tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam industri kendaraan listrik dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense