BREAKING NEWS
 

Bermodal Blender Rp 300 Ribu, Sambal Makassar Ini Tembus Pasar Internasional

Reporter : DWI ILHAMI
Editor : FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 29 Oktober 2026 10:21 WIB
Melyana Khohari (45) sukses memasarkan sambal botolan bernama Simpati Lombok Kuning, dari racikan sederhana menjadi produk yang menjangkau pasar internasional. (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

 Sebelumnya 
Tak hanya Simpati Lombok Kuning, produk bandeng presto jumbo Bolubollo di bawah naungan PT Mitra Indah Sulindo juga mencatatkan perkembangan usaha setelah menjadi mitra binaan Program REWAKO BI Sulsel. Usaha kuliner ini dirintis Sumanto (48), yang memutuskan beralih profesi setelah puluhan tahun bekerja sebagai pegawai bank swasta. Ia mulai menekuni bisnis kuliner pada 2021.

 

Sumanto, produsen bandeng presto jumbo Bolubollo binaan BI. (Foto: Dwi Ilhami/Rakyat Merdeka/RM.id)

Melimpahnya ikan bandeng di wilayah Sulawesi menguatkan keyakinannya untuk mencoba peruntungan di bidang pengolahan hasil perikanan. Berbekal uang pesangon dan modal pribadi sekitar Rp 35 juta-Rp 50 juta, Sumanto membeli panci, bahan baku, dan perlengkapan produksi sederhana. Ia ingin menghasilkan olahan bandeng tanpa bahan pengawet. Teknik presto dipilih untuk melunakkan duri ikan sekaligus menjaga dagingnya tetap utuh.

Baca juga : Sambal Makassar Tembus Pasar Ekspor, Bandeng Presto Masuk Retail

Sumanto, yang akrab disapa Manto, menuturkan bahwa pendampingan BI membantunya memahami pemasaran dan pengelolaan keuangan. Salah satunya melalui penggunaan aplikasi SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) untuk mencatat transaksi usaha.

BI juga membantu pengurusan perizinan dan sertifikasi halal, sekaligus membuka akses ke jaringan ritel modern di luar Sulsel, antara lain Hero, Gelael, Lotte Mart, dan Farmers Market.

"Sekitar 80-90 persen, kami mengandalkan penjualan di jalur ritel modern,” kata Manto.

Baca juga : Joglo Ayu Tenan, UMKM Binaan BI Yang Sukses Jaring Pasar Jepang Dan Singapura

Bolubollo kini memproduksi rata-rata 800 kemasan per bulan dengan omzet sekitar Rp 70 juta. Saat permintaan mencapai puncaknya, seperti pada Ramadan dan setelah musim haji, omzet dapat mendekati Rp 100 juta. Pada periode tersebut, margin keuntungan juga meningkat hingga sekitar 30-35 persen.

Meski demikian, Manto mengakui ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan. Pasokan ikan bandeng untuk Bolubollo antara lain berasal dari Palopo dan Mamuju. Namun, kontinuitas pasokan belum dapat dipastikan. Keterbatasan ruang penyimpanan juga menghambat pengadaan bahan baku dalam jumlah besar.

Hingga kini, Bolubollo belum memiliki kemitraan langsung dengan pembudidaya ikan. Untuk mengatasi kendala tersebut, Manto berencana memperluas tempat produksi dan menambah varian olahan ikan laut, seperti ikan kembung dan ikan layang.

Baca juga : Eceng Gondok Bawa UMKM Asal Bantul Go Global

Terkait peluang ekspor, Manto mengaku masih mempertimbangkannya. Untuk saat ini, ia memilih memperkuat pasar domestik terlebih dahulu. “Prinsip saya sederhana, bangun yang kuat di rumah dulu. Baru melangkah lebih jauh," tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense