RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Ad Interim Erick Thohir menegaskan, pemerintah Indonesia tak main-main dengan segala hal yang mengancam hutan seperti perubahan iklim, illegal logging, kebakaran hutan, dan deforestasi. Berbagai upaya telah dilakukan secara maksimal, untuk menjaga kelestarian hutan.
Terbukti, saat ini, titik api telah berkurang secara signifikan hingga 82 persen. Dari 1,6 juta hektar pada tahun 2019 menjadi 296 ribu hektar pada tahun 2020.
Laju deforestasi hutan di Indonesia, juga terus mengalami penurunan, dari angka 3,51 juta hektar pada 1996-2000 menjadi 1,09 juta hektar pada 2014-2015. Lalu menciut lagi ke angka 470 ribu hektar pada 2018-2019.
“Deforestasi hutan di Indonesia dalam periode 2019-2022 turun 75 persen, menjadi 104 ribu hektar. Terendah sejak tahun 1990,” kata Erick dalam acara COP28 di Paviliun Indonesia di Expo City, Dubai, Uni Emirat Arab, Kamis (30/11/2023).
Baca juga : Menteri Siti Beberkan Prestasi RI Turunkan Emisi Karbon Hingga 42,1 Persen
Dalam kesempatan tersebut, Erick juga memaparkan keberhasilan Indonesia dalam program perhutanan sosial. Program yang ditujukan untuk menurunkan angka kemiskinan dan menjadi solusi konflik kepemilikan lahan, memberikan akses kepada masyarakat lokal untuk mengoptimalkan potensi hutan dengan target 12,7 juta hektar hingga 2024.
Tahun 2022, potensi hutan seluas 6,3 juta hektar telah digali oleh sedikitnya 1,2 juta rumah tangga, dan mampu menghasilkan 120 juta dolar Amerika Serikat (AS).
Yang juga membanggakan, Indonesia telah melakukan program rehabilitasi hutan secara ekstensif. Sekitar 3 juta lahan yang telah terkikis, berhasil dipulihkan dalam 10 tahun terakhir. Tahun 2024, pemerintah Indonesia berencana merehabilitasi lahan mangrove seluas 600 ribu hektar. Sejak 2016, Indonesia juga telah berhasil merestorasi 1,6 juta lahan gambut .
"Kami telah menanam lebih dari 270 juta mangrove di seluruh provinsi di Indonesia," ucap Erick.
Baca juga : Raih Sertifikat Green Label Indonesia, Niro Granite Genjot Inovasi Produk
Kesuksesan Indonesia dalam menekan emisi karbon melalui sektor pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan (FOLU), memiliki dampak signifikan untuk menekan laju emisi gas rumah kaca.
Namun, Indonesia sadar, tak bisa sendirian dalam menjaga keseimbangan alam. Karena sejatinya, kegagalan satu bangsa, tak ada bedanya dengan kegagalan dunia.
"Indonesia memandang penting kerja sama dengan negara-negara pemilik hutan tropis besar lainnya, seperti Brazil dan Kongo. Melalui kerja sama, kita memiliki kesempatan lebih untuk saling bertukar pandangan soal kebijakan, pengetahuan teknis, dan solusi terhadap berbagai masalah hutan dan perubahan iklim," papar Erick.
Indonesia, Brazil, dan Kongo telah kokoh menjalin kerja sama hutan dan iklim. Kerja sama ini ditujukan untuk memperkuat pengaruh negara-negara pemilik hutan dalam area negosiasi iklim, biodiversity, dan isu terkait lainnya.
Baca juga : PT Frisian Flag Indonesia Komit Jalankan Bisnis Berkelanjutan
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.