Dark/Light Mode

China Tak Mau Terseret Konflik AS-Iran

Hanya Mitra Bisnis, Beijing Jaga Jarak Dengan Teheran

Sabtu, 5 September 2026 06:30 WIB
Presiden Xi Jinping (kanan) bersalaman dengan Presiden Masoud Pezeshkian di Bishkek, Kirgistan, di sela-sela pertemuan SCO pada 31 Agustus 2026. Foto: Reuters.
Presiden Xi Jinping (kanan) bersalaman dengan Presiden Masoud Pezeshkian di Bishkek, Kirgistan, di sela-sela pertemuan SCO pada 31 Agustus 2026. Foto: Reuters.

RM.id  Rakyat Merdeka - China menjadi salah satu mitra dagang utama Iran. Namun, jangan berharap Negeri Panda itu pasang badan untuk Teheran jika konflik dengan Amerika Serikat (AS) semakin panas.

Di tengah gempuran sanksi AS dan sekutunya, China tetap membeli minyak Iran dan mempertahankan hubungan dagang dengan negara tersebut. Tetapi bagi Beijing, Iran lebih tepat dipandang sebagai mitra bisnis ketimbang sekutu di kawasan Timur Tengah (Timteng).

Sejumlah analis menilai, China mengambil langkah sangat hati-hati dalam menyikapi konflik AS-Iran. Beijing diperkirakan tidak akan ikut campur terlalu jauh selama kepentingan ekonomi dan hubungan dagangnya dengan Iran tidak terganggu.

China memang menentang serangan militer dan sanksi yang dijatuhkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran. Namun, hubungan dengan Teheran hanya menjadi salah satu pertimbangan dalam politik luar negeri Beijing.

Baca juga : Cadangan Air DKI Masih Aman Hingga Akhir 2026

China juga harus menjaga hubungan dengan AS serta negara-negara Teluk. Kondisi ini membuat Negeri Tirai Bambu tidak punya banyak ruang untuk mencampuri urusan Iran lebih dalam.

“China, dengan kepentingan global yang lebih luas, hanya dapat aktif mendorong deeskalasi konflik AS-Iran. China tidak bisa dan tidak akan terlibat dalam konfrontasi sengit dengan Amerika demi kepentingan Iran,” ujar Direktur Pusat China-Timur Tengah di Universitas Shaoxing, China, Hongda Fan, dikutip Al Jazeera, Jumat (4/9/2026).

Menurut Hongda, China akan membiarkan AS dan Iran menyelesaikan persoalan mereka sendiri.

Gambaran itu terlihat dalam pertemuan tahunan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Bishkek, Kirgistan. Dalam forum yang beranggotakan 10 negara dan kerap dipandang sebagai penyeimbang pengaruh AS tersebut, Presiden China Xi Jinping bertemu dengan belasan pemimpin non-Barat, termasuk Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Baca juga : Kenangan Buruk Si Ular

Namun, media Pemerintah Iran melaporkan, Pezeshkian hanya menggelar pertemuan singkat dengan Xi, serta sejumlah kecil perwakilan negara anggota SCO di sela-sela KTT.

Setelah menghadiri KTT tersebut, Xi langsung melanjutkan perjalanan ke Mesir. Kunjungan pada 1 September itu menjadi lawatan pertamanya ke Negeri Piramida dalam satu dekade terakhir.

Di Mesir, Xi menyerukan negara-negara Timteng menentang campur tangan pihak luar. Dia juga kembali mendorong penyelesaian diplomatik atas perang yang melibatkan Iran.

Importir China Waspada Sanksi AS

Sebagai salah satu pembeli, China menyerap hingga 90 persen minyak Iran sejak AS dan Israel memulai perang pada akhir Februari lalu. Namun, minyak Iran hanya menyumbang sekitar 2 persen dari total kebutuhan energi China.

Baca juga : Debut Peringkat 1 Dunia, Jojo Ditekuk Diaspora Muda

Duta Besar Indonesia Untuk China Djauhari Oratmangun
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.