RM.id Rakyat Merdeka - Perekonomian Indonesia menunjukkan daya tahan di tengah tekanan global. Setelah tumbuh 5,45 persen pada semester I-2026, Bank Mandiri memproyeksikan ekonomi nasional mampu tumbuh 5,34 persen sepanjang tahun ini, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen.
Berdasarkan Mandiri Spending Index, ekonomi pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen. Konsumsi Pemerintah melonjak 15,97 persen secara tahunan (year on year/yoy), sejalan dengan implementasi berbagai program pembangunan dan belanja prioritas.
Sementara konsumsi rumah tangga tumbuh 6,1 persen yoy pada kuartal II-2026, meski mengalami moderasi setelah mencatat pertumbuhan tinggi pada kuartal sebelumnya.
Direktur Treasury & International Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Ari Rizaldi mengatakan, permintaan domestik menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi semester I-2026, termasuk investasi dan konsumsi Pemerintah.
Baca juga : Hanya Mitra Bisnis, Beijing Jaga Jarak Dengan Teheran
“Termasuk investasi dan juga konsumsi Pemerintah,” jelas Ari dalam Indonesia Economic Outlook secara virtual, Kamis (3/9/2026).
Dari sisi harga, inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan atau masih dalam sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 1,5-3,5 persen.
Menurut Ari, kondisi tersebut menjadi fondasi positif bagi daya beli masyarakat sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.
Pada sektor eksternal, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal II-2026 mencatat defisit sekitar 0,9 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp 15,8 triliun. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan defisit 9,1 miliar dolar AS atau Rp 160,4 triliun pada kuartal sebelumnya.
Baca juga : Cadangan Air DKI Masih Aman Hingga Akhir 2026
Transaksi berjalan mengalami pelebaran defisit akibat peningkatan impor minyak dan gas (migas) yang dipengaruhi tingginya harga energi. Impor nonmigas juga meningkat untuk mendukung aktivitas ekonomi domestik.
Kondisi tersebut diimbangi surplus transaksi modal dan finansial sebesar 12 miliar dolar AS atau Rp 211,5 triliun, yang didukung masuknya investasi langsung maupun investasi portofolio.
Nilai tukar rupiah turut menunjukkan perbaikan. Pada akhir Agustus 2026, rupiah menguat 1,56 persen dibandingkan posisi bulan sebelumnya. Perkembangan ini menjadi salah satu pertimbangan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.
“Kami melihat koordinasi kebijakan menjadi semakin penting dalam kondisi saat ini,” ujar Ari.
Baca juga : Kenangan Buruk Si Ular
Dia menilai, sinergi antara Pemerintah, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan industri keuangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan makroekonomi, kecukupan likuiditas, serta keberlanjutan fungsi intermediasi.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.