BREAKING NEWS
 

Wamenkes: Pneumonia Renggut Nyawa Anak Indonesia Setiap 43 Detik

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Senin, 18 November 2024 19:50 WIB
Wamenkes Prof. Dante Saksono Harbuwono (Foto: dok. Kemenkes)

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono mengingatkan para orang tua tentang bahaya pneumonia pada anak-anak.

Pneumonia seringkali dicap sebagai pembunuh senyap karena menyerang paru-paru dan melelahkan napas. Bahkan dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak.

“Pneumonia terus menjadi ancaman serius bagi anak-anak di dunia. Kematian akibat pneumonia terjadi setiap 43 detik. Ini berarti 700 ribu anak meninggal setiap tahunnya karena pneumonia, sebuah penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” ucap Prof. Dante pada Puncak Hari Pneumonia Sedunia di Kantor Kemenkes, Jakarta, Senin (18/11/2024).

Pneumonia merupakan peradangan paru-paru akibat infeksi akut pada saluran pernapasan, yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau jamur.

Pada balita, gejala yang paling dominan atau sering muncul adalah batuk, kesulitan bernapas. Terdapat tanda pneumonia berat seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam, saat bernapas.

Baca juga : Malam Ini Lawan Jepang, Timnas Indonesia Kudu Punya Mental Pemenang

Penyebab pneumonia paling berpengaruh lainnya adalah paparan asap rokok. Kepada orang tua yang masih merokok di rumahnya, Prof. Dante mengingatkan, rokok tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bisa melemahkan kondisi paru-paru anaknya.

"Data statistik menunjukkan, anak-anak yang orang tuanya perokok, lebih gampang terkena pneumonia dibanding anak-anak yang orang tuanya tidak merokok,” papar Prof. Dante.

Sementara itu, Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan dr. Yudhi Pramono, MARS mengatakan, pneumonia merupakan salah satu penyakit yang menyebabkan kematian terbesar pada balita di Indonesia.

Adsense

Data WHO tahun 2021 menunjukkan, pneumonia menyebabkan 740 ribu kematian pada anak di bawah usia 5 tahun, atau setara dengan 14 persen dari total kematian balita di seluruh dunia.

“Ini menunjukkan bahwa pneumonia adalah ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak,” tutur dr. Yudhi.

Baca juga : China Bungkam Bahrain, Timnas Indonesia Terancam

Mengacu data BPJS Kesehatan tahun 2023, pneumonia menempati peringkat pertama penyakit dengan biaya pengobatan tertinggi sebesar Rp 8,7 triliun. Diikuti tuberculosis (TB), penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, dan kanker paru.

Pemerintah Indonesia berkomitmen mendukung tujuan SDGs, yaitu memastikan kehidupan sehat dan kesejahteraan bagi semua usia.

Untuk itu, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian balita akibat pneumonia, serta pengurangan insiden pneumonia pada balita hingga 70% secara nasional.

Hari Pneumonia Sedunia, yang diperingati setiap tanggal 12 November, menjadi momentum penting untuk melindungi anak-anak dari pneumonia dan melawan pneumonia pada anak.

Sebagai bagian dari transformasi kesehatan, khususnya pada layanan kesehatan primer, pemerintah terus berupaya mencegah terjadinya pneumonia pada anak-anak melalui berbagai langkah.

Baca juga : Kinerja Perekonomian Indonesia Masih Solid

Hal itu dilakukan dengan upaya pencegahan dengan vaksinasi dan menjaga lingkungan tetap sehat.

Namun, imunisasi hanyalah salah satu bagian kecil dari upaya mengatasi pneumonia. Upaya lain yang harus ditempuh adalah memenuhi kualitas gizi pada anak-anak, supaya kekebalan tubuhnya meningkat. Antara lain, dengan memberikan ASI eksklusif dan menyediakan nutrisi yang baik bagi tumbuh kembang anak-anak.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense