RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah terus menggenjot pengembangan sektor hulu migas. Salah satu buktinya, dimulainya pemotongan baja perdana (first steel cutting) Floating Production Storage and Offloading (FPSO) Bahtera Haluan Lestari (BHL) untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) North Hub Development di Selat Makassar.
Proyek bernilai sekitar 15 miliar dolar AS itu diyakini menjadi motor penggerak ketahanan energi sekaligus pertumbuhan ekonomi nasional.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengatakan, North Hub Development merupakan salah satu proyek hulu migas terbesar yang tengah dikembangkan di Indonesia.
Selain memperkuat ketahanan energi nasional, proyek tersebut juga diyakini mampu menciptakan ribuan lapangan kerja dan menggerakkan industri fabrikasi dalam negeri.
"Proyek ini bukan hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas industri fabrikasi lepas pantai di Batam, Bintan, dan Karimun," ujar Djoko saat acara First Steel Cutting FPSO Bahtera Haluan Lestari di Karimun, Kepulauan Riau, Kamis (23/7/2026).
Djoko menambahkan, selama masa konstruksi proyek diperkirakan menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja, mayoritas berasal dari Indonesia, khususnya masyarakat lokal.
Dia menjelaskan, North Hub Development mengintegrasikan pengembangan Lapangan Geng North dan Gehem di Cekungan Kutai, lepas pantai Kalimantan Timur, dengan total investasi sekitar 15 miliar dolar AS.
Nilai tersebut terdiri dari hampir 3 miliar dolar AS untuk pembangunan fasilitas utama dan sekitar 12 miliar dolar AS untuk pengembangan fasilitas pendukung.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Lakukan Lifting Perdana B50, Perkuat Ketahanan Energi
"Ini menjadi salah satu investasi hulu migas terbesar yang sedang dikembangkan di Indonesia," katanya.
Lebih lanjut Djoko menjelaskan, proyek tersebut berada di laut dengan kedalaman sekitar 2.000 meter, sehingga menjadi fasilitas produksi pertama di kawasan ultra deepwater yang dibangun di Indonesia.
FPSO Bahtera Haluan Lestari yang akan digunakan memiliki panjang sekitar 300 meter, lebar 45 meter, dengan bobot hampir 150 ribu ton. Sekitar 50 ribu ton struktur atas (topside) dikerjakan di Indonesia, sedangkan sisanya diproduksi di luar negeri.
FPSO tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 1 miliar kaki kubik gas per hari, kondensat sekitar 80 ribu barel per hari, serta kapasitas penyimpanan mencapai 1,4 juta barel.
Djoko optimistis proyek tersebut akan menjadi salah satu penopang target produksi migas nasional pada 2029-2030.
"Kami berharap proyek ini menjadi mesin penggerak untuk mencapai target produksi 900 ribu hingga 1 juta barel minyak per hari dan 12 miliar kaki kubik gas per hari," ujarnya.
Menurut Djoko, pencapaian first steel cutting menandai dimulainya tahap konstruksi utama FPSO, setelah sebelumnya proyek berhasil melewati berbagai tonggak penting, mulai dari penemuan cadangan gas, penyelesaian Front End Engineering Design (FEED), hingga keputusan investasi akhir (Final Investment Decision/FID) pada Maret 2026.
Dia mengungkapkan, nama Bahtera Haluan Lestari dipilih langsung oleh Menteri ESDM dari enam alternatif nama yang diajukan.
Baca juga : Sejumlah Daerah Mulai Kekeringan, Stok Beras Aman, Karhutla Mengancam
Nama tersebut mencerminkan harapan agar proyek mampu berlayar membawa manfaat jangka panjang bagi Indonesia.
Djoko menegaskan, seluruh tahapan proyek harus dijalankan dengan prinsip on time, on budget, on scope disertai tata kelola yang baik, kualitas pekerjaan tinggi, serta standar keselamatan kerja tanpa kecelakaan.
"Saya yakin proyek North Hub Development akan menjadi contoh keberhasilan pengembangan hulu migas Indonesia yang memberi manfaat nyata bagi ketahanan energi nasional," katanya.
Selain menjadi FPSO terbesar di Indonesia, fasilitas tersebut juga disebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara dan masuk dalam jajaran FPSO berkapasitas besar di dunia.
Djoko menambahkan, manfaat proyek tidak hanya berupa penyerapan tenaga kerja, tetapi juga potensi penerimaan negara yang diperkirakan mencapai hampir 13 miliar dolar AS.
Selain itu, proyek tersebut diharapkan memacu pertumbuhan industri penunjang, memperkuat iklim investasi nasional, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor global terhadap sektor hulu migas Indonesia.
Untuk pemanfaatan gas, sekitar 72 persen produksi akan dialokasikan bagi kebutuhan dalam negeri.
Sebanyak 52 persen akan disalurkan melalui jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan industri di Kalimantan, seperti kelistrikan, pupuk, petrokimia, metanol, dan amonia.
Baca juga : DPR: Program E10 Perkuat Ketahanan Energi Sekaligus Ketahanan Pangan
Sekitar 12 persen dialokasikan untuk kebutuhan energi melalui PLN dan PGN, sementara 8 persen disiapkan sebagai cadangan strategis. Sisanya, sekitar 28 persen, ditujukan untuk ekspor.
Djoko mengatakan, setelah North Hub Development, pemerintah akan melanjutkan pengembangan lapangan Geliga dengan konsep serupa. Investasi proyek tersebut diperkirakan mencapai 7-8 miliar dolar AS.
Jika seluruh proyek, yakni North Hub, Gehem, dan Geliga telah beroperasi, produksi diperkirakan mampu mencapai sekitar 2 hingga 3 miliar kaki kubik gas per hari dengan produksi kondensat sekitar 200 ribu barel per hari.
Sementara itu, Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura mengapresiasi proyek tersebut karena memberikan dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja dan investasi di daerah.
Menurutnya, manfaat proyek akan dirasakan masyarakat di Batam, Bintan, dan Tanjung Balai Karimun yang menjadi pusat aktivitas fabrikasi.
"Kami berterima kasih kepada pemerintah pusat, Kementerian ESDM dan SKK Migas atas kontribusinya terhadap investasi di Kepulauan Riau. Kami juga akan menyiapkan sumber daya manusia melalui pelatihan dan sertifikasi sesuai kebutuhan industri," ujar Nyanyang.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.