Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Prabowo Minta BRIN Percepat Riset Pencegahan Karhutla hingga Vaksin
- Akademisi Apresiasi Reformasi BUMN, Danantara Rampingkan 364 Perusahaan
- Pengembangan Penyidikan, KPK Geledah Kantor PT Djarum & Bea Cukai Kudus
- Tok! BEI Siap Bagikan Dividen Rp 1,564 T
- Prabowo Beri Selamat Atas Kemenangan Lula, Dorong Penguatan Hubungan RI-Brazil
UMKM Binaan BI di Sulsel Naik Kelas
Sambal Makassar Tembus Pasar Ekspor, Bandeng Presto Masuk Retail
Kamis, 29 Oktober 2026 06:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Langkah Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) membina Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menunjukkan hasil menggembirakan. Pemasaran produk UMKM meningkat, bahkan ada yang berhasil tembus ke pasar ekspor.
Di tengah fluktuasi harga pangan dan tekanan inflasi, peran UMKM tidak hanya menopang perekonomian masyarakat, tetapi juga berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja dan menjaga ketersediaan pasokan pangan di daerah.
Di Sulsel, dua UMKM binaan BI, yakni Simpati Lombok Kuning yang memproduksi sambal dan Bolubollo yang mengolah bandeng presto khas Makassar, menjadi contoh pengembangan usaha melalui pendampingan berkelanjutan.
Simpati Lombok Kuning telah menembus pasar ekspor, sedangkan Bolubollo memperluas jangkauan penjualan melalui jaringan ritel modern.
Co-Founder Simpati Lombok Kuning Melyana Khaohari saat memamerkan produk sambalnya. (Foto: Dwi Ilhami/RM.id)
Sejak 2022, Kantor Perwakilan (KPw) BI Provinsi Sulsel membina pelaku usaha melalui Program UMKM REWAKO (Resilient, World Class, Agile, Knowledgeable). Pembinaan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan dasar usaha hingga pengembangan pasar.
“Hingga tahun ini, REWAKO telah memasuki batch (angkatan) ke-5 dengan total 215 UMKM yang telah masuk dalam ekosistem pembinaan,” jelas Kepala KPw BI Provinsi Sulsel Rizki Ernadi Ermanda di Makassar, Sulsel, Jumat (23/10/2026).
Rizki mengatakan, pembinaan tidak hanya berupa pelatihan, tetapi juga mencakup seleksi, asesmen, peningkatan kapasitas, pendampingan, implementasi, hingga pemantauan perkembangan usaha.
Selain itu, KPw BI Sulsel juga menyiapkan jalur pengembangan bagi UMKM yang memiliki produk dan kapasitas untuk memasuki pasar global melalui Program UMKM REWAKO Ekspor. Program ini telah berjalan sejak 2024, dengan total peserta yang telah masuk dalam ekosistem REWAKO Ekspor hingga tahun ini mencapai 137 UMKM.
Kisah Sukses Dua UMKM
Baca juga : Lokasi Strategis, Waduk Melati Saatnya Bersolek
Bisnis sambal Simpati Lombok Kuning dimulai dari usaha sederhana oleh pasangan suami istri Ridwan Wahyudi Chandra (45) dan Melyana Khohari (45), di Makassar.
Mereka memulai produksi dengan satu blender seharga Rp300 ribu dan resep warisan keluarga.
“Awalnya pada 2017 saat mengelola kedai bakmi, orang-orang justru suka sama sambal pendamping buatan kami sendiri. Dari situ banyak yang membelinya terpisah,” cerita Melyana saat ditemui Rakyat Merdeka di Makassar, Kamis (22/10/2026).
Sambal mereka memiliki warna kuning alami dari perpaduan cabai pilihan, tanpa pewarna, pengawet, maupun zat aditif buatan. Cita rasanya khas Makassar, yakni pedas, asin, sedikit asam, dan beraroma bawang putih.
Pada 2024, Simpati Lombok Kuning terpilih menjadi mitra binaan BI melalui Program REWAKO UMKM. Sebelum mengikuti pembinaan, Ridwan dan Melyana berfokus pada produksi dan penjualan tanpa pengelolaan usaha yang terstruktur.
Melalui program tersebut, mereka belajar memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menyusun rencana bisnis, serta memanfaatkan pemasaran digital dan media sosial.
“BI mengajarkan kami, bedanya pedagang dan pengusaha. Langkah demi langkah,” kenang Melyana.
Setelah setahun menjalani pembinaan dan evaluasi, mereka memperoleh bantuan mesin pengisi sambal ke botol senilai Rp100 juta-Rp200 juta. Menurut Melyana, bantuan tersebut diberikan setelah melalui penilaian kesiapan usaha.
Baca juga : Ledek Mao Zedong, Mbappe Diboikot China
Penguatan kualitas dan kapasitas produksi membantu Simpati Lombok Kuning memperluas pemasaran. Produknya kini tersedia di berbagai jaringan ritel di Sulsel, termasuk Indomaret, Alfamart, Hypermart, Transmart, Lotte Grosir, Farmers Market, dan Diamond Market. Produk tersebut juga dipasarkan melalui sejumlah toko oleh-oleh di Makassar hingga Papua.
Fasilitasi BI turut membuka peluang ekspor. Produk sambal Simpati Lombok Kuning untuk pertama kalinya menembus pasar Jepang. Melalui pameran dagang internasional, mereka juga memperoleh kesepakatan pemasokan ke toko produk Indonesia di Singapura, dengan pengiriman perdana yang direncanakan berlangsung dua minggu setelah wawancara. Jangkauan ekspornya juga disebut telah meluas ke Brunei, New Zealand, dan negara lainnya.
Bisnis ini mencatat omzet sekitar Rp 2 miliar per tahun, dengan produksi hingga 1.800 botol berukuran 140 mililiter setiap hari. Selain ukuran tersebut, tersedia kemasan 330 ml, 650 ml, hingga 5 liter untuk memenuhi kebutuhan hotel, restoran, dan kafe.
Fluktuasi harga cabai masih menjadi tantangan. Ketika harga bahan baku naik dari Rp 30 ribu-Rp 32 ribu menjadi Rp 75 ribu per kilogram, mereka tidak serta-merta menaikkan harga jual. Pasokan cabai didatangkan dari Jeneponto, Enrekang, dan Takalar karena lahan pertanian cabai di Makassar sangat terbatas.
“Kami menyiasatinya dengan mengelola stok serta menahan diri demi konsistensi rasa. Itulah seni bertahan,” ujar Melyana.
Saat ini, Simpati Lombok Kuning mempekerjakan sekitar 10 karyawan. Melyana menilai, ketekunan, konsistensi, dan keterbukaan untuk belajar menjadi faktor penting dalam mengembangkan usaha.
Pengalaman serupa dialami Sumanto (48), pemilik PT Mitra Indah Sulindo yang memproduksi bandeng presto jumbo bermerek Bolubollo. Ia memulai usaha pada 2021 setelah puluhan tahun bekerja sebagai pegawai bank swasta.
Dengan memanfaatkan uang pesangon dan modal pribadi sekitar Rp35 juta-Rp50 juta, Sumanto membeli panci, bahan baku, dan perlengkapan sederhana. Ia ingin menghasilkan olahan bandeng tanpa pengawet.
Baca juga : Aston Martin Terpuruk, Honda Siapkan Dua Jurus
Manto, sapaan Sumanto, melihat peluang dari melimpahnya ikan bandeng di perairan Sulawesi. Teknik presto dipilih untuk melunakkan duri ikan sekaligus menjaga dagingnya tetap utuh.
Setelah mengetahui Program REWAKO melalui media sosial, ia mendaftarkan diri pada gelombang kedua. Pendampingan BI membantunya memahami pemasaran dan pengelolaan keuangan, termasuk menggunakan aplikasi SIAPIK (Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan) untuk mencatat transaksi usaha.
BI juga membantu pengurusan perizinan dan sertifikasi halal serta membuka akses ke jaringan ritel modern, antara lain Hero, Gelael, Lotte Mart, dan Farmers Market, di luar Sulsel.
“Sekitar 80 persen-90 persen kami mengandalkan penjualan di jalur ritel modern,” kata Manto.
Bolubollo kini memproduksi rata-rata 800 kemasan per bulan dengan omzet sekitar Rp70 juta. Saat permintaan mencapai puncaknya, seperti pada Ramadan dan setelah musim Haji, omzet dapat mendekati Rp100 juta. Margin keuntungan disebut bisa meningkat sekitar 30 persen-35 persen.
Ketersediaan bahan baku masih menjadi kendala. Pasokan bandeng berasal dari tempat pelelangan ikan dengan sumber antara lain Palopo dan Mamuju, tetapi kontinuitasnya belum dapat dipastikan. Keterbatasan ruang penyimpanan juga menghambat pengadaan dalam jumlah besar karena belum ada kemitraan langsung dengan pembudidaya.
Manto berencana memperluas tempat produksi dan menambah varian olahan ikan laut, seperti ikan kembung dan ikan layang. Peluang ekspor mulai dipantau, tetapi ia memilih memperkuat pasar domestik terlebih dahulu.
“Prinsip saya sederhana, bangun yang kuat di rumah dulu. Baru melangkah lebih jauh,” tegasnya. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya