BREAKING NEWS
 

IHSG Menghijau

Purbaya Yakin Rupiah Sebentar Lagi Menguat

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : ADITYA NUGROHO
Sabtu, 18 Juli 2026 07:50 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) bersama Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri), Juda Agung (kanan), serta sejumlah pejabat menghadiri Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (14/7/2026). (Foto: Tedy/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini di zona hijau dan tetap bertahan di atas level 6.000. Bagaimana dengan rupiah? Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis nilai tukar rupiah juga akan semakin menguat. 

Sejak pembukaan perdagangan pada Jumat (17/7/2026), IHSG telah menguat 4,63 poin atau 0,08 persen ke level 6.112,84. Hingga penutupan perdagangan, indeks menguat 69,555 poin atau 1,14 persen ke level 6.177,764. Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di kisaran 6.079,318 hingga 6.192,658.

Rupiah juga menunjukkan tanda-tanda penguatan, meski masih mendekati Rp 18.000 per dolar AS. Mengutip data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup menguat 65 poin atau 0,35 persen ke level Rp 17.921 per dolar AS pada perdagangan Jumat (17/7/2026). Penguatan rupiah ditopang oleh membaiknya sentimen setelah S&P Ratings mempertahankan peringkat Indonesia pada level investment grade dengan prospek stabil. 

Terhentinya penguatan dolar AS turut memberikan tenaga bagi rupiah. Indeks dolar AS melemah 0,06 persen menjadi 100,7. Sementara itu, harga minyak mentah masih bertahan tinggi di level 84,29 dolar AS per barel, meski relatif stabil. 

Baca juga : MK Tidak Melarang, Tapi Kasih Catatan

Merespons hal tersebut, Purbaya mengaku tidak terkejut. Ia meyakini, rupiah akan terus menguat seiring membaiknya prospek ekonomi global dan meningkatnya minat investor terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Purbaya juga menyebut optimisme tersebut sejalan dengan pandangan S&P yang memproyeksikan rupiah bergerak menguat menuju kisaran yang sesuai dengan target Pemerintah. 

"Dari S&P, itu disebutkan juga kirakira rupiahnya akan menguat ke Rp 17 ribu, ke arah yang sesuai dengan target kita lah. Saya yakinkan ini perbaikan baru terjadi," kata Purbaya di Yogyakarta, Kamis (16/7/2026). 

Menurut dia, sejumlah indikator global mulai menunjukkan perbaikan. Meski harga minyak sempat berfluktuasi, kondisinya diperkirakan akan lebih terkendali dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. 

Adsense

"Artinya ekonomi global walaupun ada gangguan, masih akan lebih baik dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Jadi prospek kita lebih bagus," ujarnya. 

Baca juga : Mbappe-Kane Jaga Asa Sepatu Emas

Purbaya menjelaskan, ketika kondisi global semakin stabil, investor cenderung meningkatkan investasi ke negara-negara berkembang yang memiliki prospek pertumbuhan tinggi. 

Sebelumnya, investor cenderung menarik dana dari negara berkembang ketika ketidakpastian global meningkat. Namun, arus modal diperkirakan akan kembali masuk setelah kondisi mulai stabil. 

"Kalau ketika ketidakpastian global meningkat mereka keluar, begitu sudah stabil mereka masuk lagi. Jadi harusnya sih, nggak lama lagi rupiah akan menguat, kalau kita nggak panik," pesan Purbaya. 

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyatakan, tekanan terhadap rupiah masih cukup besar akibat meningkatnya permintaan aset dolar AS di tengah ketidakpastian global. Namun, keputusan S&P yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia memberikan sentimen positif bagi pasar keuangan domestik. 

Baca juga : KPK Tolak Laporan Gratifikasi Raja Juli

"Dampaknya masih positif. Bahkan kalau dibandingkan negara kawasan, penguatan rupiah termasuk yang terbaik, sekitar 0,2 persen," bebernya. 

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, lanjut Destry, BI telah menempuh berbagai kebijakan, mulai dari menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin sejak Mei hingga Juni 2026 sehingga kini berada di level 5,75 persen. 

Selain itu, BI juga terus memperluas penggunaan Local Currency Transaction (LCT) guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional. 

Sementara itu, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah masih dibayangi sentimen eksternal, seperti gelombang serangan AS ke Iran. Konflik berkepanjangan tersebut membuat harga minyak dunia tetap tinggi dan memunculkan kekhawatiran bahwa biaya energi dapat kembali memicu inflasi. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense