RM.id Rakyat Merdeka - Stasiun Gambir terus disiapkan untuk bertransformasi menjadi salah satu simpul penting transportasi publik di pusat Jakarta.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI akan mengembangkan Gambir secara bertahap untuk memperkuat perannya sebagai gerbang perjalanan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) sekaligus meningkatkan konektivitas antarmoda.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, pengembangan Stasiun Gambir dilakukan dengan mempertimbangkan posisi strategisnya yang berada di pusat Jakarta.
Stasiun tersebut berdekatan dengan kawasan Monas, pusat pemerintahan, perkantoran, hotel, ruang publik, serta berbagai aktivitas masyarakat.
"Gambir memiliki peran strategis dalam ekosistem transportasi Jakarta. Pengembangannya diarahkan untuk memperkuat fungsi Gambir sebagai gerbang perjalanan KA Jarak Jauh sekaligus mendukung konektivitas masyarakat menuju pusat aktivitas Jakarta,” ujar Anne.
Tingginya aktivitas pelanggan menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan tersebut. Sepanjang Januari–Juli 2026, Stasiun Gambir mencatat 3.871.579 aktivitas pelanggan, terdiri atas 1.990.205 pelanggan naik dan 1.881.374 pelanggan turun.
Baca juga : Angkutan Perkebunan KAI Naik 18 Persen, Perkuat Rantai Pasok Sawit Nasional
Data tersebut menunjukkan besarnya peran Gambir sebagai salah satu stasiun utama perjalanan KA Jarak Jauh di pusat Jakarta.
Berdasarkan kajian pengembangan New Gambir, transformasi stasiun tersebut diarahkan menjadi pusat pengalaman perjalanan yang mengintegrasikan aspek mobilitas, hospitality, leisure, dan nilai tambah kawasan.
Konsep tersebut menempatkan Gambir sebagai hub interkoneksi yang menghubungkan KA Jarak Jauh, KRL, MRT, BRT, serta kawasan Monas sebagai pusat aktivitas masyarakat.
Anne menjelaskan, pengembangan Gambir dan penguatan transportasi publik Jabodetabek merupakan bagian dari upaya menghadirkan sistem mobilitas yang semakin terkoneksi.
“KAI melihat setiap stasiun memiliki peran masing-masing dalam satu sistem transportasi. Manggarai berperan sebagai pusat perpindahan antarlintas, sementara Gambir dikembangkan sebagai gerbang KA Jarak Jauh di pusat Jakarta serta bagian dari penguatan akses menuju kawasan strategis,” tutur Anne.
Saat ini, Stasiun Gambir melayani 34 perjalanan KA reguler per hari dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian untuk naik dan turun pelanggan KA Jarak Jauh.
Baca juga : KAI-BRIN Susun Roadmap ATP, Target Uji Teknologi Rampung pada 2027
Di sisi lain, jalur layang di kawasan Gambir juga dilintasi perjalanan Commuter Line pada lintas Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo.
Meski demikian, KAI menegaskan Commuter Line yang melintas di kawasan Gambir belum melayani naik dan turun pelanggan di Stasiun Gambir.
Potensi pengembangan layanan tersebut masih menjadi bagian dari proses bertahap yang membutuhkan kesiapan infrastruktur, kapasitas lintas, sistem operasi, aspek keselamatan, serta koordinasi dengan regulator.
“Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama,” tegas Anne.
Kebutuhan penguatan integrasi transportasi di kawasan Gambir semakin relevan seiring meningkatnya mobilitas masyarakat Jabodetabek.
Volume perjalanan KRL Jabodetabek meningkat dari 217.964.892 perjalanan pada 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025. Artinya, terdapat tambahan 126.656.933 perjalanan atau pertumbuhan sebesar 58,11 persen dalam tiga tahun.
Baca juga : Dirut KAI Paparkan Strategi Layanan Berbasis Voice of Customer
Pertumbuhan tersebut juga terlihat pada lintas dengan mobilitas tinggi, salah satunya Bogor Line. Pada 2025, lintas tersebut melayani 153.538.393 perjalanan atau berkontribusi 44,55 persen dari total perjalanan KRL Jabodetabek.
Bogor Line saat ini melintas di kawasan Gambir, tetapi belum melayani naik dan turun pelanggan di Stasiun Gambir.
“Pertumbuhan perjalanan KRL menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas menuju pusat Jakarta terus meningkat. Karena itu, kesiapan Gambir perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk apabila ke depan terdapat pengembangan layanan Commuter Line di stasiun ini,” jelas Anne.
Transformasi Gambir menjadi bagian dari agenda peningkatan sistem transportasi publik Jabodetabek. Kajian New Gambir menempatkan pembenahan Gambir sebagai bagian dari penguatan kapasitas transportasi kawasan, sejalan dengan pengembangan layanan KRL, konektivitas antarwilayah, dan modernisasi stasiun strategis.
Melalui pengembangan tersebut, KAI ingin menghadirkan Gambir sebagai stasiun yang semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat, baik sebagai titik keberangkatan dan kedatangan perjalanan KA Jarak Jauh maupun sebagai bagian dari aktivitas masyarakat di pusat Jakarta.
“Transformasi Gambir disiapkan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan pelanggan, kesiapan operasional, dan pengembangan transportasi publik Jakarta ke depan,” tutup Anne.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.