RM.id Rakyat Merdeka - Dari tepi Danau Sipin, Jambi, Leni pernah membangun mimpi sebagai atlet dayung. Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke danau yang sama dengan misi berbeda: membersihkan lingkungan sekaligus membangun kehidupan yang lebih baik bagi keluarganya.
Leni merupakan Ketua Bank Sampah Dayung Habibah. Ia sehari-hari mengolah sampah di Danau Sipin, tempat yang dahulu menjadi awal perjalanan kariernya sebagai atlet nasional dayung.
Sebelum dikenal sebagai penggerak lingkungan, Leni adalah anak kampung yang menjadikan Danau Sipin sebagai gerbang mimpinya.
Di tempat itu, ia pertama kali mengikuti ajang pencarian bakat atlet muda Jambi dan keluar sebagai juara. Kemenangan tersebut kemudian membuka jalan bagi Leni untuk mengembangkan kariernya hingga ke tingkat nasional.
Leni diberangkatkan ke Jakarta untuk menjalani pemusatan latihan menuju kejuaraan Asia, dunia, hingga SEA Games. Namun, di tengah perjalanan menuju puncak karier, ia menghadapi ujian berat dalam kehidupan keluarganya.
Pada 2010, anak Leni lahir dengan kondisi kulit langka yang membuat kulitnya mudah terluka ketika terkena sinar matahari.
Demi memenuhi biaya pengobatan, Leni bahkan sempat melepas medali-medali yang telah diperjuangkannya selama bertahun-tahun.
Keputusan tersebut membuat Leni menjadi sorotan publik sekaligus menjadi salah satu titik terberat dalam hidupnya.
Namun, dari masa sulit itu, muncul jalan baru. Menteri Pemuda dan Olahraga saat itu mengundangnya menjadi pelatih dayung di Jambi.
Tawaran tersebut membawa Leni kembali ke Danau Sipin. Namun, kondisi danau yang dahulu menjadi tempatnya membangun mimpi telah berubah.
Danau tersebut dipenuhi sampah yang menumpuk di berbagai sudut. Kondisi itu kemudian mendorong Leni memulai babak baru dalam hidupnya.
Ia mendirikan Dayung Habibah, nama yang merupakan gabungan dari kecintaannya terhadap olahraga dayung dan nama sang anak, Habibah.
Awalnya, Leni hanya berniat mengumpulkan sampah. Namun, niat sederhana tersebut berkembang menjadi cita-cita mendirikan bank sampah.
Perjalanannya tidak mudah. Warga sekitar sempat memandang sebelah mata aktivitas tersebut, bahkan mempertanyakan keterlibatan anak-anak dalam pekerjaan yang dianggap rendah.
Penolakan itu nyaris membuat usahanya berhenti. Di saat yang sama, biaya pengobatan anaknya juga masih menjadi beban yang harus dipikirkan.
Titik balik kemudian datang pada 2018 ketika Leni mengenal program pembiayaan dan pemberdayaan Mekaar dari PT Permodalan Nasional Madani (Persero).
Program pembiayaan ultra mikro tanpa agunan tersebut dirancang bagi perempuan dengan usaha kecil. Leni mendapatkan modal awal sebesar Rp 2,5 juta.
Seiring perkembangan usahanya, pembiayaan tersebut meningkat hingga Rp 10 juta. Usaha pengolahan sampah yang dijalankannya kini bahkan telah mempekerjakan empat karyawan tetap.
Baca juga : Lima Tahun Holding UMi, PNM Perkuat Akses Keuangan dan Pemberdayaan
Dampaknya tidak hanya dirasakan Leni. Sebanyak 15 perempuan yang awalnya bergabung dan menjalani proses pembekalan sebelum pencairan dana kini berkembang menjadi kelompok yang ikut menggerakkan ekonomi warga di sekitar Danau Sipin.
Kepercayaan yang tumbuh dari proses tersebut juga membuka kesempatan bagi Leni untuk memanfaatkan layanan lain dalam satu ekosistem keuangan.
"Sekarang alhamdulillah saya dapat tambahan pemasukan jadi agen BRILink Mekaar. Tetangga yang mau bayar listrik dan biaya sekolah anak tidak perlu jauh-jauh ke kota," cerita Leni.
Untuk mempersiapkan masa depan keluarganya, Leni juga mulai menabung emas melalui Tabungan Emas Pegadaian yang kini dapat diakses dan dipantau melalui aplikasi digital.
Tiga layanan dari tiga entitas dalam satu ekosistem tersebut menjadi bagian dari perjalanan Leni yang sebelumnya nyaris kehilangan harapan.
Kerja keras Leni yang dahulu dipandang sebelah mata kini mendapat pengakuan, termasuk melalui penghargaan Kalpataru.
Namun, bagi Leni, penghargaan bukan sekadar piala yang tersimpan di rak. Baginya, keberhasilan adalah ketika Danau Sipin kembali hidup dan anak-anak memiliki masa depan yang lebih cerah.
"Saya menangis, kenapa Allah punya cerita untuk saya begitu. Jadi saya bisa membantu teman-teman," ujarnya.
Perjalanan Leni yang bermula dari satu perahu dan satu genggam sampah tersebut menjadi bagian dari perjalanan lebih besar yang tengah dirayakan Holding Ultra Mikro.
Baca juga : Beasiswa PNM Sambung Mimpi Anak Nasabah Mekaar
Tanggal 13 September menjadi momentum lima tahun lahirnya Holding Ultra Mikro melalui sinergi PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Pegadaian (Persero), dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero).
Sinergi tersebut dibangun dengan cita-cita memastikan semakin banyak pengusaha kecil memperoleh akses pembiayaan dan tidak berjuang sendirian.
Group CEO BRI Hery Gunardi menegaskan, lima tahun pertama Holding Ultra Mikro menjadi fondasi untuk membangun fase pertumbuhan berikutnya.
Dengan ekosistem yang telah terbentuk, fokus selanjutnya adalah memastikan semakin banyak masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari integrasi BRI, Pegadaian, dan PNM.
“Pada akhirnya, tujuan Holding Ultra Mikro bukan sekadar menjadi ekosistem keuangan dengan skala yang besar. Kami ingin menjadi ekosistem yang mampu membuka jalan bagi masyarakat untuk bergerak dari akses keuangan menuju pemberdayaan, dan dari pemberdayaan menuju kesejahteraan. Inilah kontribusi BRI Group untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan menciptakan pertumbuhan yang semakin inklusif,” pungkas Hery.
Cita-cita tersebut kini telah menjangkau jutaan perempuan prasejahtera di berbagai wilayah Indonesia melalui pembiayaan, pendampingan, dan pendidikan keuangan yang berkesinambungan.
Leni menjadi salah satu dari jutaan wajah tersebut. Kisahnya menunjukkan bahwa modal kecil yang disertai pendampingan dapat menjadi pijakan untuk membangun keberanian, mengembangkan usaha, sekaligus membantu lingkungan sekitar.
"Lima tahun perjalanan Holding Ultra Mikro adalah lima tahun kita belajar bahwa pemberdayaan sejati tidak diukur dari besarnya modal, melainkan dari seberapa jauh ia menuntun seseorang kembali berdiri. Kisah Ibu Leni mengingatkan kita, di balik setiap danau yang kembali jernih, ada perempuan yang memilih untuk terus berjuang, dan PNM bersama BRI dan Pegadaian akan selalu berusaha untuk hadir menemani perjuangan itu," ujar Kindaris, Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero).
Dari satu danau, satu keluarga, dan satu tekad untuk tidak menyerah, kisah Leni menjadi pengingat bahwa lima tahun perjalanan Holding Ultra Mikro bukan sekadar angka pencapaian, melainkan rangkaian harapan yang terus tumbuh, sebagaimana Danau Sipin yang kembali menjadi sumber kehidupan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.