Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Sejumlah Daerah Mulai Kekeringan, Stok Beras Aman, Karhutla Mengancam
Kamis, 23 Juli 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sejumlah wilayah di Indonesia mulai dilanda kekeringan seiring memasuki puncak musim kemarau. Pemerintah memastikan stok beras nasional masih dalam kondisi aman. Namun, yang patut diwaspadai adalah munculnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam dua hari terakhir atau pada 19–20 Juli 2026, karhutla terjadi di sejumlah daerah, mulai dari Aceh Tengah, Batang Hari (Jambi), Gresik (Jawa Timur), Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), Samarinda (Kalimantan Timur), hingga Luwu Timur (Sulawesi Selatan).
Luas lahan yang terbakar bervariasi, mulai dari sekitar satu hektare hingga puluhan hektare. Karhutla terbesar terjadi di Kota Samarinda dengan luas mencapai sekitar 35,2 hektare yang tersebar di tiga lokasi.
Berkat respons cepat BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, pemadam kebakaran, dan relawan, sebagian besar kebakaran berhasil dikendalikan tanpa menimbulkan korban jiwa.
Di Aceh, kebakaran menghanguskan sekitar satu hektare lahan di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah. Di Jambi, sekitar 2,5 hektare lahan terbakar di Desa Batin, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari.
Baca juga : Nanik Deyang Mundur Karena Sakit Jantung, Mas Dar Pimpin BGN
Sementara di Gresik, Jawa Timur, api melalap sekitar tiga hektare lahan kosong di kawasan Perumahan Sentraland, Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo.
Kebakaran juga terjadi di kawasan PT Dua Samudera Perkasa Tersus Bengkirai Sungai Dua, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dengan luas lahan terdampak sekitar lima hektare. Sedangkan di Luwu Timur, Sulawesi Selatan, sekitar satu hektare lahan di belakang kawasan Pertamina Ussu ikut terbakar.
Meningkatnya kejadian karhutla menjadi perhatian serius pemerintah. Data Kementerian Kehutanan menunjukkan, hingga Juni 2026 lima provinsi dengan luas karhutla terbesar berturut-turut adalah Kalimantan Barat seluas 28.680,47 hektare, Riau 15.477,95 hektare, Nusa Tenggara Timur 10.538,30 hektare, Maluku 7.091,07 hektare, dan Papua Selatan 6.281,81 hektare.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Kementerian Kehutanan Dwi Januarto Nugroho mengatakan, khusus di Kalimantan Selatan luas karhutla sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai 383,07 hektare. Hasil pemantauan juga mendeteksi 177 titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan sedang hingga tinggi yang tersebar di sejumlah wilayah provinsi tersebut.
Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, pemerintah telah mengaktifkan Posko Pengendalian Karhutla di Kalimantan Selatan sejak 15 Juli 2026. Posko serupa diperkuat dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Baca juga : KPK Terbitkan 2 Sprindik Baru, Tetapkan Satu TSK
Selain itu, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dijalankan berdasarkan prediksi pertumbuhan awan dari BMKG. Upaya pembasahan lahan gambut melalui pengaturan pintu air juga dilakukan untuk menjaga tinggi muka air sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Jawa Mulai Krisis Air Bersih
Dampak musim kemarau mulai dirasakan di berbagai daerah. Di Jawa Timur, sebanyak 14 kabupaten telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Sebelas daerah berstatus Siaga Darurat, sedangkan Lumajang, Mojokerto, dan Situbondo telah menaikkan status menjadi Tanggap Darurat.
Kondisi serupa mulai terjadi di Jawa Tengah. Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Risca Maulida mengatakan, jumlah wilayah terdampak kekeringan terus bertambah seiring berkurangnya curah hujan. "Waspadai kekeringan saat puncak kemarau. Saat ini sudah 19 daerah terdampak," ujar Risca.
Wilayah terdampak meliputi Batang, Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Demak, Purworejo, Jepara, Kudus, Pati, Rembang, Blora, Grobogan, Klaten, Kota Surakarta, Sukoharjo, Wonogiri, Sragen, serta Kota dan Kabupaten Magelang.
Di tengah ancaman kekeringan, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi, mulai dari pembangunan jaringan irigasi untuk 900 ribu hingga satu juta hektare lahan, penyediaan benih padi tahan kekeringan, pompanisasi sumur dalam, hingga rehabilitasi jaringan irigasi.
Baca juga : Syaifullah Tamliha: Sebaiknya TNI Fokus Pada Fungsi Pertahanan
"Semua ini adalah pertahanan kita untuk mengantisipasi kekeringan. Kita sudah pengalaman menghadapi El Nino tahun 2015, 2023, dan 2024. Dengan pengalaman itu, alhamdulillah kita bisa lolos," kata Amran saat berkunjung ke ITS Cabang Buncitan, Sidoarjo, Rabu (22/7/2026).
Amran menambahkan, Indonesia tidak lagi mengimpor beras sejak 2025. Saat ini stok beras nasional mencapai sekitar 5,2 juta ton, jauh lebih tinggi dibandingkan saat terjadi El Nino beberapa tahun lalu yang hanya sekitar 1,5 juta ton. [FAQ/BYU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya