BREAKING NEWS
 

Kunci Jaga Keamanan Privasi Digital: Pahami Konsep Rekam Jejak dan Kelola dengan Bijak

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 15 Oktober 2024 13:21 WIB
Flyer webinar Literasi Digital untuk segmen pendidikan, yang digelar Kemkominfo bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Selasa (15/10/2024). (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Era teknologi digital membuat hampir seluruh aktivitas kehidupan selalu terhubung dengan internet. Namun, tidak semua pengguna menyadari, aktivitas tersebut akan meninggalkan rekam jejak digital yang perlu diwaspadai. Memahami konsep rekam jejak digital dan mengelolanya dengan bijak adalah kunci untuk menjaga keamanan dan privasi kita di dunia digital.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pesisir Selatan, Salim Muhaimin, saat menjadi narasumber dalam webinar Literasi Digital untuk segmen pendidikan, yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, di Kabupaten Pesisir Selatan, Selasa (15/10/2024).

Dalam diskusi online bertajuk ”Waspada Rekam Jejak Digital di Internet”, Salim mengatakan, aktivitas di internet, media sosial, dan perangkat digital, membentuk jejak digital yang terekam secara permanen. Jejak digital dapat mengungkap informasi pribadi dan kebiasaan seseorang yang dapat disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.

Rekam jejak digital dapat memengaruhi masa depan kita, seperti pekerjaan, reputasi dan hubungan sosial. Memahami dan mengelola rekam jejak digital secara bijak merupakan tantangan yang harus dihadapi di era digital ini,” jelas Salim, dalam diskusi virtual yang dipandu moderator Yoga itu.

Baca juga : Terapkan Transformasi Digital, Jasa Raharja Jamin Pembayaran Klaim Lebih Cepat

Rekam jejak digital yang merupakan kumpulan data dan informasi yang dihasilkan dari aktivitas di dunia digital. Salim menerangkan, rekam jejak digital bisa berasal dari e-mail yang dikirimkan, postingan di media sosial, riwayat pencarian di web, transaksi belanja online, dan lainnya.

Risiko jejak digital yang perlu diwaspadai, yaitu penyalahgunaan data informasi pribadi oleh orang tidak bertanggung jawab, reputasi digital tentang diri, hingga serangan siber. "Rekam jejak digital dapat menjadi target dari peretas, hacker, dan pihak yang berniat jahat untuk mendapatkan akses ke informasi sensitif,” terang Salim, di hadapan siswa yang mengikuti acara diskusi dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.

Adsense

Sekolah yang menggelar nobar diskusi online di Kabupaten Pesisir Selatan kali ini, yakni: SMPN 3 Painan, SMPN 1 Tarusan, SMPN 2 dan SMPN 3 Jurai, SMP Arrisalah 2 Airpura, SMPN 4 Bayang, SMPN 9 Koto Tarusan, SMPN 2 dan SMPN 3 Batang Kapas, SMP IT Rabbani, SMPN 1, SMPN 7 dan SMPN 8 Sutera, SMPN 2 Lunang, dan SMPN 2 Ranah Ampek.

Senada, praktisi dan konsultan IT Mahir Institut Partner, Ardiansyah, menegaskan bahwa rekam jejak digital di internet bisa berupa data pribadi (nama, alamat, nomor telepon), aktivitas online (riwayat pencarian, laman yang didatangi, klik, pembelian), informasi akun (username, password) maupun dari konten yang dibagikan (foto, video, postingan, komentar).

Baca juga : KPK Dalami Kasus Pengadaan X-Ray

”Dampak positif rekam jejak digital, di antaranya: personalisasi layanan, rekomendasi produk, kemudahan akses informasi, dan reputasi baik. Sedangkan dampak negatifnya: risiko privasi (data bocor), penipuan dan phising, profiling dan iklan yang tidak diinginkan, serta reputasi jelek,” jelas Ardiansyah.

Sementara, menurut CEO PT Elok Prima Asia, Erlan Primansyah, salah satu rekam jejak digital negatif yang harus dihindari pengguna ialah turut membuat dan menyebarkan berita palsu (hoaks). Ciri hoaks, biasanya berupa pesan berantai dan berulang-ulang dikirimkan, mengaku dari institusi resmi, dan meminta untuk disebarkan.

”Bila menerima berita berciri hoaks, lakukan kroscek sesuai isi berita. Kroscek ke situs web resmi, kroscek ke orang yang berkompeten, menghapus, dan tidak ikut menyebarkannya,” rinci Erlan Primansyah.

Untuk diketahui, nobar webinar seperti digelar di Kabupaten Pesisir Selatan ini merupakan bagian dari program Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD). GNLD digelar sebagai salah satu upaya untuk mempercepat transformasi digital di sektor pendidikan hingga kelompok masyarakat menuju Indonesia yang #MakinCakapDigital.

Baca juga : Perkuat Ketahanan Pangan, Pengamat Sarankan Kepala Bapanas Diganti

Sejak dimulai pada 2017, sampai dengan akhir 2023, program ini tercatat telah diikuti 24,6 juta orang. Kegiatan ini diharapkan mampu menaikkan tingkat literasi digital 50 juta masyarakat Indonesia hingga akhir 2024.

Kecakapan digital menjadi penting. Karena, menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta jiwa dari total populasi 278,7 juta jiwa penduduk Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense