Dark/Light Mode

Pertama Di Dunia

RI-China Kembangkan Vaksin Demam Berdarah

Jumat, 10 Juli 2026 07:00 WIB
Peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7). Foto: Dok. Kementerian
Peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7). Foto: Dok. Kementerian

RM.id  Rakyat Merdeka - Indonesia resmi meluncurkan prototipe vaksin Demam Berdarah Dengue (DBD) berbasis teknologi messenger RNA (mRNA) yang dikembangkan bersama China. Jika berhasil, vaksin tersebut akan menjadi vaksin dengue berbasis mRNA pertama di dunia, sekaligus memperkuat kemandirian industri vaksin nasional.

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pengembangan vaksin ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia untuk menguasai teknologi vaksin paling mutakhir.

Menurutnya, jika berhasil vaksin tersebut akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit dengue dan menjadi antigen keenam yang mampu diproduksi Indonesia secara utuh dari hulu hingga hilir.

“Kita berterima kasih kepada peneliti Indonesia yang mampu setara dengan peneliti dunia,” kata Budi dalam keterangan resminya dikutip, Kamis (9/7/2026).

BGS, sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, percepatan pengembangan vaksin merupakan pelajaran berharga dari pandemi Covid-19.

Saat itu Indonesia masih bergantung kepada negara lain untuk memenuhi kebutuhan vaksin, alat terapeutik dan diagnostik.

Budi menuturkan, sejak 2020 hingga 2022, Pemerintah mulai membangun ekosistem riset dan industri vaksin nasional. Dari sebelumnya hanya memiliki satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat produsen, yakni Bio Farma, Biotis, Etana dan JBio.

Baca juga : Pengadaan Rudal BrahMos Prioritaskan Alih Teknologi

Selain itu, saat ini Indonesia telah mampu memproduksi 11 dari 16 antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi nasional. Namun, baru 5 antigen yang diproduksi secara mandiri mulai dari riset, pembuatan bibit vaksin, hingga proses manufaktur. Enam antigen lainnya masih bergantung pada bahan baku impor dari China dan India.

“Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir,” tegas Budi.

Menkes menilai, pemilihan dengue sebagai prioritas didasarkan pada tingginya beban penyakit di Indonesia.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat sekitar 151 ribu kasus dengue terjadi setiap tahun dengan sekitar 650 kematian.

Angka tersebut menempatkan dengue sebagai salah satu penyakit prioritas bersama tuberkulosis, HIV, dan malaria.

Selain itu, Pemerintah setiap tahun mengeluarkan anggaran sekitar Rp 6,8 triliun hingga Rp 8,5 triliun untuk membeli vaksin dari luar negeri.

Karena itu, pengembangan vaksin dalam negeri tidak hanya memperkuat ketahanan kesehatan nasional, juga memberikan manfaat ekonomi. “Kami memprioritaskan pengembangan vaksin baru berdasarkan beban insiden dan angka kematian tertinggi. Kita pilih yang benar-benar menjadi prioritas,” ujarnya.

Baca juga : Pasca Bertemu Hakim MK, Muzani Bicara Kemungkinan Amandemen UUD 1945 Lagi

Dia juga mengajak para ilmuwan Indonesia agar hasil penelitian tidak berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi diwujudkan menjadi produk yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“Anda belum benar-benar berkontribusi pada kemanusiaan jika tulisan itu hanya berakhir sebagai tumpukan kertas. Ubahlah paper itu menjadi produk yang benar-benar menyelamatkan nyawa,” pungkasnya.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Prof. Stella Christie mengungkapkan, kolaborasi Indonesia-China telah dirintis sejak 2023.

Saat masih menjadi profesor, dia mempertemukan tim peneliti Universitas Indonesia (UI) dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu pakar vaksin dunia.

Menurutnya, kerja sama riset seperti ini menunjukkan kolaborasi tidak harus diawali dengan penandatanganan nota kesepahaman.

“Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting. Kita mulai bekerja bersama terlebih dahulu, baru MoU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian harus berjalan bersama,” jelasnya.

Ketua Tim Peneliti Vaksin Dengue mRNA UI Prof. Beti Ernawati Dewi mengatakan, prototipe vaksin saat ini masih berada pada tahap praklinis. Namun, hasil awal menunjukkan respons antibodi terhadap empat serotipe virus dengue yang beredar di Indonesia lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang telah tersedia.

Baca juga : Gugatan 5 DPC Ditolak PN Jakpus, PPP Bengkulu Ajak Kader Akhiri Polemik

“Dari hasil preclinical trial yang kita lakukan, titer antibodi untuk menetralisasi virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 strain Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial yang sudah ada di Indonesia,” ujarnya.

Tim peneliti menargetkan, vaksin tersebut mulai memasuki tahap uji klinis awal pada manusia dalam enam bulan ke depan.

Wakil Presiden Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang menyatakan, kerja sama ini menjadi langkah strategis memperkuat kolaborasi riset Indonesia-China di bidang vaksin berbasis mRNA. KPJ

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 4, edisi Kamis, 10 Juli 2026 dengan judul "Pertama Di Dunia RI-China Kembangkan Vaksin Demam Berdarah"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.