Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dari "Bukan Siapa-Siapa" Menjadi Maestro Organik: Asa Baru Hijau di Tanah Puuroda
Jumat, 30 Oktober 2026 22:30 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dulu, hari-hari Indah Susanti di Desa Puuroda, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, kerap diwarnai amarah dan kecemasan menghadapi piring makan yang tak selalu berisi lauk.
Kini, dari pekarangan rumahnya, ia mampu menghasilkan jutaan rupiah, membuka lapangan pekerjaan bagi keluarga, hingga tiga kali menginjakkan kaki di Jakarta berkat pertanian organik.
"Sebelum saya mengenal pertanian organik, saya itu bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa."
Indah Susanti menunjukkan produk beras organik Mekora hasil pengembangan pertanian organik di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Melalui pendampingan program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) PT Vale Indonesia, Indah berhasil mengembangkan usaha pertanian yang kini menjadi sumber penghidupan keluarganya. (27/10/2026). (Foto: Fazry/Rakyat Merdeka)
Kalimat itu meluncur lugas dari bibir Indah Susanti (43), warga Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Bagi Indah, kalimat tersebut bukan sekadar ungkapan.
Ia menggambarkan perjalanan hidup yang pernah dipenuhi keterbatasan. Dulu, kebun di belakang rumahnya tidak produktif. Kebutuhan keluarga kerap sulit terpenuhi, sementara biaya pendidikan anak, termasuk uang kuliah, menjadi beban tersendiri.
Kondisi itu membuat Indah mudah frustrasi. Ia bahkan mengaku kerap meluapkan amarah dan merasa terasing karena tidak memiliki banyak teman untuk berbagi cerita.
Namun, keadaan perlahan berubah ketika Indah mengenal pertanian organik melalui program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB).
Program ini merupakan bagian dari Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia Tbk-Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa.
Dari kebun yang semula tidak produktif, Indah mulai membangun sumber penghidupan baru. Perjalanan itu tidak selalu mudah. Ada masa ketika ia hampir menyerah sebelum akhirnya menemukan hasil dari ketekunannya.
Menghadapi Masa Sulit di Awal
Peralihan Keputusan Indah beralih ke pertanian organik tidak terjadi dalam semalam.
Baca juga : Dari Perut Bumi ke Nilai Tambah: Hilirisasi Nikel dan Asa Ekonomi Hijau Pomalaa
Senior Manager Social Development Program PT Vale Indonesia, Lalu Nofa Setiawan Putra, menjelaskan bahwa inisiatif yang dimulai pada 2021 tersebut berangkat dari asesmen terhadap kondisi petani setempat.
"Hampir semua petani saat itu menggunakan metode konvensional. Hasil produksi kian menurun, sarana produksi langka dan mahal, modal minim, hingga akhirnya petani terus-menerus merugi tanpa putus," ungkap Lalu Nofa, yang akrab disapa El, di Desa Puuroda, Selasa (27/10/2026).
Program tersebut dirancang untuk membantu petani keluar dari ketergantungan pada sarana produksi pertanian yang mahal, sekaligus membangun kemandirian melalui pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Bagi Indah, tantangan paling berat justru muncul pada tiga bulan pertama peralihan. Lahan yang selama bertahun-tahun menggunakan pupuk kimia mengalami penurunan kondisi ketika pola pemupukan diubah. Tanaman sayuran menguning dan layu.
Situasi itu sempat menguji keteguhan hatinya. Namun, melalui pendampingan intensif, Indah terus belajar mengelola tanah dan memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman dengan bahan-bahan organik.
Perlahan, kondisi lahan membaik. Tanaman kembali tumbuh dan kebun yang sebelumnya tidak produktif mulai memberikan hasil. Kini, kebun sayurnya menghasilkan pendapatan sekitar Rp5 juta per bulan.
Dari tanaman seledri di pekarangan, ia memperoleh pemasukan sekitar Rp100.000 per hari. Sementara itu, panen sawah memberikan tambahan pendapatan sekitar Rp12 juta setiap kali panen.
Perubahan tersebut turut meningkatkan kesejahteraan keluarganya. Indah menyebut kondisi ekonomi rumah tangganya kini jauh lebih baik dibandingkan sebelum mengenal pertanian organik.
Senior Manager Social Development Program PT Vale Indonesia, Lalu Nofa Setiawan Putra, menjelaskan pelaksanaan program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) yang dimulai sejak 2021. Program ini bertujuan mendorong kemandirian petani melalui penerapan pertanian organik dan pengelolaan lahan berkelanjutan. (27/10/2026). (Foto: Fazry/Rakyat Merdeka)
Mengubah Limbah Menjadi Sumber Kehidupan
Keberhasilan Indah tidak hanya bertumpu pada hasil panen. Ia juga mengembangkan pengelolaan sampah organik sebagai bagian dari praktik pertanian yang dijalankannya.
Di rumahnya, Indah membangun tempat pengolahan kompos yang ia sebut sebagai "istana kompos".
Baca juga : Program PPM PT Vale Perkuat Ekonomi Lokal Berkelanjutan
Berbagai bahan organik yang tersedia di sekitar rumah dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanah. Batang pohon pisang, misalnya, tidak lagi dibuang begitu saja setelah tanaman selesai berproduksi.
Batang tersebut diolah menjadi kompos untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Praktik ini membuat siklus pertanian menjadi lebih efisien.
Bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat kembali dimanfaatkan, sementara ketergantungan terhadap pupuk dari luar dapat ditekan.
Dari kebun sayur, sawah, hingga rumah kompos, Indah membangun kegiatan produktif yang melibatkan anggota keluarganya.
Bahkan, ia mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi suami dan anak-anaknya. Perubahan itu juga membuka pengalaman baru yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.
Indah kini beberapa kali mendapat kesempatan menghadiri kegiatan di Jakarta untuk berbagi pengalaman mengenai pertanian organik.
"Alhamdulillah, saya sangat-sangat bersyukur karena adanya PT Vale. Dulu saya tidak pernah mimpi. Tapi karena organik ini saya bisa terbang ke Jakarta, sekarang sudah tiga kali ke Jakarta untuk ikut event," tuturnya.
Dengan mata berbinar, Indah juga menyampaikan apresiasi kepada pihak-pihak yang mendampinginya selama menjalankan program tersebut.
"Terima kasih kepada Pak El (Lalu Nofa Setiawan Putra, Senior Manager Social Development Program Vale Indonesia). Terima kasih kepada pendampingan Pak Ali (Ir. Alik Sutaryat, Pendiri Aliksa Organik SRI Consultant), karena dari saya yang bukan siapa-siapa, dari saya yang tidak berdaya, sekarang untuk lapangan pekerjaan suami dan anak saya, saya ciptakan sendiri di rumah saya."
Camat Baula Syahrial Darmawan memberikan keterangan mengenai perkembangan pertanian organik di Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Kolaborasi pemerintah daerah, PT Vale Indonesia, dan Asosiasi Petani Organik Kabupaten Kolaka turut mendorong peningkatan produksi serta pendapatan petani. (27/10/2026).
Dari Puuroda untuk Kemandirian Petani
Perubahan yang dialami Indah menjadi salah satu gambaran perkembangan pertanian organik di Kecamatan Baula.
Baca juga : Vale Ajak Mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta Pahami Tambang Berkelanjutan
Program tersebut tidak hanya menyasar peningkatan hasil produksi, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem pertanian yang melibatkan petani, pendamping, perusahaan, dan pemerintah daerah.
Camat Baula, Syahrial Darmawan, mengatakan, kolaborasi PT Vale Indonesia dengan Asosiasi Petani Organik Kabupaten Kolaka (Aspok) turut mendorong perkembangan pertanian organik di wilayahnya.
"Alhamdulillah, berselang empat tahun, kita bisa melihat potensi beras organik semakin berkembang dan mendongkrak pendapatan ekonomi melalui Asosiasi Petani Organik Kabupaten Kolaka," ujar Syahrial.
Ia berharap pasokan dan akses pasar beras organik terus diperluas untuk memenuhi permintaan konsumen yang semakin berkembang.
Sementara itu, Ir. Alik Sutaryat menekankan bahwa pertanian organik tidak semata-mata berbicara tentang produktivitas. Ada nilai keberlanjutan, kemandirian, kesehatan, dan kearifan lokal yang perlu berjalan beriringan.
"Produktivitas digandengkan dengan kelestarian, digandengkan dengan kemandirian, digandengkan dengan kearifan, digandengkan dengan kesehatan dan keberlanjutan. Ternyata nyata, ketika kita bersama-sama mengelola alam dengan sunnatullah, rahmatan lil 'alamin, dan selaras dengan alam. Sehingga, teman-teman menilai ini alamiah, ilmiah, dan ilahiah," pungkas Alik.
Perjalanan Indah di Puuroda memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia berawal dari sebidang tanah di belakang rumah, batang pisang yang diolah menjadi kompos, dan keberanian untuk mencoba cara baru.
Dari tanah yang dahulu tak lagi produktif, Indah kini menumbuhkan lebih dari sekadar sayuran. Ia membangun penghidupan, membuka kesempatan kerja bagi keluarga, sekaligus menemukan kembali kepercayaan dirinya.
Di Puuroda, pertanian organik bukan hanya tentang bagaimana tanaman tumbuh tanpa bergantung pada bahan kimia. Bagi Indah, pertanian itu telah menjadi jalan untuk mengubah kehidupan.
Diolah Rakyat Merdeka
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya