RM.id Rakyat Merdeka - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, mengingatkan pemerintah agar tidak kembali kehilangan peluang investasi besar di sektor teknologi.
Peringatan itu disampaikan Didik, menyusul penghentian pembangunan data center di Jawa Barat.
Didik menyebut penghentian proyek secara sepihak dengan alasan lingkungan, termasuk terkait pasokan air, berpotensi mengganggu iklim investasi.
“Praktik kebijakan yang menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5 persen,” kata Didik dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (4/10/2026).
Didik menambahkan, Indonesia saat ini membutuhkan investasi dalam jumlah besar. Salah satu peluang yang saat ini terbuka adalah investasi data center.
Karena itu, dia meminta pemerintah tidak membuat blunder kebijakan, yang justru membuat investor kehilangan kepastian dalam menjalankan usahanya.
Baca juga : Prof Didik Soroti Penghentian Proyek Data Center, Singgung Semikonduktor
“Kita bisa menjadi pandir seperti pelanduk terperosok dua kali di lubang yang sama. Persis seperti yang dilakukan Gubernur Jawa Barat pada saat ini. Pemerintah pada tahun 1980-an membuat blunder mengusir peluang emas investasi semikonduktor karena antiotomatisasi, dengan alasan menyingkirkan tenaga kerja manusia,” papar Didik.
Blunder kebijakan pada era 1980-an itu, menurut Didik, terjadi ketika sejumlah raksasa teknologi dunia seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat mendirikan basis perakitan chip di Jakarta dan Bandung.
Investasi tersebut kemudian terdampak kebijakan pemerintah terkait otomatisasi produksi. Tahun 1985, terjadi konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi yang dimenangkan aliran ortodoks, dengan membatasi otomatisasi dan mendorong penyerapan tenaga kerja manual.
“Praktik kebijakan kuno seperti ini tidak cocok dengan investasi canggih mereka,” ujar Didik.
Buntutnya, menurut dia, investor hengkang ke Penang, Malaysia.
Kondisi serupa, kata Didik, kembali terjadi di Jawa Barat. Investasi yang sudah berjalan justru dihentikan, sehingga berpotensi memberikan sinyal buruk bagi investor.
Baca juga : Pemerintah Siapkan Strategi Ekonomi 2027
“Ini merupakan pukulan telak terhadap investor, menjadi palu mematikan bagi investasi karena tidak mendapatkan iklim berinvestasi yang nyaman dan pasti,” tuturnya.
Indonesia Tergeser Malaysia
Menurut Didik, Indonesia saat ini layak menjadi salah satu negara tujuan investasi data center. Investasi sekitar Rp 360 triliun disebut berebut masuk Indonesia. Wilayah yang menjadi incaran investor data center antara lain adalah Batam, Jawa Barat, Madura, dan Bali.
“Perkembangan ini merupakan peluang emas. Indonesia tidak boleh terperosok ke lubang yang sama, karena pada tahun 1980-an kehilangan peluang emas investasi semikonduktor,” tegas Didik.
Menurutnya, pemerintah perlu bersiap menyambut investasi dalam jumlah besar tersebut. Didik menilai, investasi data center dapat membantu Indonesia mengejar ketertinggalan dalam menarik investasi dibandingkan negara-negara di kawasan.
“Pemerintah sudah mematok target investasi data center AI senilai Rp 360 triliun untuk masuk ke Indonesia,” kata Didik.
Dalam pandangannya, pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi pertimbangan positif bagi investor. Saat ini, Indonesia telah memiliki 182 data center yang beroperasi, dengan konsentrasi terbesar di Jakarta sebanyak 94 unit dan Batam 16 unit. Data tersebut juga disampaikan pemerintah pada pertengahan 2026.
Baca juga : Fondasi Ekonomi Menguat, Tiga Indikator Jadi Bukti
Itu berarti, kata Didik, Indonesia sudah memiliki basis operasional untuk mengembangkan teknologi data center.
Khusus Batam, rencana investasi data center diperkirakan mencapai 15-20 miliar dolar AS, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt.
Batam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah sekitar 7 persen, disebut berpotensi menjadi pusat pertumbuhan baru dengan investasi data center sebagai salah satu pilarnya.
“Indonesia pada tahun 1970-an dan awal 1980-an sudah memimpin industri semikonduktor di Asia Tenggara. Tetapi, gara-gara kebijakan yang buruk, maka posisinya tergeser oleh Malaysia,” papar Didik.
"Praktik kebijakan masa lalu yang kurang tepat dan kekalahan dalam menarik investasi dibandingkan negara tetangga, menyebabkan peluang tersebut hilang," imbuhnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.