BREAKING NEWS
 

Merawat Bumi, Mengangkat Ekonomi: Jejak Pemberdayaan PT Vale di Kolaka

Reporter & Editor :
FAZRY
Sabtu, 31 Oktober 2026 10:35 WIB
Rahmat, Ketua Forum Kebun Kakau, Selasa (27/10/2026). . (Foto: Fazry Rakyat Merdeka)

RM.id  Rakyat Merdeka - Mentari belum sepenuhnya tinggi di Desa Bende, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Namun, denyut kehidupan di tanah ini telah berdetak dinamis.

Di antara rerimbunan pohon cokelat yang tertata rapi, Rahmat (64), Ketua Forum Kebun Kakao, berdiri memandangi kebun yang kini kembali menjadi tumpuan harapan ratusan petani lokal.

Perjalanan Rahmat dan para petani di sana tidaklah instan. Jauh sebelum program pendampingan hadir, mereka mengelola kebun dengan cara-cara konvensional bermodal pengalaman turun-temurun, dengan hasil yang sering kali pas-pasan.

Pohon kakao sempat menjadi cerita masa lalu yang hampir terlupakan akibat serangan hama yang masif.

Situasi semakin pelik karena anak-anak muda di desa lebih memilih merantau atau bekerja di sektor pertambangan yang menawarkan pendapatan instan.

Namun, angin perubahan berhembus dalam dua tahun terakhir. Pada kunjungan hari kedua, Selasa (27/10/2026), Rakyat Merdeka bersama rombongan jurnalis finalis Media MIND ID berkesempatan melihat lebih dekat program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia Tbk.

Agenda hari itu memberikan gambaran komprehensif tentang pengembangan kakao, pertanian organik, dan pengelolaan sampah.

"Alhamdulillah, berkat program PPM dari PT Vale Indonesia, warga kami merasakan manfaatnya. Dari sisi ekonomi, pendapatan petani kakao meningkat," ujar Kepala Desa Bende, Hamzah M. kepada Rakyat Merdeka di kebun Kakao.

Hamzah mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi desa yang sebelumnya hanya berada di angka 40 hingga 45 persen, melonjak tajam hingga 85 persen setelah masuknya program PPM PT Vale Indonesia Tbk.

Baca juga : Dari "Bukan Siapa-Siapa" Menjadi Maestro Organik: Asa Baru Hijau di Tanah Puuroda

Transformasi ini terbukti mendongkrak kesejahteraan. Jika sebelumnya pendapatan petani hanya berkisar di angka 40 persen, kini grafiknya berbalik drastis hingga menyentuh 80 hingga 85 persen.

Selain itu, harga jual biji kakao yang dulunya bermain di kisaran Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram, kini melompat naik menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram.

Rahmat sendiri merasakan langsung dampaknya; dari 600 pohon kakao miliknya, produksi bulanan meningkat signifikan dan hasilnya mampu dinikmati secara berkelanjutan.

Para petani tidak lagi sekadar menjual biji kakao mentah dengan harga rendah. Kini, mereka mampu mengolahnya secara mandiri, yang secara otomatis melipatgandakan perolehan cuan dan memperluas pengetahuan mereka.

Kakao memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai sumber penghasilan masyarakat. Namun, produktivitas dan kualitas hasil perkebunan bergantung pada sejumlah faktor, termasuk teknik budidaya, pemeliharaan tanaman, pengendalian hama, serta penanganan pascapanen.

Melalui program Cocoa Demplot dan Sekolah Lapang, para petani dibekali ilmu mulai dari pembibitan, teknik sambung pucuk, hingga manajemen panen secara cuma-cuma.

Transformasi ini terbukti mendongkrak kesejahteraan secara drastis. Menurut Senior Manager Social Development Program PT Vale Indonesia, Lalu Nofa Setiawan Putra, program partisipatif ini difokuskan dari hulu hingga hilir.

"Fase satu ini sebenarnya kami fokuskan di budidaya, dan ternyata dari budidayanya sudah menunjukkan keberhasilan dan bahkan sudah ada pengolahan hasil," ungkap Lalu Nofa Setiawan Putra.

Adsense

Hasilnya nyata. Jika sebelumnya hasil panen rata-rata hanya berkisar 400 hingga 500 kilogram, kini melejit hingga 1,2 ton.

Baca juga : Dari Perut Bumi ke Nilai Tambah: Hilirisasi Nikel dan Asa Ekonomi Hijau Pomalaa

Para petani kini mampu mengolah produk secara mandiri, bahkan cokelat olahan khas Desa Bende sukses menembus panggung pameran nasional.

Diolah Rakyat Merdeka

Menghidupkan Kembali Kesuburan dan Ekonomi Sirkular

Semangat kebangkitan ini tidak berhenti di perkebunan kakao. Masih dalam rangkaian kunjungan hari kedua, napas pemberdayaan PT Vale Indonesia Tbk di Kolaka juga merambah sektor pertanian organik dan pengelolaan sampah yang terintegrasi.

Di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Indah Susanti (43) merasakan betul sentuhan program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) di bawah pendampingan Aliksa Organik SRI Consultant.

Dari pekarangan belakang rumahnya yang sempat mati, ia kini meraup jutaan rupiah per bulan dari sayuran organik dan seledri, serta sukses melangkah ke Jakarta untuk mengikuti berbagai ajang pameran nasional.

Perkembangan sektor pertanian organik ini turut mendapat apresiasi tinggi dari pemerintah setempat.

Camat Baula, Syahrial Darmawan, mengenang bagaimana PT Vale menginisiasi pengembangan beras organik di wilayahnya sejak tahun 2022 di Desa Puubunga dan Puro, yang kini telah berkembang pesat lewat Asosiasi Petani Organik Kabupaten Kolaka (Aspok).

"Alhamdulillah, berselang 4 tahun ini kita sudah bisa lihat perkembangannya Bagaimana potensi beras organik ini semakin berkembang dan juga bisa meningkatkan pendapatan ekonomi dari petani organik itu sendiri," ungkap Syahrial Darmawan.

Ia menambahkan bahwa program ini sangat membantu karena beras organik yang dulunya sangat langka di Kolaka, kini mudah diakses, meski permintaan pasar yang besar masih menyisakan tantangan untuk terus meningkatkan produktivitas stok.

Dukungan serupa dirasakan oleh pengurus Asosiasi Petani Organik Kabupaten Kolaka Indah Susanti penuh haru:

Baca juga : Program PPM PT Vale Perkuat Ekonomi Lokal Berkelanjutan

"Alhamdulillah, saya sangat-sangat bersyukur karena adanya Vale. Dari saya yang tidak berdaya, sekarang untuk lapangan pekerjaan suami dan anak saya, saya ciptakan sendiri di rumah saya."

Refleksi mendalam turut disampaikan oleh pendiri Aliksa Organik, Alik Sutaryat: "Produktivitas digandengkan dengan kelestarian, digandengkan dengan kemandirian. Sehingga, teman-teman menilai ini alamiah, ilmiah, dan ilahiah."

Tidak kalah menarik, denyut ekonomi sirkular turut dihidupkan melalui inovasi pengelolaan sampah digital bernama Nampah di Rumah Produksi Bank Sampah Induk (BSI) Sabilambo, Kolaka.

Bermula dari keresahan tumpukan sampah yang tak pernah usai, anak-anak muda setempat didukung PT Vale menghadirkan aplikasi penjemputan sampah serta mesin pres hidrolik berkapasitas besar.

Direktur Rumah Produksi BSI, Haerullah, menyebutkan bahwa kehadiran mesin pres memangkas biaya logistik pengiriman, sehingga ribuan ton plastik daur ulang kini bisa dikirim secara rutin ke luar daerah dengan perolehan omzet bersih yang signifikan.

Selain itu, fasilitas ini membuka lapangan kerja baru bagi belasan perempuan setempat yang mengandalkan pemilahan sampah sebagai sumber penghidupan harian.

Harmoni Industri dan Kesejahteraan Masyarakat

Di tengah geliat hilirisasi nikel di Bumi Mekongga melalui proyek Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa, kolaborasi antara PT Vale Indonesia Tbk, pemerintah desa, dan masyarakat di Kolaka membuktikan satu hal penting: nilai tambah tidak selalu harus digali dari dalam perut bumi.

Dari kebun kakao di Desa Bende yang bangkit dari hancurnya serangan hama, hamparan padi organik di Baula, pekarangan organik di Puuroda, hingga bank sampah digital di Sabilambo, terbukti bahwa sektor industri dan pemberdayaan masyarakat akar rumput dapat berjalan berdampingan.

Sektor pertanian, lingkungan, dan ekonomi sirkular kini bersatu merajut masa depan yang berkelanjutan bagi masyarakat Kolaka. Fazry

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense