BREAKING NEWS
 

Tembus 18.000/Dolar, Rupiah Lunglai

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Jumat, 10 Juli 2026 07:30 WIB
Petugas menunjukkan lembaran mata uang rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di sebuah gerai penukaran valuta asing (money changer) di kawasan Kwitang, Jakarta, Selasa (9/6/2026). (Foto: Putu Wahyu Rama/RM.id)

 Sebelumnya 
BI optimistis, melalui berbagai langkah tersebut, rupiah akan kembali stabil secara bertahap. Namun, Denny mengingatkan, menjaga nilai tukar bukan hanya tugas BI semata, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. 

"Kita berharap ke depan rupiah perlahan menguat terhadap dolar AS. Tentunya diperlukan sinergi semua pihak," ujarnya. 

Pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi menilai, pelemahan rupiah dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Sentimen pasar memburuk setelah Presiden AS Donald Trump dikabarkan akan melanjutkan serangan terhadap Iran. 

Baca juga : Diduga Terima Gratifikasi Rp 30 Miliar, Eks Sekjen MPR Ditahan KPK

Akibatnya, sejumlah perusahaan asuransi perang menyarankan perusahaan pelayaran menghentikan sementara aktivitas melalui Selat Hormuz. "Perusahaan-perusahaan asuransi mulai mengevaluasi kembali risiko pelayaran setelah meningkatnya serangan di kawasan tersebut," kata Ibrahim. 

Selain itu, pelemahan rupiah juga dipicu risalah rapat The Fed yang menunjukkan para pejabat bank sentral AS masih terbelah mengenai arah suku bunga ke depan. 

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai percepatan realisasi APBN semester pertama 2026 ikut menjadi sentimen negatif bagi pasar. 

Baca juga : Lucius Karus: Regenerasi Politik Sebuah Keniscayaan

Rilis Survei Konsumen BI periode Juni 2026 menunjukkan turunnya tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional juga menambah tekanan terhadap rupiah. 

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menambahkan, pelemahan rupiah merupakan kombinasi sentimen domestik dan eksternal. Dari sisi domestik, pelemahan dipicu turunnya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) serta perlambatan penjualan ritel yang memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat. 

"Kondisi tersebut mengurangi minat investor terhadap aset berdenominasi rupiah," ujar Lukman. 

Baca juga : Ahmad Irawan: Regenerasi Tanggung Jawab Partai Politik

Dari luar negeri, meningkatnya konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Selain itu, pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai berakhirnya gencatan senjata kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik di kawasan tersebut. 

Meski tidak ada agenda besar rilis data ekonomi, Lukman memperkirakan pelaku pasar tetap akan fokus memantau perkembangan geopolitik Timur Tengah dan prospek ekonomi Indonesia. Dengan berbagai sentimen tersebut, ia memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan dan berpotensi bergerak di kisaran Rp 18.050 hingga Rp 18.200 per dolar AS, seiring tingginya permintaan terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian global. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense