RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) mewaspadai potensi kenaikan harga beras, cabai, dan bawang merah akibat fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026, terutama di wilayah Indonesia bagian timur.
Deputi Gubernur BI Rizky Perdana Gozali mengatakan, kondisi El Nino berpotensi mengganggu produksi pangan sekaligus meningkatkan biaya produksi sehingga dapat memberikan tekanan terhadap harga komoditas pangan.
“Tentunya kita harus waspadai ke depan ini, terutama perlu mewaspadai risiko dari El Nino ini. El Nino diperkirakan akan lebih kuat hingga bulan Oktober 2026 di kawasan timur Indonesia, serta tekanan biaya produksi,” ujar Rizky dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Menurut dia, strategi pengendalian inflasi ke depan akan tetap difokuskan pada ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi pangan guna mengantisipasi dampak gangguan produksi akibat cuaca.
Baca juga : Tahan Suku Bunga Di 5,75%, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
Rizky mengatakan, beras, cabe, dan bawang merah menjadi komoditas yang mendapat perhatian karena rentan mengalami tekanan harga ketika terjadi gangguan produksi.
Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BI menyiapkan sejumlah strategi, antara lain penerapan digital farming dan pertanian presisi, penguatan pascapanen dan hilirisasi pangan, serta penguatan kerja sama antardaerah (KAD) berbasis wilayah surplus dan defisit pangan.
BI juga akan mengoptimalkan fasilitasi distribusi pangan (FDP), subsidi ongkos angkut, serta pelaksanaan gerakan pasar murah dengan prinsip tepat komoditas, tepat lokasi, dan tepat waktu.
Langkah pengendalian tersebut dilakukan bersama Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPIP/TPID), termasuk melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).
Baca juga : Menhut Raja Juli: El Nino 2026 Lebih Kuat dari 2015
Rizky menuturkan, pengendalian inflasi pangan tidak lagi hanya mengandalkan operasi pasar, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat produksi dan distribusi pangan secara menyeluruh dari sisi hulu hingga hilir.
Sementara itu, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan (year on year/yoy), melandai dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 3,34 persen (yoy).
Penurunan inflasi tersebut terutama didukung kelompok volatile food yang mencatat inflasi 2,52 persen (yoy), antara lain dipengaruhi oleh periode panen komoditas cabai dan bawang merah.
Meski perkembangan inflasi pangan menunjukkan perbaikan, BI tetap mewaspadai potensi tekanan harga pada periode mendatang akibat kondisi cuaca, terutama dampak El Nino terhadap produksi pangan.
Baca juga : Utang Luar Negeri RI Capai Rp 8.089 T, Naik 4,4% Di Triwulan II-2026
Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, bank sentral akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter untuk menjaga inflasi dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.
Bank Indonesia juga terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), guna mengendalikan inflasi pangan termasuk antisipasi risiko gangguan cuaca El Nino terhadap harga pangan.
Selain menjaga pasokan dan distribusi pangan, BI juga akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah untuk memitigasi dampak inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor atau imported inflation.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.