BREAKING NEWS
 

Melihat Indikator & Riset BPS, Mesin Ekonomi Kita Tetap Bertenaga

Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Senin, 10 Agustus 2026 07:50 WIB
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud. (Foto: Dok. BPS)

 Sebelumnya 
Dari sisi investasi, realisasi pada semester I 2026 mencapai Rp 1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nilai tersebut setara 49,5 persen dari target tahunan Rp 2.041,3 triliun. 

Investasi sektor hilirisasi mencapai Rp 300,1 triliun atau hampir 30 persen dari total investasi nasional. "Realisasi investasi itu juga menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung, meningkat sekitar 15 persen dibandingkan semester I 2025," kata mantan Ketua Umum Partai Golkar itu. 

Kinerja investasi tersebut dibarengi kepercayaan investor global. S&P Global Ratings mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil atau tetap berada dalam kategori investment grade. Selain itu, penerbitan Panda Bond Indonesia memperoleh peringkat AAA, level tertinggi dari lembaga pemeringkat di China. 

Untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II 2026, pemerintah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp 26,34 triliun. Stimulus tersebut mencakup bantuan pangan bagi 33,24 juta penerima manfaat, insentif transportasi, dukungan sektor pariwisata, serta program magang dan pelatihan vokasi bagi angkatan kerja muda. 

Baca juga : Suhu Memanas, Karhutla Dan Kekeringan Meluas

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berjanji mengerahkan seluruh kemampuan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 6 persen pada paruh kedua 2026. Menurutnya, kebijakan fiskal yang agresif diperlukan agar perekonomian domestik dapat tumbuh mendekati potensi maksimalnya. 

"Pertumbuhan 6,5 persen relatif mudah dicapai jika saya bisa memastikan kedua mesin pertumbuhan tersebut bergerak pada saat yang bersamaan," kata mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan ini. 

Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai, struktur pertumbuhan ekonomi saat ini masih sangat bergantung pada belanja pemerintah. Sementara itu, mesin utama sektor swasta, khususnya manufaktur dan pertambangan, masih menghadapi tekanan. 

"Dalam jangka pendek pemerintah memang dapat menjadi penyangga ekonomi, tetapi dalam jangka panjang pemerintah tidak mungkin menjadi satu-satunya penggerak ekonomi nasional," ujar Fakhrul kepada Rakyat Merdeka, kemarin. 

Baca juga : Dapur Berstandar Restoran Eks Driver Ojol Jadi Relawan

Ia mengapresiasi pemerintah yang berhasil menjaga momentum ekonomi melalui akselerasi belanja negara. Namun, keberhasilan tersebut sebaiknya menjadi jembatan menuju pemulihan sektor swasta, bukan menggantikan peran dunia usaha. 

Menurut Fakhrul, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Ruang fiskal memiliki batas, sementara pertumbuhan ekonomi berkelanjutan hanya dapat dibangun apabila sektor swasta kembali melakukan ekspansi, menciptakan investasi baru, membuka lapangan kerja dan meningkatkan kapasitas produksi. 

Fakhrul menilai, fokus kebijakan pada semester II 2026 perlu diarahkan untuk memperkuat iklim investasi, khususnya di sektor manufaktur dan pertambangan. 

Manufaktur harus kembali menjadi motor industrialisasi nasional. 

Baca juga : Kasus Bupati Pemalang, KPK Sita CCTV Hotel Tempat Pertemuan 3 TSK

Sementara sektor pertambangan perlu mendapatkan kepastian regulasi agar mampu memanfaatkan momentum harga komoditas global. "Pertumbuhan ekonomi akan menjadi jauh lebih berkualitas apabila pemerintah dan sektor swasta sama-sama menjadi mesin pertumbuhan, bukan hanya bertumpu pada belanja negara semata," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense